Senin, 06 April 2026

Bila Tokoh Bangsa Bicara....!

Administrator - Selasa, 19 April 2022 05:02 WIB
Bila Tokoh Bangsa Bicara....!

Oleh: Ali Sati Nasution

Baca Juga:

SECARA jujur dan menjadi kenyataan, sebagai tokoh yang karier politiknya menjulang di era Reformasi, membuat Amien Rais sulit dilupakan dalam pang-gung politik tanah air.

Sebagai oposan dengan berbagai kritik tajam terhadap pemerintah. Terbaru, Amien meminta agar Luhut B. Pandjaitan sesegera mungkin didepak dari kabinet. Lantas, timbul pertanyaan, apakah Amien Rais masih punya taring dalam kancah politik saat ini..?

Amien Rais merupakan salah satu tokoh yang pernah menjadi macan di panggung Reformasi tahun 1998. Dalam suasana riuh isu-isu politik yang memanas saat ini, ia turut menarik perhatian publik dengan memberikan pernyataan-pernyataan kritisnya kepada pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Sebagai Ketua Dewan Syuro Partai Ummat, Amien Rais memberikan peringatan bahwa masa jabatan Jokowi akan selesai tidak lama lagi. Oleh karena itu, ia meminta agar Presiden Jokowi dalam masa penghujung ini tidak lagi menambah utang negara.

Apalagi jika utang tersebut adalah upaya untuk merealisasikan proyek pemindahan ibu kota negara (IKN). Maka bagi Amien, proyek tersebut lebih baik jangan dipaksakan, sangat tidak realistis baginya di tengah kesulitan melaksanakan proyek yang butuh dana besar.

Jika kita lihat data, sampai akhir Februari 2022, utang Indonesia sebesar Rp 7.014,58 triliun atau setara 40,17 persen dari produk domestik bruto (PDB). Terdapat lonjakan total utang pemerintah seiring dengan penerbitan surat berharga negara (SBN) dan penarikan pinjaman pada bulan Februari 2022.

Posisi utang yang semakin meningkat pada periode kedua pemerintah Jokowi, dimulai dari tahun 2019 dengan Rp 4.779,28 triliun kemudian naik pada 2020 menjadi Rp6.074,56 triliun. Selanjutnya pada 2021 sebesar Rp6.908,87 triliun. Banyak yang spekulasi bahwa nasib Indonesia kemungkinan akan seperti Sri Lanka yang mengalami gagal bayar utang.

Dalam kondisi seperti ini, Amien menyarankan beberapa hal. Pertama, Jokowi lebih baik saat ini untuk pro terhadap kepentingan masyarakat. Kedua, minta Jokowi tegas mengeluarkan pernyataan menolak perpanjangan masa jabatan presiden.

Ketiga, Amien meminta agar Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan mundur dari jabatannya. Dia menganggap masyarakat sudah menilai buruk figur maupun kinerjanya sebagai menteri. Oleh karena itu, Amien meminta Luhut untuk mengundurkan diri. Semakin cepat Luhut minggat dari jabatannya, maka semakin bagus.

Semua tuntutan Amien ini merupakan bagian dari desakan politik yang diberikan kepada Jokowi. Lantas, apakah tuntutan ini akan didengar oleh Jokowi..?

Amien dan tokoh-tokoh lainnya berhasil menum-bangkan pemerintah Orde Baru dengan lengsernya Presiden Soeharto pada tahun 1998. Dan sebagai upaya mengagregasikan kepentingan politiknya, pada tahun yang sama, Amien mendirikan Partai Amanat Nasional (PAN) dan sekaligus menjabat sebagai Ketua Umum DPP PAN yang pertama. Amien kemudian terpilih menjadi Ketua MPR RI 1999-2004.

Trik retorika Reformasi Amien masih terlihat berkuasa dan membuatnya berhasil mengusung Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi Presiden ke-4 RI mengalahkan Megawati Soekarnoputri.

Bahkan kekuatan aura marwah Amien Rais kembali terjadi. Banyak pihak menyebutnya sebagai salah satu aktor di balik pemakzulan Gus Dur dan oto-matis membuat Wakil Presiden Megawati menjadi Presiden ke-5 RI dalam Sidang Istimewa MPR tahun 2001.

Namun yang paling menarik dari sikap Amien, walau yang bersangkutan tokoh Reformasi yang menumbangkan tirani Orde Baru, tapi tidak pernah mengkampanyekan dirinya maju menjadi Presiden.

Amien belakangan gencar mengkritik pemerintahan Jokowi. Optimistis ini beralasan karena Mahathir yang telah berumur 92 tahun kembali menjadi Perdana Menteri (PM) Malaysia mengalahkan petahana Najib Razak. Peristiwa ini melecut semangat Amien Rais yang saat ini genap berusia 74 tahun. Sosok yang mewakafkan sisa umur untuk kemaslahatan umat,tentunya dikenang sepanjang masa.

Meski wacana tersebut berlalu dalam kesunyian, tapi melihat sosok Amien yang diasosiasikan dengan Mahathir menjadi perbincangan yang menarik. Lantas, seperti apa melihat perbandingan kedua tokoh yang sama-sama telah “berusia” dalam kancah politik?

Sebagai sosok yang dinobatkan sebagai Bapak Reformasi, wajar jika kritik Amien dilontarkan kepada pemimpin negeri ini. Hal itu sebagai tanggung jawab yang diembannya sebagai salah satu tokoh bangsa. Oleh karena itu, aktivitas politik Amien rasanya tidak bisa langsung ditafsirkan sebagai upayanya untuk kembali berselancar dalam dunia politik lagi.

Yusuf Kalla : Utang Negara Membengkak

Yusuf Kalla merupakan sosok yang mencatat seja-rah sebagai Wakil Presiden atau Wapres untuk dua massa Presiden, yakni Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Jokowi.

Pernah menjadi Wapres di dua Presiden tersebut, belakangan Jusuf Kalla (JK) menyinggung mengenai hutang negara yang membengkak.

Hutang negara di era Presiden Jokowi yang kini telah membengkak. Mengenai hal ini, Pengamat Politik, Rocky Gerung mengungkapkan tentunya posisi Jusuf Kalla tidak bisa dipandang sebelah mata.

Diungkapkan jika sepak terjang Jusuf Kalla sudah sangat berpengalaman. Yusuf Kalla mengetahui persis sisi gelap kepemimpinan bangsa ini.

“Pak Jusuf Kalla ini adalah bagian dari orang yang mengerti kegelapan bangsa ini,” ujar Rocky dalam akun youtube miliknya melansir wartaekonomi-jaringan Suara.com, Selasa (19/4/2022).

Seorang Jusuf Kalla sudah berpengalaman, dengan kondisi bangsa ini. Peringatan seorang JK hanyalah sebuah pernyataan yang diulang berkali-kali.

“Karena dia ada di dalam pusat kekuasaan Jokowi dan tahu apa yang disebut utang. Jadi peringan Pak Jusuf Kalla betul-betul hanya mengulang sebetulnya yang beliau sudah ucapkan berkali-kali,” tegas Rocky. Panggilan akrab JK menyinggung soal kondisi utang pemerintah saat ini. Hal ini dikhawatirkan olehnya karena pemimpin setelah Jokowi harus bisa mengatasi “warisan” utang era Jokowi.

“”Utang terus naik, bunganya saja kalau rata-rata 6 persen karena obligasi atau 7–8 persen, itu berarti membayar bunga saja Rp 400 triliun,” kata Jusuf Kalla dikutip wartaekonomi.id-jaringan Suara.com.

Dikutip dari berbagai sumber.

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
SHARE:
beritaTerkait
PROLETAR SURATI KAPOLRESTABES MEDAN, KAPOLDASU HINGGA KAPOLRI: PERTANYAKAN LAMBANNYA PENANGANAN LAPORAN
KRI Bima Suci Tiba di Belawan, Rico Waas Siap Kenalkan Potensi Medan ke Mata Dunia
Aktivitas Gunung Sorikmarapi Meningkat, Ini Himbauan Bupati Madina Saipullah Nasution Saat Turun Langsung Pantau Pos Pengamatan
Menguatkan nilai kemanusiaan, Sat Narkoba Polresta Deli Serdang Berikan Santunan kepada Anak Yatim Piatu
Ketua RANZ Medan Bantah Pemko Lamban Tangani Sampah, Ibrahim : Program PSEL Sudah Berjalan
Mallorca Paksa Real Madrid Menelan Kekalahan di Markas Sendiri
komentar
beritaTerbaru