sumut24.co -BATUBARA,
PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau
Inalum mendapat amunisi baru untuk ekspansi bisnis aluminium.
Baca Juga:
Perusahaan memperoleh peringkat kredit internasional BBB, dengan outlook stabil dari S&P Global Ratings, yang sekaligus menempatkan
Inalum pada level Investment grade di pasar internasional.Peringkat itu menjadi sinyal bagi
Inalum yang tengah memasuki fase ekspansi besar-besaran.
Pasalnya, perusahaan sedang menyiapkan kebutuhan pendanaan untuk membiayai sejumlah proyek hilirisasi aluminium pada periode 2026-2029.Dalam laporan yang diterbitkan 7 September 2026, S&P Global Ratings menilai posisi strategis
Inalum dalam Grup MIND ID serta kuatnya dukungan pemerintah melalui induk usaha tersebut menjadi faktor utama yang menopang profil kredit perseroan.
S&P juga menilai
Inalum memiliki peran strategis dalam membangun rantai nilai aluminium nasional, terutama melalui hilirisasi bauksit dan pengembangan kapasitas produksi aluminium dalam negeri.Kenaikan itu datang ketika
Inalum membutuhkan ruang pendanaan besar untuk pembiayaan ekspansi.
Selain itu, penguatan profil kredit
Inalum juga terjadi di pasar domestik. Sehingga pada Agustus 2026, PEFINDO menaikkan peringkat
Inalum dari idAA-/Stable menjadi idAA/Stable, setelah perseroan mempertahankan peringkat idAA-/Stable selama tiga tahun.Bukan hanya dukungan pemerintah dan posisi strategis yang menjadi pertimbangan S&P. Struktur biaya operasional
Inalum juga menjadi kekuatan utama perusahaan.
S&P mencatat
Inalum mampu beroperasi pada kurtil pertama kurva biaya global di 2026, atau berada di antara produsen dengan struktur biaya yang relatif kompetitif dibandingkan rata-rata industri.Keunggulan tersebut ditopang pasokan energi hidro yang stabil serta integrasi bahan baku domestik.
Faktor ini penting bagi produsen aluminium yang sensitif terhadap pergerakan harga komoditas.Biaya produksi yang kompetitif memberikan bantalan ketika harga aluminium mengalami tekanan sekaligus membuka ruang bagi perusahaan untuk menikmati margin lebih baik ketika harga menguat.
Pemanfaatan pembangkit listrik tenaga air juga memberi keuntungan lain. Selain menekan emisi karbon, sumber energi tersebut membantu menjaga efisiensi biaya produksi smelter aluminium
Inalum.
Inalum saat ini mengoperasikan smelter aluminium primer dengan kapasitas sekitar 275 ton per tahun.
Ketergantungan terhadap impor bahan baku alumina juga mulai ditekan melalui PT Borneo Alumina Indonesia (BAI), perusahaan yang mayoritas sahamnya dimiliki
Inalum.BAI mengoperasikan Smelter -Grade Alumina Refinery 1 (SGAR 1) di Mempawah, Kalimantan Barat, dengan kapasitas sekitar 1 juta ton alumina per tahun.
Langkah ini membuat rantai produksi aluminium
Inalum semakin terintegrasi, dari bahan baku hingga produk aluminium primer.Skala bisnis tersebut segera berubah jika proyek ekspansi berjalan sesuai rencana.
Selain itu,
Inalum tengah mengembangkan SGAR 2 dan Smelter Aluminium 2 (Smelter 2) dengan rancangan 1 juta ton per tahun yang merupakan bagian dari Proyek Strategis Nasional.Kapasitas produksi alumina
Inalum melalui fasilitas SGAR akan meningkat menjadi sekitar dua kali lipat dari kapasitas yang ada saat ini.
Sementara itu, Smelter 2 dirancang memiliki kapasitas produksi sekitar 600 ton per tahun, sehingga produksi aluminium primer
Inalum meningkat dari sekitar 275 ribu ton menjadi sekitar 875 ribu ton per tahun.Kapasitas produksi aluminium primer perseroan berpotensi lebih dari tiga kali lipat dibandingkan kapasitas saat ini.
Ekspansi itu membuka peluang peningkatan pendapatan dan EBITDA
Inalum secara signifikan hingga 2030.Investment grade semakin strategis karena ekspansi membutuhkan pendanaan dalam skala besar. Peringkat yang diraih
Inalum saat ini memiliki fondasi kredit yang lebih kuat untuk mengakses pasar pendanaan, baik domestik maupun internasional.
Rating ini juga membuat
Inalum harus membuktikan ekspansi besar tidak mengorbankan neraca kesehatan perusahaan. Outlook stabil dari S&P mencerminkan keberlanjutan kinerja operasional dan arus kas
Inalum, sekaligus konsistensi dukungan MIND ID.Kondisi industri itu juga mendukung dalam satu hingga dua tahun ke depan. Harga aluminium diproyeksikan tetap relatif suportif di tengah ketatnya pasokan global, sementara volume penjualan dari smelter eksisting diperkirakan menjaga pertumbuhan EBITDA.
Direktur Utama
Inalum Melati Sarnita menyebut, status investment grade menjadi pengakuan dan tanggung jawab perusahaan untuk menjaga kinerja secara prudent."Investment grade ini merupakan pengakuan sekaligus tanggung jawab
Inalum untuk terus menjaga kinerja perusahaan secara prudent dan berkelanjutan,"ujar Melati, diterima Sumut24.co, Selasa (15/9/2026).
Melati menjelaskan, ekspansi tidak semata-mata diarahkan untuk mengejar skala produksi, tetapi harus dibangun di atas fundamental operasional, disiplin finansial dan tata kelola yang kuat.
Inalum menargetkan pengembangan SGAR 2 dan Smelter 2 tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga memperkuat kemandirian bahan baku dan daya saing industri aluminium nasional.
"Target proyek-proyek tersebut, untuk
Inalum hingga 2030 mengubah posisi produsen aluminium primer menjadi pemain terintegrasi dari hulu hingga hilir. Investment perusahaan akses pendanaan yang lebih kuat, menjadikan kapasitas produksi, efisiensi, arus kas, dan nilai tambah bagi industri aluminium Indonesia,"jelasnya.(Jo)
Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di
Google News