SULING! Warga Kampung Darek Resah soal Narkoba dan Teror, Kapolres Padangsidimpuan Turun Tangan
SULING! Warga Kampung Darek Resah soal Narkoba dan Teror, Kapolres Padangsidimpuan Turun Tangan
News
Baca Juga:
MEDAN — Sejarah panjang Papua tidak boleh dibaca sekadar sebagai garis linear kesinambungan dari era kolonial menuju tata kelola pemerintahan Indonesia modern. Di balik narasi pembangunan yang digembar-gemborkan selama ini, terjadi pergantian rezim berulang yang tetap melestarikan mekanisme lama: territorialisasi, klasifikasi administratif, perizinan sumber daya (resource licensing), hingga marjinalisasi institusi lokal.
Hal tersebut diungkapkan oleh pengamat sosial politik sekaligus dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Medan, Shohibul Anshor Siregar (Siregar), dalam telaah kritisnya terkait rekonstruksi sosio-historis agraria Papua rentang tahun 1828 hingga 2026.
Menurut Siregar, tesis mengenai "colonial continuity" (kesinambungan kolonial) tidak bisa diasumsikan secara dangkal pada level identitas negara semata, melainkan harus diuji secara ketat pada level mekanisme strukturalnya.
"Literatur tentang politik kehutanan (political forest) secara empiris membuktikan bahwa otoritas negara atas hutan adalah produk historis. Dalam konteks Papua, standardisasi pemerintahan dan rezim sumber daya terbukti menggeser legitimasi serta kontrol dari institusi lokal kepada kekuasaan negara," ujar Siregar di Medan, Senin (7/9).
Urgensi Kasus Papua Barat Daya dan Posisi Subnasional
Dalam kerangka teoretis tersebut, dinamika yang mengitari figur kepemimpinan di Provinsi Papua Barat Daya menjadi objek studi yang sangat krusial. Kehadiran kepemimpinan lokal di wilayah otonom baru (DOB) ini tidak lahir dalam vacuum historis tahun 1828, melainkan muncul setelah dua abad gelombang perubahan rezim. DOB sendiri secara hukum dibentuk dengan mandat konstitusional yang jelas: menjamin pemerataan, kesejahteraan, hak-hak Orang Asli Papua (OAP), dan pelaksanaan otonomi khusus.
Namun, pertanyaan mendasarnya kini bergeser dari sekadar wacana teoretis apakah seorang pemimpin daerah bersikap dekolonial, menuju pertanyaan praksis yang lebih tajam: Apa yang terjadi ketika seorang pemimpin subnasional mencoba menggunakan institusi resmi negara—yang dibentuk oleh sejarah panjang kolonialitas—untuk melawan arus dan mengubah distribusi kapasitas dalam menentukan wilayah, sumber daya, serta masa depan rakyatnya sendiri?
Menguji Klaim Material Lewat Resource–Territory–Authority Atlas
Siregar menegaskan bahwa untuk membuktikan validitas klaim substantif di lapangan—termasuk kritik pedas yang menyebut bahwa "orang Papua hanya numpang"—pendekatan normatif semata tidak akan memadai. Diperlukan sebuah instrumen analitis yang komprehensif, yakni pembangunan Resource–Territory–Authority Atlas (Atlas Sumber Daya, Wilayah, dan Kewenangan) untuk wilayah Papua Barat Daya.
Atlas ini dirancang untuk memetakan dan menghubungkan enam wilayah pembentuk Papua Barat Daya secara holistis:
Kawasan hutan dan wilayah adat (indigenous territories)
Sebaran konsesi pertambangan, perkebunan, dan korporasi ekstraktif
Ekosistem pesisir dan pulau-pulau kecil
Pusat-pusat pertumbuhan ekonomi regional
Alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)
Struktur kewenangan birokrasi pemerintahan
"Melalui instrumen atlas komparatif tersebut, seluruh klaim ketimpangan struktural dan alienasi agraria dapat diuji secara material dan empiris, bukan sekadar berhenti sebagai tafsir teoretis di atas kertas," pungkas Siregar.
Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
SULING! Warga Kampung Darek Resah soal Narkoba dan Teror, Kapolres Padangsidimpuan Turun Tangan
News
Mobil Mewah Tabrakan Beruntun di Jalan Sudirman, 3 Terluka
News
HUT ke67, MPC PP Kota Medan Gelar Turnamen Padel Hadirkan Hadiah Puluhan Juta Rupiah
Kota
Berbagi Masker Disekolah,PT DNS Kebun Nagagar Peduli Kesehatan Peserta Didik
News
Polres Tapsel Ungkap Hasil OSN 2026! 8 Kasus Narkoba dan Sita 21 Kg Ganja Dibongkar
News
UPAYA PENANGGULANGAN TINDAK PIDANA DEFORESTASI DALAM PERSPEKTIF KEBIJAKAN KRIMINAL
Profil
UPAYA PENANGGULANGAN TINDAK PIDANA PENIPUAN DIGITAL DALAM PERSPEKTIF KEBIJAKAN KRIMINAL
Profil
sumut24.co MEDAN, Prof Dr MuryantoAmin S.Sos., M.Si yang juga Rektor Universitas Sumatera Utara (USU) memimpin Ikatan Cendekiawan Muslim se
News
sumut24.co MedanWali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas menegaskan pengurusan Surat Keterangan Ahli Waris gratis. Aparat kewilayahan yang
kota
sumut24.co MedanBantuan biaya pendidikan bagi mahasiswa bukan sekadar bantuan finansial, melainkan bentuk pengembalian uang rakyat kepada
kota