Ijeck: WRC Target 2022 Ajang Rally Dunia di Sumut

104

Parapat I SUMUT24.co

Nama Indonesia pernah begitu akrab dengan perally dunia di eara tahun 1980-an hingga 1990-an. Di olahraga otomotif, rally menyisakan cerita-cerita yang berbeda dengan kejuaraan motorsport lain.

Era tahun tahun tersebut, bisa dibilang kancah rally begitu ramai diminati dan menjadi salah satu daya tarik sendiri di Tanah Air. Tidak hanya bagi para pelaku di industri rally, namun juga bagi masyarakat luas.

Yang lebih membanggakan adalah ketika Indonesia ditunjuk sebagai tuan rumah ajang World Rally Championship (WRC) di Sumut tepatnya di Danau Toba.

Legenda sekelas Rod Millen pun pernah mencicipi kejuaraan reli di Indonesia pada tahun 1990 dan 1992.

Kini, Sumut tengah berupaya untuk mendulang kembali masa ke emasan tersebut dengan menjadi Tuan Rumah di WRC 2022.

Mengingat Indonesia memiliki banyak perally berprestasi sebut saja Musa Rajeckshah (Ijeck), Ryan Nirwan, Rizal Sungkar, Rifat Sungkar, Subhan Aksa , dan lainnya.

Tak heran jika saat ini pemerintah Sumut terus berupaya keras untuk bisa menjadi tuan rumah pada WRC 2022.

Sebab ini merupakan ajang pembuktian bagi pebalap rally untuk bisa mengharumkan nama Indonesia khususnya Sumut di mata dunia.

Terkait hal ini, salah satu perally sekaligus Wakil Gubernur Sumut, Musa Rajekshah atau yang akrab disapa Ijeck juga berharap Sumut bisa menjadi tuan rumah di even tersebut. Menurutnya, Indonesia memiliki sejarah gemilang di dunia rally.

“Tahun 1996/1997 yang lalu, Sumut pernah menjadi tuan rumah WRC. Sebuah pencapaian gemilang saat itu. Kita ingin mendulang masa kejayaan itu dengan bisa menjadi tuan rumah di WRC 2022. Saya mohon dukungan serta doa masyarakat Sumut dan para steak holder agar Sumut bisa membuktikan diri di kancah dunia dan dapat mengharumkan nama Indonesia,” harap Ijeck sembari mengaku memiliki hobi pebalap dari sejak kecil.

Efek dari dilaksanakannya WRC ini begitu terasa terutama dampak ekonomi bagi Indonesia. Putaran uang yang mencapai angka hampir Rp100 M pada waktu itu membuktikan bahwa rally bisa membawa dampak positif. Dicontohkannya, negara Singapura, mereka memiliki gelaran Formula 1 padahal mereka tak punya pembalapnya.
Namun gelaran ini mendatangkan nilai ekonomi yang besar. Begitupun Malaysia yang memiliki gelaran Moto GP.

Ditambahkan Ijeck, sampai saat ini, Rally Indonesia masih menjadi tantangan tersendiri bagi pereli di dunia, karena masih penasaran dengan Indonesia. Hal ini dikarenakan, sirkuit yang ada di Indonesia memiliki berbagai macam ragam bentuk yang tak terduga.

“Kontur tanah kita tidak terprediksi. Dalam satu SS, bisa ada track yang tanah, berbatu, kasar. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi pereli,” ujar Ijeck.

Ijeck menjelaskan, kehadiran gelaran rally di Sumut, khususnya di Danau Toba bisa memberi dampak positif kepada masyarakat. Kehadiran para pebalap di Danau Toba tentu bisa menjadi pemasukan bagi masyarakat sekitar.

Selain itu, Danau Toba Rally 2019 bisa dimanfaatkan sebagai ajang promosi memperkenalkan daerah. Apalagi, menurut Ijeck, Pemerintah Pusat dan Pemprov Sumut sudah menetapkan Danau Toba sebagai destinasi super prioritas.

Untuk itu, melalui rangkaian Danau Toba Rally 2019, Ijeck ingin mengembalikan WRC ke Sumatera Utara.

“Berbagai langkah sudah kita lakukan salah satunya kita sudah melaksanakan Asia Pacific Rally Championship (APRC) bulan Juli lalu di sirkuit Rambong Sialang, Serdang Bedagai. Tahun depan kita akan gelar lagi APRC dan mudah mudahan tahun 2022 adalah target kita untuk mewujudkan WRC kembali di Indonesia,” jelas Ijeck. (W07)

Loading...