Turnamen Sepak Bola Antar Club se-Sumatera Barat Tahun 2026 Resmi di Buka Bupati Solok.
Turnamen Sepak Bola Antar Club seSumatera Barat Tahun 2026 Resmi di Buka&lrm Bupati Solok.
kota
NIAS, Sumut24.co SAYA dengan hati berdebar memanjat sebuah bukit sejauh sekitar 1000 meter. Dua malam yang lalu, di Museum Pusaka Nias Gunung Sitoli saya berdiskusi panjang dengan Pastor Jerman, Johannes M Haemmerle pendiri museum itu, tentang jejak Islam Aceh di Nias.
Baca Juga:
Demikian di sampaikan Ichwan Azhari, peneliti sejarah, saat melakukan penelusuran di Nias, baru- baru ini.
Dikatakan, dalam diskusi itu mengganggu rasa penasaran saya akan situs Islam batu Aceh yang ada di atas bukit ini. Pastor Johannes meminta saya menyiapkan fisik untuk sampai ke atas bukit situs megalith Ononamolo Tumba dan Sibatua. Ah saya tak mau kalah, masakkan pastor Jerman berusia 78 tahun ini pernah sanggup ke sana, saya yang jauh lebih muda tak sanggup? (Tiba tiba saya merasa harus muda kembali).
Bukitnya curam dan rasanya seperti lebih sulit (karena tanpa tangga), dibanding mendaki makam Papan Tinggi di Barus. Saya beberapa kali tergelincir, beberapa kali berhenti menarik napas, bergerak tanpa sepatu dan masih pakaian kantoran karena memanfaatkan sedikit waktu menuju bandara. Dan rasa lelah dengan dengkul hampir lepas ini terobati saat sampai di atas menemukan 5 nisan Batu Aceh. Ini benar benar mencengangkan. Batu Aceh berada di bebukitan, di kompleks runtuhan tradisi budaya batu batu besar/megalitikum, runtuhan desa kuno Nias. Jika nisan batu Aceh selama ini sering berada di kawasan dataran rendah dekat pantai dan sungai, maka kali ini batu Aceh ikut tradisi kampung Nias kuno, berada di atas bukit, bagian dari kampung kuno sebagai sistem pertahanan perang antar kampung.
Teka teki yang kusutpun mulai masuk ke kepala. Siapa yang dimakamkan ini? Orang Aceh? Aulia penyebar Islam? Kalau bukan orang Nias ngapain dimakamkan di atas bukit menyatu dengan tradisi kampung kuno? Atau ini makam bangsawan Nias yang pertama masuk Islam? Pastor Johannes berhipotesa ini agaknya makam raja Nias pertama yang masuk Islam, jauh masa sebelum orang Barat dan agama Kristen masuk ke pulau Nias. Kompleks makam ini berbeda dengan kompleks makam situs Aceh lain yang berada di kawasan kampung Mudik kota Gunung Sitoli. Saya menginap di rumah tradisional Nias yang dalamnya di sunglap Pastor Johannes menjadi kamar hotel bintang 3 di kompleks Museum Pusaka yang didirikannya. Di museum itu oleh kepala museum yang juga teman saya pak Nata Duha, saya diperlihatkan sejumlah pecahan keramik dan tembikar temuan situs Aceh Nias ini. Sebagian besar dari Dynasti Qing abad 18-19. Nisan batu Aceh ini sendiri kemungkinan berasal dari abad 17. Di bukit saya juga menemukan beberapa ceceran pecahan keramik Dynasti Qing. Tapi saya dan juga Pastor Johannes belum dapat menghubungkan situs Nisan Aceh di bukit Ononamo Tumba ini dengan situs Islam mudik abad 17 di pesisir Gunung Sitoli. Temuan ini bisa menjadi titik tolak memahami Nias dari dimensi lain, yakni kontak Nias dengan peradaban dunia luar berabad abad yang lalu, jauh sebelum pengaruh Barat datang. Di museum Pusaka Nias ditampilkan manik manik kuno yang memperlihatkan kontak Nias dengan India dan Indo Pasifik. Pastor Johannes dan di belakang kami rumah tradisional Nias Utara yang dijadikan hotel museum. (ist) Islam adalah agama luar pertama yang masuk ke Nias sejak 1642 sebagaimana ditulis M.I Polem dkk dalam buku yang dieditori Pastor Johannes (2008). Ini juga menjadi penjelas kenapa ada banyak komunitas muslim dan mesjid di kawasan Gunung Sitoli, komunitas yang berasal dari keturunan Islam lama dan bukan Islam pendatang baru abad 20. Komunitas ini juga lah yang menjadi pembentuk marga baru di Nias yakni marga Polem. Lebih dari itu, situs situs Islam ini bisa menjadi penghubung pengetahuan kita kenapa toleransi antara pemeluk Kristen dan Islam sangat baik di kawasan yang mayoritas beragama Kristen di Nias. Saya harus mengakhiri catatan di atas pesawat Wings yang menerbangkan saya dari Bandara Binaka ke Kualanamu ini. Teka teki belum bisa dijawab. Mengapa makam muslim dengan nisan gaya Aceh berada di kampung Nias di atas bukit, menyatu dengan arca kuno dan tradisi megalit kuno? (Red)
Turnamen Sepak Bola Antar Club seSumatera Barat Tahun 2026 Resmi di Buka&lrm Bupati Solok.
kota
Silaturahmi Alumni HMI Sumut SeJabodetabek, Musa Rajekshah Saya Bangga Menjadi Bagian dari KAHMI
kota
sumut24.co , Medan, Kuasa hukum Anggota DPRD Kota Medan, Antonius Devolis Tumanggor, S.Sos., dari Kantor Hukum Fernando Raja Sipahutar dan
kota
sumut24.co MedanWali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, meluncurkan program inovasi Monitoring Aman Terpadu Medan Deli (Mata Deli), Min
kota
sumut24.co MedanKemeriahan Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Medan ke436 berlangsung semarak di Kecamatan Medan Amplas. Dari pagi, ratusan masy
kota
sumut24.co MedanPanitia Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) 2026 mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penawaran tiket
kota
Rombongan UAS Dihadang Massa di Kutai Barat, Polisi Tabligh Akbar Tetap Berjalan Kondusif
kota
sumut24.co TANJUNGBALAI, Pemerintah Kota Tanjungbalai memanfaatkan ajang Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) ke50 sebagai sarana memperkenalk
News
Wagub Sumut Surya Jajal Membatik di Stan Taman Budaya, Tegaskan Komitmen Lestarikan Warisan Budaya
kota
Buka PRSU ke50, Wagub Sumut Surya Tegaskan PRSU Jadi Etalase Pembangunan dan Penggerak Ekonomi Daerah
kota