Ikhlas Merupakan Kekuatan Dalam Beribadah Oleh: Ustadz Sayuti Lubis, S.Ag S.PdI

MEDAN | SUMUT24
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya. QS Al bayyinah ayat 5 Abul Qosim Al Qusyairi mengatakan, “Ikhlas adalah menjadikan niat hanya untuk Allah dalam melakukan amalan ketaatan. Jadi, amalan ketaatan tersebut dilakukan dalam rangka mendekatkan diri pada Allah. Sehingga yang dilakukan bukanlah ingin mendapatkan perlakuan baik dan pujian dari makhluk atau yang dilakukan bukanlah di luar mendekatkan diri pada Allah.”

Abul Qosim juga mengatakan, “Ikhlas adalah membersihkan amalan dari komentar manusia.” Jika kita sedang melakukan suatu amalan maka hendaklah kita tidak bercita-cita ingin mendapatkan pujian makhluk.

Cukuplah Allah saja yang memuji amalan kebajikan kita. Dan seharusnya yang dicari adalah ridho Allah, bukan komentar dan pujian manusia. Dalam ibadah puasa secara khusus Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa berpuasa di bulan Ramadhan karena keimanan dan mengharap pahala Allah, maka akan diampunilah dosanya yang telah lalu.” (HR. bukhori dan Muslim)

Dalam menjalankan ibadah puasapun merupakan ibadah yang sangat rahasia, hanya Allah SubnahuWata’ala dan hambanya yang mengetahui apakah hambanya berpuasa atau tidak, dan urusannya memangnya antara Allah dengan hambanya sebagaimana Di dalam Hadits Qudsi Allah SWT berfirman: “Setiap amal anak Adam itu untuk dirinya, kecuali puasa. Itu milik-Ku dan Aku yang membalasnya karena ia meninggalkan syahwat dan (meninggalkan) makan karena Aku.” (HR. Bukhari Muslim).

Ikhlas merupakan sumber kekuatan dalam beribadah. Ada pekerjaan yang ringan tapi sangat berat untuk kita lakukan, ini penyebabnya kita tidak ikhlas untuk mengerjakannya, tapi ada pekerjaan yang berat tapi terasa ringan dikerjakan, penyebabnya tidak lain adalah karena ikhlas kita mengerjakannya.

Sebegai contoh kita tidak akan sanggup manahan lapar dan haus disiang hari, tapi kenapa kita sanggup menjalankan ibadah puasa pada bulan ramadhan? Jawabnya adalah kita sudah pasang niat dengan ikhlas semata karrena AllahSwt, bangun untuk sholat shubuh dan tahajjud sangatlah berat, tapi jika kita sudah pasang niat semata karena Allah maka bangun ditengah malam akan ringan dan mudah.

Dibelenggunya syaitan pada bulan ramadhan bukan arti setan tidak ada pada pada bulan ramadhan. Akan tetapi setan tidak punya kekuatan jika bertemu dengan hamba Allah yang Ikhlas dalam beribadah, sebagaimana dalam Al quran dinyatakan ketika iblis keluar dari syurga maka iblis menyatakan kepada Allah, karena Allah telah mengeluarkan iblis dari syurga maka iblis berjanji akan menyeret anak cucu Adam ikut masuk neraka. Maka Allah mengatakan silakan tapi engkau tidak akan mampu menggoda hamba-hambaku yang ikhlas beribadah kepadaku.

Firman Allah Q.S Shod 82, Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka. Inilah kekuatan kita dalam beribadah yaitu keikhlasan sehingga syaitanpun takut kepada kita karena kita ikhlas dalam beribadah kepada Allah Swt.”

Ada sebuah kisah pada zaman bani israil seorang alim yang taat beribadah yang dikalahkan oleh iblis disebabkan terjerumus kepada keinginan dunia ketika beamal. Suami isteri itu hidup tenteram mula-mula. Meskipun melarat, mereka taat kepada perintah Tuhan. Segala yang dilarang Allah dihindari, dan ibadah mereka tekun sekali. Si Suami adalah seorang yang alim yang taqwa dan tawakkal. Tetapi sudah beberapa lama isterinya mengeluh terhadap kemiskinan yang tiada habis-habisnya itu. Ia memaksa suaminya agar mencari jalan keluar. Ia membayangkan alangkah senangnya hidup jika segala-galanya serba cukup.

Pada suatu hari, lelaki yang alim itu berangkat ke ibu kota, mau mencari pekerjaan. Di tengah perjalanan ia melihat sebatang pohon besar yang tengah dikerumuni orang. Ia mendekat. Ternyata orang-orang itu sedang memuja-muja pohon yang konon keramat dan sakti itu. Banyak juga kaum wanita dan pedagang-pedagang yang meminta-minta agar suami mereka setia atau dagangnya laris. “Ini syirik,” fikir lelaki yang alim tadi.

“Ini harus dibanteras habis. Masyarakat tidak boleh dibiarkan menyembah serta meminta selain Allah.” Maka pulanglah dia terburu. Isterinya heran mengapa secepat itu suaminya kembali. Lebih heran lagi waktu dilihatnya si suami mengambil sebilah kapak yang diasahnya tajam.

Lantas lelaki alim tadi bergegas keluar. Isterinya bertanya tetapi ia tidak menjawab. Segera dinaiki keledainya dan dipacu cepat-cepat ke pohon itu. Sebelum sampai di tempat pohon itu berdiri, tiba-tiba melompat sesusuk tubuh tinggi besar dan hitam. Dia adalah iblis yang menyerupai sebagi manusia. “Hai, mahu ke mana kamu?” tanya si iblis.

Orang alim tersebut menjawab, “Saya mau menuju ke pohon yang disembah-sembah orang bagaikan menyembah Allah. Saya sudah berjanji kepada Allah akan menebang roboh pohon syirik itu.”

“Kamu tidak ada apa-apa hubungan dengan pohon itu. Yang penting kamu tidak ikut-ikutan syirik seperti mereka. Sudah pulang sahaja. Tidak boleh, kemungkaran mesti diberantas,” jawab si alim bersikap tegas.

“Berhenti, jangan teruskan!” bentak iblis marah. “Akan saya teruskan!”
Kerana masing-masing tegas pada pendirian, akhirnya terjadilah perkelahian antara orang alim tadi dengan iblis. Kalau melihat perbedaan badannya, seharusnya orang alim itu dengan mudah boleh dibinasakan.

Namun ternyata iblis menyerah kalah, meminta-minta ampun. Kemudian dengan berdiri menahan kesakitan dia berkata, “Tuan, maafkanlah kekasaran saya. Saya tak akan berani lagi mengganggu tuan. Sekarang pulanglah. Saya berjanji, setiap pagi, apabila Tuan selesai menunaikan sembahyang Subuh, di bawah tikar sembahyang Tuan saya sediakan uang emas empat dinar. Pulang saja berburu, jangan teruskan niat Tuan itu dulu,”

Mendengar janji iblis dengan uang emas empat dinar itu, lunturlah kekerasan tekad si alim tadi. Ia teringat akan isterinya yang hidup berkecukupan. Ia teringat akan saban hari rungutan isterinya. Setiap pagi empat dinar, dalam sebulan sahaja dia sudah boleh menjadi orang kaya. Mengingatkan desakan-desakan isterinya itu maka pulanglah dia. Patah niatnya semula hendak membanteras kemungkaran.

Demikianlah, semenjak pagi itu isterinya tidak pernah marah lagi. Hari pertama, ketika si alim selesai sembahyang, dibukanya tikar sembahyangnya. Betul di situ tergolek empat benda berkilat, empat dinar wang emas. Dia meloncat riang, isterinya gembira. Begitu juga hari yang kedua. Empat dinar emas. Ketika pada hari yang ketiga, matahari mulai terbit dan dia membuka tikar sembahyang, masih didapatinya uang itu. Tapi pada hari keempat dia mulai kecewa.

Di bawah tikar sembahyangnya tidak ada apa-apa lagi keculai tikar pandan yang rapuh. Isterinya mulai marah kerana wang yang kelmarin sudah dihabiskan sama sekali.

Si alim dengan lesu menjawab, “Jangan khawatir, esok barangkali kita bakal dapat delapan dinar sekaligus.” Keesokkan harinya, harap-harap cemas suami-isteri itu bangun pagi-pagi. Selesai sembahyang dibuka tikar sejadahnya kosong. “Kurang ajar. Penipu,” teriak si isteri. “Ambil kapak, tebanglah pohon itu.” “Ya, memang dia telah menipuku. Akan aku habiskan pohon itu semuanya hingga ke ranting dan daun-daunnya,” sahut si alim itu.
Maka segera ia mengeluarkan keledainya. Sambil membawa kapak yang tajam dia memacu keldainya menuju ke arah pohon yang syirik itu.

Di tengah jalan iblis yang berbadan tinggi besar tersebut sudah menghalang. Katanya menyorot tajam, “Mau ke mana kamu?” herdiknya menggegar. “Mau menebang pohon,” jawab si alim dengan gagah berani. “Berhenti, jangan lanjutkan.” “Bagaimanapun juga tidak boleh, sebelum pohon itu tumbang.”
Maka terjadilah kembali perkelahian yang hebat. Tetapi kali ini bukan iblis yang kalah, tapi si alim yang terkulai. Dalam kesakitan, si alim tadi bertanya penuh heran, “Dengan kekuatan apa engkau dapat mengalahkan saya, padahal dulu engkau tidak berdaya sama sekali?”

Iblis itu dengan angkuh menjawab, “Tentu sahaja engkau dahulu boleh menang, kerana waktu itu engkau keluar rumah untuk Allah, demi Allah. Andaikata kukumpulkan seluruh belantaraku menyerangmu sekalipun, aku takkan mampu mengalahkanmu. Sekarang kamu keluar dari rumah hanya kerana tidak ada uang di bawah tikar sejadahmu.

“Maka biarpun kau keluarkan seluruh kebolehanmu, tidak mungkin kamu mampu menjatuhkan aku. Pulang saja. Kalau tidak, kupatahkan nanti batang lehermu.”

Mendengar penjelasan iblis ini si Alim tadi termangu-mangu. Ia merasa bersalah, dan niatnya memang sudah tidak ikhlas kerana Allah lagi. Dengan terhuyung-hayang ia pulang ke rumahnya. Dibatalkan niat semula untuk menebang pohon itu. Ia sedar bahwa perjuangannya yang sekarang adalah tanpa keikhlasan kerana Allah, dan ia sadar perjuangan yang semacam itu tidak akan menghasilkan apa-apa, selain dari kesiaan yang berlanjutan.

Sebab tujuannya adalah kerana harta benda, mengatasi keutamaan Allah dan agama. Bukankah bererti ia menyalahgunakan agama untuk kepentingan hawa nafsu semata-mata ?

Alkisah diatas mari kita ambil pelajaran bahwa, ada kekuatan yang yang sangat dahsyat didalam diri orang beriman yaitu ikhlas dalam beramal sholeh maka Allah yang maha kuat akan memberi kekuatan didalam diri kia dalam segala hal.Ibadah puasa yang kita laksanakan dimulai dengan niat dimalam hari, jika niat kita karena Allah maka Allah akan memberikan kita kekuatan sampai waktu berbuka puasa.

Apalagi dibulan Ramadhan ini kita di anjurkan banyak bersedekah, maka berniatlah sedekah karena Allah maka Allah akan melipat gandakan fahala sedekah kita.

Ikhlas dalam menjalankan perintah Allah akan membuat ketenangan didalam hati karena kita merasa senantiasa bersama Allah, suatu contoh jika kita bersedekah karena ingin dipuji atau supaya orang membalas kebaikan kita maka kita tidak pernah tenang sebelum orang memuji kita atau orang membalas kebaikan kita, bukan hanya itu Allah tidak akan memberikan fahala kepada kita.

Akan tetapi jika kita pasang niat karena Allah maka hati kita akan tenang karena kebaikan yang kita lakukan sudah kita titipkan kepada Allah walaupun orang tidak memuji kita karena kita menginginkan pujian Allah, walaupun tidak membalas kebaikan kita, toh kita tetap tenang karena kita yakin kebaikan kita hanya Allah yang berhak membalas apa yang kita lakukan bukan mengharap balasan orang.

Akhirnya saya kutip sebuah hadis Rasulullah SAW. Pada hari kiamat nanti ada manusia yang membawa fahala bacaan Alqur’an di hadapan Allah dan dia masuk kedalam neraka, karena Allah mengatakan engkau membaca Al qur’an ingin dipuji orang karena kemerduanmu bukan karena Aku masuklah engkau dalam neraka.

Begitu juga orang yang membawa fahala sedekah Alah masukkan kedalam neraka, karena sedekahnya bukan karena Allah tapi ingin dipuji. Ada juga orang membawa fahala jihad tapi Allah masukkan kedalam neraka karena jihadnya ingin dipuji orang agar orang mengatakan dia adlah pahlawan. (W08)