sumut24.co -BATUBARA,
Sampah plastik, kaleng, dan kardus bekas tidak lagi menjadi limbah yang dibuang begitu saja. Di Kabupaten Batubara, Sumatera Utara, sampah tersebut disulap menjadi sumber bantuan pendidikan bagi anak yatim melalui program "
Sedekah Sampah Bantu Anak Yatim Sekolah" yang melibatkan ratusan siswa.
Baca Juga:
Program inovatif diinisiasi Bank
Sampah Berseri, kelompok binaan PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau
Inalum, bekerja sama dengan Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Al Mukhlisin di Desa Kuala Tanjung, Kecamatan Sei Suka, Kabupaten Batubara.Sebanyak 248 siswa berpartisipasi mengumpulkan sampah anorganik yang hasil penjualanny dimanfaatkan untuk membantu memenuhi kebutuhan pendidikan 12 siswa yatim dari keluarga kurang mampu.
Sesuai rencana, bantuan yang diberikan berupa perlengkapan sekolah, seperti tas dan seragam, sehingga sampah yang selama ini dianggap tidak bernilai dapat memberikan manfaat nyata bagi pendidikan anak-anak.Kepala Departemen
Pemberdayaan Masyarakat Inalum, Ali Hasian, mengapresiasi inisiatif Bank
Sampah Berseri yang mampu menggabungkan kepedulian terhadap lingkungan dengan aksi sosial di lingkungan sekolah.
Menurutnya, program itu menjadi contoh bahwa kebiasaan sederhana, seperti memilah dan mengumpulkan sampah, dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat."Kami mengapresiasi inisiatif
Sedekah Sampah yang dikembangkan Bank
Sampah Berseri. Program ini merupakan langkah sederhana namun memiliki dampak positif karena mengajarkan anak-anak bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat berjalan beriringan dengan kepedulian sosial.
Sampah yang selama ini dianggap tidak bernilai ternyata dapat dimanfaatkan untuk membantu kebutuhan pendidikan anak-anak yatim dan kurang mampu. Kami berharap ini terus berkembang dan menginspirasi masyarakat untuk membangun kebiasaan memilah sampah sekaligus berbagi kepada sesama,"kata Ali.
Program
Sedekah Sampah melibatkan 248 siswa dari total 406 siswa MIS Al Mukhlisin. Para peserta berasal dari sembilan kelas, mulai dari tingkat kelas 3 hingga kelas 6.Dalam pelaksanaannya, siswa mengumpulkan berbagai jenis sampah anorganik, seperti botol plastik, kaleng, dan kardus bekas melalui tempat penampungan yang disediakan di setiap kelas.
Petugas Bank
Sampah Berseri kemudian melakukan penimbangan sampah setiap Rabu dan Sabtu. Setelah terkumpul, sampah dibawa ke bank sampah untuk dipilah dan dijual sehingga menghasilkan nilai ekonomi."Pengumpulan sampah ditargetkan mencapai 35 kilogram setiap bulan. Hasil penjualannya akan digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan perlengkapan sekolah bagi siswa yatim di MIS Al Mukhlisin,"jelasnya.
Ali menyebut, bagi
Inalum, pengembangan kelompok binaan merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung pemberdayaan masyarakat. Hal itu diarahkan untuk mendorong kepedulian lingkungan, memperkuat kemandirian ekonomi, serta menciptakan manfaat sosial yang berkelanjutan."Kita harapkan ini menjadi inspirasi bagi sekolah dan komunitas lainnya untuk mengembangkan gerakan serupa. kebiasaan memilah sampah yang ang sebelumnya dianggap tidak bernilai dapat diubah menjadi sumber daya yang memberikan manfaat ekonomi sekaligus membantu sesama,"tutupnya.
Pembina Bank
Sampah Berseri, Dedi Syahputra menjelaskan, program yang direalisasikan tidak hanya bertujuan mengurangi sampah, tetapi juga membangun karakter anak agar memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan sesama sejak dini."
Sedekah sampah ini harapannya untuk menumbuhkan kesadaran anak-anak bahwa sedekah itu tidak harus uang. Mereka bisa membantu sesama kawannya dan bertanggung jawab dengan sampahnya," ujar Dedi.
Menurutnya, beda dengan mekanisme bank sampah pada umumnya yang mencatat hasil penyetoran sebagai tabungan individu, sampah yang dikumpulkan melalui program ini dihimpun sebagai bentuk sedekah bersama."Manfaat ekonomi dari sampah tersebut dapat disalurkan untuk membantu teman-teman mereka yang membutuhkan dukungan pendidikan,"ungkap Dedi.
Kepala MIS Al Mukhlisin, Devi Apriani, menyambut positif program yang dinilai memberikan pengalaman belajar langsung kepada siswa tentang pentingnya berbagi dan gotong royong.Ia menyebut, kegiatan tersebut membuktikan kepedulian terhadap sesama dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana yang dilakukan secara bersama-sama.
"Berapapun yang kami dapat dari bank sampah, nanti juga kami belikan tas sekolah atau sepatu, yang bermanfaat untuk anak-anak itu,"kata Devi.Bank
Sampah Berseri merupakan salah satu kelompok binaan
Inalum yang mengembangkan pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui pendekatan ekonomi sirkular.
Dalam menjalankan kegiatan, kelompok ini tidak hanya berfokus pada pengumpulan dan penjualan sampah anorganik. Bank
Sampah Berseri juga mengembangkan berbagai aktivitas produktif yang memiliki nilai ekonomi, seperti budidaya tanaman hidroponik, peternakan ayam petelur, budidaya maggot, dan perikanan.Berbagai kegiatan tersebut dikembangkan sebagai bagian dari upaya menciptakan sistem pemberdayaan masyarakat yang saling terhubung, produktif, dan berkelanjutan.
Sebelumnya, Bupati Batubara Dr H. Baharuddin Siagian yang sempat meninjau lokasi pengelolaan Bank
Sampah Berseri, mengapresiasi kegigihan Dedi Syahputra.Ia menilai sistem yang dikembangkan Bank
Sampah Berseri sebagai inovasi menarik karena mampu mengintegrasikan pengelolaan lingkungan dengan berbagai kegiatan ekonomi produktif.
Tidak hanya mendorong pengurangan sampah dan meningkatkan nilai ekonomi limbah, kelompok ini juga menghadirkan manfaat sosial melalui dukungan terhadap pendidikan anak yatim.(Jo)
Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di
Google News