Tragis! Becak Motor Tabrakan dengan Bus ALS di Padangsidimpuan, Satu Nyawa Melayang
Tragis! Becak Motor Tabrakan dengan Bus ALS di Padangsidimpuan, Satu Nyawa Melayang
kota
Yogyakarta I Sumut24.CO Adanya sejumlah spanduk liar yang bertebaran bersamaan dengan kedatangan Anies Baswedan ke Yogyakarta, Rabu (16/11/2022) dipastikan bagian dari strategi marketing politik. Hal ini sengaja dilakukan oleh kelompok atau tim dengan tujuan agar Anies Baswedan seperti sedang terzalimi. Strategi ini dianggap masih efektif dalam menarik simpati publik karena berlaku sebagai korban untuk menaikkan elektabilitas.
Baca Juga:
- Tragis! Becak Motor Tabrakan dengan Bus ALS di Padangsidimpuan, Satu Nyawa Melayang
- 22 Paket Sabu Disembunyikan di Rerumputan, Dua Pria di Portibi Berakhir di Tangan Polres Tapanuli Selatan
- Sambut Kenaikan Isa Almasih, Satgas Yonif 123/Rajawali dan Warga Asmat Gotong Royong Bersihkan Gereja di Kampung Binam
Hal ini diungkapkan langsung oleh Presidium Kongres Rakyat Nasional (KoRaN) Sutrisno Pangaribuan. Sebagai antitesis Anies Baswedan, ia menilai pemasangan spanduk liar itu merupakan penghinaan terhadap masyarakat Yogyakarta. Bagaimana mungkin warga dengan dinamika politik paling sejuk di Indonesia, mampu melakukan itu. Maka sesungguhnya, selain upaya terzalimi, pemasangan spanduk itu juga upaya mengusik dan menghina masyarakat Yogyakarta yang terkenal terbuka.
“Sebagai alumni UGM, sangat tidak mungkin Anies Baswedan ditolak warga di kota tempat dia pernah belajar. Kedatangannya ke Medan pekan sebelumnya meskipun disambut dengan cara berlebihan sejak dari bandara oleh pendukungnya pun tidak ada orang marah, apalagi memasang spanduk. Beberapa ruas jalan di Medan terpaksa ditutup hingga dialihkan pun orang nrimo,†ungkapnya, Jumat (18/11/2022).
Ia menambahkan, jika pemasangan spanduk liar di Yogyakarta itu tidak dilakukan sendiri oleh pendukung Anies Baswedan, maka peristiwa ini seperti peribahasa senjata makan Tuan. Pendukung Anies dan AHY menggunakan spanduk sebagai senjata menolak Ahok, kini spanduk juga digunakan sebagai senjata menolak Anies. Dengan peristiwa ini, Anies perlu mengingat senjata apa saja yang digunakannya saat berjuang mengalahkan Ahok.
“Kontestasi politik itu sejatinya adu ide, gagasan, program untuk merebut hati rakyat, bukan menggunakan cara- cara primordial berbasis SARA. Para kandidat yang bertarung di Pilpres 2024, hendaknya tidak menggunakan senjata kebencian, permusuhan, perundungan untuk meraih kemenangan,†tuturnya. Sebab, lanjutnya, senjata itu, selain dapat melukai orang lain, juga dapat melukai diri sendiri dan bangsa kita. Para kandidat Pilpres 2024 perlu meneladani Prabowo Subianto dalam hal kerendahan hati menerima kekalahan dua kali, dan kemudian bersedia menjadi pembantu orang yang mengalahkannya.
Terkait korban kezaliman, Sutrisno menuturkan SBY berhasil mengemas dirinya sebagai korban kezaliman, hingga berhasil memenangkan Pilpres 2004. Kemudian banyak orang mengikutinya sebagai ‘orang yang dizalimi’ oleh lawan politiknya demi memenangkan pertarungan politik. Bahkan hingga saat ini, SBY pun masih menggunakan strategi politik lama, demi memuluskan langkah politik anaknya, AHY. Tuduhan SBY bakal ada kecurangan Pemilu 2024, yakni pengaturan Pilpres hanya diikuti dua pasangan calon, sebagai upaya menjadikan dirinya dan anaknya AHY sebagai pihak yang terzalimi.
Berbeda dengan pengalaman Basuki ‘Ahok’ Tjahaja Purnama di Pilkada DKI Jakarta 2017. Ada gerombolan warga mengusir dan memasang spanduk menolaknya. Mereka berani melakukan tindakan yang bertentangan dengan Pasal 187 UU No.1 Tahun 2015 Tentang Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota. Pasal tersebut mengatur pelarangan bagi setiap orang untuk mengacaukan, menghalangi, atau mengganggu jalannya kampanye, dengan ancaman pidana 6 bulan atau denda maksimal 6 juta.
Penolakan dan pemasangan spanduk terhadap Ahok di Pilkada DKI Jakarta 2017 jelas dilakukan oleh pendukung Anies Baswedan dan Agus Harimurti Yudhoyono. Ahok dianggap sebagai lawan berat, sehingga semua hal harus dilakukan untuk mengalahkannya. Ahok akhirnya kalah di putaran kedua, meskipun menang di putaran pertama.
“Dari peristiwa penolakan dan pemasangan spanduk yang dialami Ahok, jelas bahwa kelompok yang berani dan mampu melakukannya hanya pendukung Anies dan AHY. Kelompok mereka yang berani menolak dan memasang spanduk penolakan terhadap calon gubernur. Maka pihak yang seharusnya dituduh memasang spanduk liar Tolak Anies adalah pendukung Anies dan AHY di Pilkada DKI Jakarta 2017 atau paling tidak orang- orang yang belajar dari mereka,†pungkasnya. (red-1)
Tragis! Becak Motor Tabrakan dengan Bus ALS di Padangsidimpuan, Satu Nyawa Melayang
kota
22 Paket Sabu Disembunyikan di Rerumputan, Dua Pria di Portibi Berakhir di Tangan Polres Tapanuli Selatan
kota
Sambut Kenaikan Isa Almasih, Satgas Yonif 123/Rajawali dan Warga Asmat Gotong Royong Bersihkan Gereja di Kampung Binam
kota
Preseden Kasus Amsal Sitepu dan Putusan MK Perkuat Uji Keadilan Perkara dr. Aris Yudhariansyah
kota
Medan Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara, Harli Siregar, menyampaikan permintaan maaf secara terbuka di hadapan Komisi III DPR RI da
Hukum
Dugaan Penipuan Miliaran Rupiah Libatkan Eks Polisi dan Anggota DPRD, 34 Personel Polres Padangsidimpuan Jadi Korban
kota
Sinergi Lewat Olahraga! Polres Padangsidimpuan Tumbangkan Bank Mandiri di Laga Seru
kota
Polri Hadir untuk Rakyat, Kapolres Yon Edi Winara Pimpin Perbaikan Jembatan Gantung Merah Putih di Tapsel
kota
Dorong Pelayanan Publik Lebih Baik, Sekda Madina Afrizal Nasution Minta ASN Tingkatkan Disiplin
kota
59 Pejabat Dilantik Sekaligus! Bupati Madina Saipullah Nasution Kirim Pesan Tegas ke ASN
kota