Turnamen Biliar Harimau Sumatera Cup II Dibuka dengan Semarak
Turnamen Biliar Harimau Sumatera Cup II Dibuka dengan Semarak
kota
Baca Juga:
JAKARTA — Di tengah lanskap global yang sarat ketidakpastian, perekonomian Indonesia dinilai masih menunjukkan ketahanan yang relatif solid. Penilaian itu disampaikan Great Institute dalam konferensi pers bertajuk "Melangkah Maju di Tengah Ketidakpastian" yang digelar di Jalan Taman Gunawarman Timur, Jakarta, Sabtu (10/1/2026).
Konferensi pers ini sekaligus menjadi bagian dari pemaparan Economic Outlook 2026 Great Institute, yang menyoroti kondisi ekonomi global, kinerja ekonomi nasional sepanjang 2025, serta proyeksi dan agenda transformasi ekonomi Indonesia pada 2026
Direktur Eksekutif Great Institute, Dr Sudarto, menyebut ekonomi Indonesia dapat dikategorikan sebagai sebuah anomali positif di tengah turbulensi global yang masih berlangsung.
"Ekonomi Indonesia boleh dibilang anomali. Di saat perekonomian dunia masih berada dalam turbulensi dan ketidakpastian, bahkan krisis, Indonesia masih mampu tumbuh sehat di kisaran 5 persen," kata Sudarto.
Ia menguraikan, ketidakpastian global pada 2025–2026 dipicu oleh berlapis faktor geopolitik dan geoekonomi. Mulai dari langkah politik Amerika Serikat di Venezuela, krisis hubungan China–Taiwan, perang Rusia–Ukraina yang belum menunjukkan tanda berakhir, hingga konflik yang secara geografis berada dekat dengan Indonesia, yakni konflik di Laut China Selatan.
"Belum lagi fragmentasi perdagangan global, tren proteksionisme, serta ketidakpastian akibat perubahan iklim dan bencana. Semua itu menciptakan lingkungan global yang tidak kondusif," ujar dia.
Meski demikian, Sudarto menegaskan bahwa Indonesia patut bersyukur karena masih mampu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen. Menurutnya, stabilitas ini tidak datang secara kebetulan, melainkan ditopang oleh permintaan domestik yang relatif kuat serta mulai berjalannya sejumlah program prioritas pemerintah.
"Kami optimistis ke depan Indonesia akan lebih maju. Program-program prioritas pemerintah sudah mulai berjalan dan mulai menimbulkan dampak nyata bagi perekonomian," kata Sudarto.
Salah satu contoh yang disoroti Sudarto adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG). Hingga awal 2026, cakupan penerima MBG disebut telah mencapai sekitar 53,4 juta orang. Program ini dinilai tidak hanya berdampak pada perbaikan gizi, tetapi juga berpotensi menjadi stimulus ekonomi melalui penguatan rantai pasok pangan dan penciptaan lapangan kerja.
Selain itu, Sudarto juga menyinggung penguatan ekonomi kerakyatan melalui Koperasi Desa Merah Putih. Menurutnya, pada 2026 jumlah koperasi tersebut ditargetkan mencapai sekitar 82.000 unit di seluruh Indonesia.
"Koperasi Desa Merah Putih akan memberikan sumbangan signifikan bagi perekonomian rakyat dan nasional. Ini bagian dari upaya memperkuat basis ekonomi dari desa," ujarnya.
Ia menegaskan, kombinasi program perlindungan sosial, penguatan ekonomi desa, dan stabilitas makro menjadi fondasi bagi peningkatan pemerataan ekonomi. "Kami optimistis, tahun ini pemerintah akan kian mampu meningkatkan pemerataan, yang secara langsung menegaskan bahwa ekonomi kerakyatan yang diusung pemerintah semakin nyata," kata Sudarto.
Ketidakpastian Global dan Posisi Indonesia
Dalam paparan yang disampaikan kepada media, Great Institute menjelaskan bahwa dunia pada 2026 diperkirakan masih berada dalam rezim ketidakpastian tinggi. Ketegangan geopolitik, fragmentasi rantai pasok, serta kebijakan moneter ketat di negara-negara maju mendorong dunia usaha bersikap wait and see.
Namun, Indonesia dinilai tetap menjadi salah satu "titik terang" stabilitas di tengah badai global. Proyeksi lembaga internasional seperti IMF, Bank Dunia, ADB, dan OECD masih menempatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia di kisaran 5 persen pada 2026.
Di dalam negeri, konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama pertumbuhan. Sepanjang 2025, konsumsi tumbuh relatif stabil dan memberikan kontribusi lebih dari separuh pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB). Meski demikian, Great Institute mengingatkan adanya pergeseran struktural yang patut diwaspadai, terutama menyusutnya basis kelas menengah.
Peneliti Desk Ekonomi Great Institute, Adrian Nalendra, menyoroti bahwa stabilitas konsumsi agregat saat ini cenderung menutupi persoalan struktural pada kelas menengah. "Basis konsumen kelas menengah yang selama ini menjadi motor belanja diskresioner justru menyusut. Sementara kelompok rentan dan kelas menengah rentan membesar. Mobilitas sosial cenderung macet," kata Adrian.
Menurut Adrian, kondisi ini membuat konsumsi berfungsi sebagai penyangga pertumbuhan, tetapi belum cukup kuat menjadi mesin akselerasi. Tantangan 2026, lanjutnya, adalah mengubah konsumsi rumah tangga dari sekadar shock absorber menjadi penggerak pertumbuhan tanpa mengorbankan stabilitas harga.
Sementara itu, peneliti Great Institute Adamski Pangeran menekankan pentingnya perbaikan iklim investasi. Ia menyebut investasi Indonesia sangat peka terhadap ketidakpastian global sekaligus kepastian eksekusi kebijakan domestik.
"Di tengah kue Penanaman Modal Asing global yang mengecil, agenda terpenting bukan sekadar promosi, tetapi meningkatkan investability melalui kepastian eksekusi, terutama soal tata ruang, perizinan, dan debottlenecking," ujar Adamski.
Adamasky menilai, tanpa reformasi eksekusi kebijakan, investasi akan terus bergerak dengan pola stop and go, sehingga sulit mendorong pertumbuhan ke level yang lebih tinggi.
Agenda Transformasi dan Optimisme 2026
Peneliti Great Institute lainnya, Yossi Martino, menyatakan bahwa 2026 merupakan titik krusial bagi arah pembangunan ekonomi Indonesia. Stabilitas makro yang relatif terjaga perlu dimanfaatkan sebagai pijakan transformasi struktural.
"Pilihan kebijakan pada 2026 akan menentukan apakah Indonesia melanjutkan pola pertumbuhan defensif atau menjadikan stabilitas sebagai landasan transformasi ekonomi yang lebih produktif, berdaya saing, dan berkeadilan," ujar Yossi.
Great Institute memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 5,3–5,6 persen, dengan catatan implementasi program prioritas berjalan efektif dan sinergi kebijakan fiskal–moneter terjaga.
Optimisme ini, menurut para peneliti, bersifat terukur. Indonesia dinilai memiliki fundamental domestik yang cukup kuat, namun tetap menghadapi pekerjaan rumah besar, mulai dari penguatan kelas menengah, penciptaan lapangan kerja berkualitas, hingga kepastian hukum dan tata kelola investasi.
Menutup konferensi pers, Sudarto kembali menegaskan bahwa ketidakpastian global tidak boleh dijadikan alasan untuk bersikap pasif. "Justru di tengah ketidakpastian inilah Indonesia harus berani melangkah maju, dengan kebijakan yang presisi, inklusif, dan berpihak pada ekonomi rakyat," kata dia. Rel
Turnamen Biliar Harimau Sumatera Cup II Dibuka dengan Semarak
kota
Dari Ruang Kelas hingga Air Bersih, Brimob Batalyon A Pelopor Dampingi Warga Tapteng Bangkit
kota
sumut24.co Sergai, UD Hijau Pupuk Sergai (HPS) Group kembali menunjukkan komitmennya dalam memberikan apresiasi kepada para pelanggan setia
News
Great Institute Fondasi Ekonomi Nasional Kuat, Indonesia Siap Melangkah Lebih Jauh
News
Program Mapenaling Rutan Kelas IIB Sidikalang Beri Dampak Positif bagi WBP
kota
Carter 747Oleh Dahlan IskanSabtu 10012026(James Rachman Radjimin (duduk) sewaktu masih sehat)Pun ketika meninggal dunia, James Rachman Ra
News
MEDAN Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Sumatera Utara (Sumut) Sulaiman Harahap, menyambut baik kunjungan PT Taspen C
Umum
Medan, Minat masyarakat Sumatera Utara untuk beralih ke moda transportasi rel terus meningkat, tecermin dari pertumbuhan pelanggan KAI Divre
Info
MEDAN Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Muhammad Bobby Afif Nasution mengajak para penggemar PSMS Medan untuk membeli merchandise resmi di
Sport
Jakarta, Sejalan dengan komitmen mendorong gaya hidup sehat dan berkelanjutan, PT Bank Maybank Indonesia Tbk (Maybank Indonesia atau Ban
Ekbis