PSMS Menang Telak 6-0 atas Persiku, Kadispora Sumut Terpukau
PSMS Menang Telak 60 atas Persiku, Kadispora Sumut Terpukau
News
Februari 2016, seekor bayi lumba-lumba terpaksa meregang nyawa setelah diangkat dari laut dan diajak selfie atau swafoto bergantian oleh pengunjung sebuah pantai di Argentina. Satu bulan berselang, seekor angsa juga mati sia-sia setelah ditarik keluar dari Danau
Baca Juga:
Orchid di Macedonia oleh seorang turis asal Bulgaria, juga untuk diajak swafoto. Pekan lalu, seorang remaja tewas tersambar kereta setelah swafoto di atas rel. Kasus terakhir terjadi di negara kita, Indonesia.
Tiga kisah di atas hanya contoh terbaru, paling kekinian, dari sekian banyak contoh swafoto berbahaya–selalu memakan korban–yang telah menjadi berita utama sejak satu atau dua tahun lalu. Menurut riset perusahaan media Condé Nast, swafoto disimpulkan menjadi penyebab kematian yang lebih tinggi ketimbang serangan hiu.
Ya, demi mengejar foto keren untuk diunggah ke Facebook, Twitter, Path, Instagram, dan lain-lain, banyak orang rela berfoto di pinggir tebing, di dekat kereta yang melaju kencang, bersama hewan langka, dan entah apa lagi yang mungkin belum terbayangkan.
“Seseorang jadi tidak memikirkan konsekuensi dari tindakan yang dilakukan. Memang siapa, sih yang memusingkan jika saya menggelantung di Menara Eiffel?†lanjut wanita yang juga peneliti dunia daring asal Amerika.
Ketika kejadian serupa terus saja terjadi, dapat disimpulkan tragedi atau kesalahan terkait swafoto yang lebih dulu dilakukan orang lain tidak menjadi pelajaran. Ada semacam dorongan tidak tertahankan yang membuat banyak orang tetap melakukannya.
Awal bulan Maret 2016 di Filipina, gadis berusia 19 tahun jatuh dari gedung 20 lantai ketika melakukan swafoto. Dia meninggal seketika.
Fenomena swafoto berbahaya, bagi kita yang tidak melakukannya, akan terasa konyol atau malah tidak masuk akal. Untuk apa juga menempatkan diri ke dalam risiko tinggi. Swafoto berbahaya yang dilakukan bahkan jauh dari kata keren. Terlebih jika sampai meregang nyawa atau malah menghilangkan nyawa makhluk lain.
Sebuah penelitian yang dilakukan tahun lalu mencoba mencari hubungan antara kepercayaan diri dan media sosial daring. Apakah unggahan kenarsisan di media sosial yang banyak mendapatkan “like†akan meningkatkan kepercayaan diri?
“Di satu sisi, orang-orang dengan tingkat kepercayaan diri tinggi, stabil, mungkin hanya ingin berbagi foto karena mereka tidak rentan kritik. Di sisi lain, orang-orang dengan kepercayaan diri yang rendah mungkin melakukannya dalam rangka promosi diri secara daring untuk meningkatkan kepercayaan diri mereka,†tulis Agnieszka Sorokowska, penulis utama studi dari TU Dresden, Jerman. Posisi Anda di mana?
PSMS Menang Telak 60 atas Persiku, Kadispora Sumut Terpukau
News
BIREUEN Ketua Pers Siber Indonesia (PSI) Aceh, Anwar Tgk Rabo, meminta pihak terkait memberikan kejelasan mengenai informasi yang menyebut
News
Tak Ingin Molor, Wali Kota Padangsidimpuan Koordinasi dengan BPKP Soal Percepatan Huntap
News
Pengurus PP Polri Tapsel 20262031 Dikukuhkan, Kompol Purn Daulat Mhd Zein Harahap Jadi Ketua
News
World Cleanup Day di Huta Godang, Wabup Tapsel Jafar Ingatkan Ancaman Erosi dan Perubahan Iklim
News
DPC Hima Lubis Kota Medan Resmi Dilantik, Ini Pesan Wakil Wali Kota
Kota
Harmoni Milad ke27 Pendawa Indonesia Sukses dan Meriah
News
JAKARTA Sumut24.co PT Perkebunan Nusantara I (Persero) atau PTPN I terus mengoptimalkan aset perkebunan untuk mendukung penguatan kedaulat
News
Investor China Jajaki Industri Daur Ulang di Deli Serdang
News
RSUD Amri Tambunan Mulai Layani Kateterisasi Jantung, Kasus Serangan Jantung Darurat Ditangani
News