Baca Juga:
MEDAN I SUMUT24
Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi mendukung penuh budidaya tanaman
guarana di wilayah ini, yang coba digagas Koperasi Pemuda Habonaron
Abadi (KPHA). “Selaku gubernur, saya tentu mendukung penuh program
ini. Kaji dan hitung yang benar ini, jangan nanti dia tumbuh cuma daun
saja tak ada buahnya, repot kita,” ucap Gubsu Edy saat memberi
sambutan di acara Penandatangan Memorandum of Agreement (MOA) KPHA
dengan Rizt Guarana Plantation Holding Berhad, di Pendopo Rumah Dinas
Gubernur Sumut, Jl. Sudirman Medan, Rabu (4/12) sore.
Edy mengaku siap membantu mencarikan ahli guna mengkaji budidaya
guarana ini. Disamping itu, ia juga menginstruksikan Dinas Perkebunan
Sumut harus bersinergi dengan KPHA dalam hal pengembangan tumbuhan
yang berasal dari Brasil tersebut.
“Pastikan juga dalam setahun dia bisa berbuah. Atau nanti dia sudah
berbuah, taunya orang Brazil tak nawar-nawar, repot juga kita. Maka ke
depan untuk menjadikan ini bermanfaat, harus benar ngurusnya,” kata
dia.
Dewan Penasehat KPHA, Elkananda Shah, usai acara kepada wartawan
menerangkan, sesuai nawacita pihaknya bahwa ingin menjadikan guarana
sebagai transformasi pertanian rakyat dan negara. Dalam tahap awal
pengembangan budidaya guarana ini, pihaknya sudah siapkan lahan seluas
500 hektar di Simalungun. Nantinya, kata dia, sesuai rencana akan
dikembangkan juga ke daerah Mandailing Natal dan Tapanuli Utara.
“Kemarin bersama PPKAS, kami sudah meneliti tanah dan lainnya, bahwa
hasilnya guarana cocok ditanam di Sumut. Ke depan sesuai arahan pak
gubernur, secara mendalam kami akan melakukan kajian dan hitungan
lagi. Sehingga tanaman ini nantinya benar-benar bisa menjadi
transformasi baru dibidang pertanian, sesuai keinginan bapak gubernur
juga,” katanya.
Pria yang akrab disapa Nanda ini menyatakan, dukungan Pemprovsu
terhadap terobosan pihaknya tersebut sudah sangat besar. Mulai dari
perizinan, pengupayaan lahan dan lain sebagainya. Sementara mengenai
produktivitas tanaman ini, disebut dia dalam waktu satu setengah tahun
sudah dapat dirasakan.
“Hasil dari guarana ini sebenarnya juga sudah banyak di pasaran,
seperti produk herbalife. Kami akan terus melakukan sosialisasi dan
melakukan pengurusan izin agar benih guarana ini dapat masuk ke
Indonesia untuk dibudidayakan. Dikarenakan ini tanaman yang sangat
bagus, khasiatnya juga sangat banyak bisa dibuat jadi minuman,
makanan, tepung, minyak goreng dan lain sebagainya,” katanya.
Ia menambahkan sesuai kesepakatan dengan Perusahaan Ritz Guarana
Malaysia mereka akan langsung membangun pabrik jika sudah tertanam 500
hektar. Namun target Ritz dan KPHA di Indonesia harus tercapai hingga
2 juta hektar. “Soal harga jualnya petani juga tidak perlu ragu,
dikarenakan KPHA telah melakukan perjanjian dengan Ritz untuk harga
minimal kurang lebih Rp. 175.000 sampai Rp. 200.000 per kilogramnya,”
katanya.
Seluruh masyarakat Indonesia yang ingin menanam guarana, hanya dapat
membeli kepada KPHA, tidak ada yang lain yang menyediakan sesuai
perjanjian KPHA dengan Ritz. “Kita juga menghimbau masyarakat agar
jangan tertipu. Jika sekarang KPHA belum melakukan jual beli benih
dikarenakan masih fokus kepada pengurusan izin-izin yang berlaku di
Indonesia. Harapan kami dari KPHA terobosan ini harus didukung penuh
oleh pemerintah karena guarana ini dapat menjadi tanaman alternatif
untuk kesejahteraan petani Indonesia. Oleh karenanya kami sangat yakin
guarana akan mampu menjadi transpormasi pertanian untuk rakyat dan
Indonesia,” pungkas Ketua MPC PP Simalungun itu.
Turut hadir dalam MOA, Ketua MPW PP Sumut, Kodrat Shah, Datuk Ibrahim
Bin Yahya dan Datuk Johan Pahlawan dari Rizt Guarana Malaysia, Ketua
REI Sumut, Andi Atmoko Panggabean, sejumlah pimpinan OPD Pemprovsu,
dan beberapa perwakilan pengurus organisasi kepemudaan di Sumut.(W03)
Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di
Google News