Minggu, 23 Agustus 2026

Ini Keunikan Masjid Jogokariyan, Ada Islamic Centernya

Administrator - Sabtu, 18 September 2021 13:49 WIB
Ini Keunikan Masjid Jogokariyan, Ada Islamic Centernya

Jogyakarta I Sumut24.co Nama Masjid Jogokariyan mendadak ramai jadi perbincangan seiring terjadinya ketegangan antara jemaah masjid dengan simpatisan sebuah partai politik. Ketegangan akhirnya bisa diredam setelah terjadinya kesepakatan.

Baca Juga:

Seperti apa sejarah masjid tersebut? Masjid Jogokariyan terletak di Jalan Jogokariyan 36, Mantrijeron, Kota Yogyakarta. Dilansir dari masjidjogokariyan.com, nama Masjid Jogokariyan itu disematkan dari nama kampung masjid tersebut berada.

Keberadaan masjid tersebut dimulai dari ide H. Jazuri, pengusaha batik dari Karangkajen yang memiliki rumah di Kampung Jogokariyan. Pada 20 September 1965, di atas tanah hasil tukar guling dilaksanakan peletakan batu pertama.

Bangunan masjid berukuran 9×9 m2 ditambah serambi 9×6 meter persegi. Total luas bangunan adalah 15×9 meter persegi terdiri dari Ruang Utama dan Serambi. Bangunan seluas 135 meter persegi, sedangkan luas tanah adalah 660 meter persegi.

Pada Agustus 1967, dalam rangkaian HUT RI ke-22, Masjid Jogokariyan diresmikan oleh ketua PDM (Pimpinan Daerah Muhammadiyah) Kota Yogyakarta. Selanjutnya, pada 20 Agustus adalah pembangunan aula ukuran 19×6 meter persegi di sebelah selatan masjid yang di tengahnya masih ada halaman.

Namun, dalam perkembangan masjid tidak lagi mencukupi luapan jemaah sehingga pada 1976 dibangunlah serambi selatan dengan atap seng dan pada 1978 dibangun serambi utara dengan atap alumunium krei.

Masjid tak lagi memiliki halaman, bahkan jalan masuk dari depan (arah timur) tempat meletakkan sandal saja tak ada. Karena itu, takmir memutuskan membeli tanah milik Sukaminah Hadits Hadi Sutarno seluas 100 meter persegi sehingga pada 1978, luas tanah masjid menjadi 760 meter persegi.

Dari tahun ke tahun, masjid tersebut terus berkembang, kemudian dibangun Islamic Center Masjid Jogokariyan sehingga luas tanahnya menjadi 1.478 meter persegi. Islamic Center tersebut dibangun tiga lantai. Di lantai 3 dibangun 11 kamar penginapan dan di lantai 2 meeting room untuk menjadi usaha masjid menuju masjid yang mandiri secara finansial.

“Kampung Jogokariyan yang dibuka sejak masa HB IV, setelah penduduk ndalem Beteng Baluwerti Keraton telah sesak, makan Bergodo-Bergodo prajurit Kesatuan dipindah keluar beteng bersama keluarganya dan Abdi Dalem Prajurit dari Kesatuan “Jogokariyo” dipindah di selatan benteng, di utara Panggung Krapyak atau Kandang Menjangan, sehingga tempat tinggal/Palungguhan Prajurit ini sesuai dengan Toponemnya dikenal dengan nama “Kampung Jogokariyan”,” tulis situs tersebut.

UNIKNYA MASJID JOGOKARIYAN YOGYA

Jika ditanya jumlah masjd mewah di Indonesia, tentu ada banyak sekali.

Jika ditanya, masjid mana yang paling luas. Juga teramat banyak jumlahnya.

Tapi, di antara masjid itu adakah yang mengganti sandal jamaahnya yg hilang seusai salat?

Atau memberi beasiswa dan mencarikan kerja kepada kaum fakir?

Jika Anda menginginkan ‘fasilitas’ itu, maka jadilah jamaah Masjid Jogokariyan.

Bangunan masjidnya sederhana, namun pengelolaannya jangan ditanya. Jauh meninggalkan masjid yang tergolong mewah dan modern di atas.

Kala mengunjungi adik saya, beberapa hari lalu di Yogyakarta. Saya mendatangi masjid di tengah kampung Jogokariyan itu.

Saya diberitahu, masjid ini mendata seluruh jamaahnya. Kemudian diwawancarai. Dari wawancara diketahui, apa masalah dan kelebihan jamaah.

Biasanya dari ‘database’ tadi akan keliatan jamaah yang duafa. Belum punya pekerjaan hingga jomblo karatan? Hiyaa.

Sejak dulu saya penasaran akan masjid yang terkenal seantero Indonesia ini.

Banyak utusan pengelola masjid yang datang demi mempelajari konsepnya. Dalam dan luar negeri.

Konsep masjid Jogokariyan nyatanya cukup sederhana: Bertanggung jawab kepada jamaah dan warga.

Contoh kecilnya, jika ada warga yang jarang ke masjid, akan didatangi dicaritahu masalahnya.

Jika belum memiliki pekerjaan bakal dipertemukan dengan jamaah masjid yang punya usaha.

Jika ada warga atau jamaah yang menderita sakit akan dibantu pengobatannya.

Atau rumahnya kurang layak huni, akan dibantu merenovasinya. Informasinya melalui database jamaah tadi.

Semua dana diperoleh dari kas masjid. Masjid dijadikan one door solution-lah pokoknya.

Saldo masjid tidak boleh terisi. Sedekah dan infak jemaah harus dihabiskan saat pelaporan.

Selepas Jumat di akhir Ramadan ini. saya memotret pemasukannya, sudah mencapai 700 juta rupiah. Ajaibnya, itu baru donasi takjil.

Mungkin karena sedekah masyarakat disalurkan begitu cepat, maka pemasukannya pun tak berhenti mengucur. Ibarat air terjun yang jatuh, deras menjangkau mereka yang berada di bawah. red

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
SHARE:
beritaTerkait
Bupati Tapsel Gus Irawan Ajak BKMT Perkuat Nilai Agama, Bentengi Keluarga dari Tantangan Zaman
Hari Jadi Polwan ke-78, Polres Padangsidimpuan Gelar GASPOL Perempuan dan Sambangi Panti Jompo
Hari Juang Polri 2026 di Padang Lawas: Kapolres Dodik Yuliyanto Tegaskan Semangat Pengabdian
1 Hektare Lahan Bawang Putih Ditanam di Madina, Kapolres: Ketahanan Pangan Harus Diperkuat
Ngaku Ambil AC dan Genset Tanpa Izin, Pemuda 22 Tahun Berurusan dengan Polisi
Petani 48 Tahun di Tapsel Tewas di Saluran Sawah, Sebelumnya Sempat Muntah Usai Makan Kacang
komentar
beritaTerbaru