MEDAN | SUMUT24
Baca Juga:
Ketua Komite SMAN 13 Medan, Ishak Nasution, menegaskan saat ini
pihaknya telah menghapus uang insidental sebesar Rp1.250.000, dan
sebagai penggatinya pihaknya mewacanakan kenaikkan uang sekolah
sebasar Rp150.000 dari sebelumnya Rp100.000. Dan kenaikan ini
sebelumnya sudah disetujui orangtua siswa.
“Sebenarnya kita ingin klarifikasi masalah ini. Jadi terkait akan
adanya kenaikan SPP Rp 150.000 dari sebelumnya Rp100.000 ini merupakan
wacana sekolah dan kita telah mengundang para orang tua untuk
membicarakan kenaikan ini. Dari pertemuan yang digelar sebanyak 3 kali
itu, keputusannya para orang tua juga setuju. Dan kalaupun memang ada
orangtua yang kurang mampu juga akan kita beri keringanan,” kata
Ishak, Sabtu (17/9), saat ditemui terkait klarifikasi penyebab adanya
demo siswa SMAN 13 Medan beberapa waktu lalu.
Menurutnya, kerusuhan siswa yang terjadi itu disebabkan ada salah satu
guru yang menjadi provukator dengan menebarkan isu-isu berlebihan
terkait rencana kenaikan SPP.
Ketika ditanya terkait alasan menaikkan SPP, Ishak pun mengaku uang
kenaikkan itu ditujukan guna membeli perlengkapan dan melengkapi
fasilitas sekolah yang belum ada di sekolah.
Ditambahkannya, SMAN 13 juga ingin menjadi sekolah yang menghasilkan
siswa berprestasi. Untuk itu perlu didukung fasilitas dan pengajar
yang mempuni. Dimana selama 2 tahun terakhir ini, sudah banyak
fasilitas yang telah diberikan kepada SMAN 13 Medan berkat partisipasi
orangtua/wali murid dan masyarakat melalui Komite Sekolah, antara
lain, Pembangunan Paving Block, Infocus di tiap kelas, Toilet Siswa,
Gedung Belajar, Pengadaan dan Pemasangan AC di setiap ruang kelas,
Bimbingan Belajar Gratis dan masih banyak lainnya.
Saat ini SMAN 13 telah membeli 38 AC untuk beberapa ruangan di
sekolah, namun masalahnya adalah daya listrik di sekolah tidak
memadai.
“Adapun kenaikan SPP ini juga akan kita alihkan untuk membeli trafo
dengan daya 55.000 watt, sebab daya listrik yang punya sekolah hanya
30.000 watt dan itu tidak sanggup untuk menghidupkan AC,” tegasnya.
Kalau pun ada biaya tambahan lain, itu nantinya untuk pengadaan bimbel
siswa, biayanya kita taksir Rp 70 juta. Biaya itu dipakai untuk
membayar guru honor yang jumlahnya ada 41 guru. Guru honor tersebut
akan dibayar Rp 50.000 per jamnya.
Tak hanya itu, pihaknya juga mendatangkan pengajar dari luar kota agar
siswa mendapat ilmunya dalam les tambahan nanti.
“Kita memang ingin buat bimbel, dan kita datangkan pengajar dari luar.
Karena kita punya target dimana siswa itu harus bisa betul menguasai
pelajaran itu. Misalnya kalau belajar bahasa inggris dia harus bisa
baca dengan lancar dan bisa melakukan percakapan berbahasa inggris,”
katanya. Terkait hal ini, Ishak meminta agar masyarakat jangan salah
paham. (W07)
Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di
Google News