Medan I Sumut24 CO
Tiga hal paling penting bagi setiap mahasiswa agar bisa tetap berprestasi, baik di lingkungan kampus maupun di lingkungan masyarakat tempat tinggalnya. Hal itu disampaikan oleh Bapak Okky Putra Barus, S. Kom., M. M., M. TI sebagai Ketua Program Studi (Kaprodi) Sistem Informasi Universitas Pelita Harapan (UPH) Kampus Medan kepada Sumut24.co saat wawacara via Zoom Meeting, Jumat (21/5/2021).
Baca Juga:
Zoom meeting tersebut juga dihadiri
Ibu Theresia Purba menjabat Student Consultant UPH Kampus Medan.
Lebih lanjut dikatakan, strategi ini yang diterapkannya kepada seluruh mahasiswa/i, serta para dosen di Universitas Pelita Harapan (UPH) Medan.
Kuncinya, ujar Okky Barus, bagaimana kita terus berupaya memberikan dampak dan pelayanan yang lebih baik kepada sekitar kita. Baik mahasiswa, sesama dosen dan juga masyarakat.
Dengan demikian, kalau kita terus berupaya memberikan manfaat bagi banyak orang, kita juga harus upgrade ilmu pengetahuan kita agar lebih baik, supaya kita dapat melayani lebih baik lagi.
Dan hal ini sesuai dengan visi dan misi UPH yakni menjadi warga negara yang melayani Tuhan, negara dan sesama.
“Jadi strategi atau kiatnya adalah selalu mempersiapkan diri untuk dapat melayani lebih baik lagi,” ujar Okky.
Agar mahasiswa dapat melahirkan prestasi gemilang, ujarnya, salah satunya adalah, membangun lingkungan akademis dan melakukan team coaching bagi mahasiswa yang berkompetisi.
“Ini sangat penting yang sudah kita lakukan bersama dosen-dosen yang ada di UPH,” sebutnya.
“Saya selalu sampaikan kepada mahasiswa bahwa di UPH, kita tidak sedang memindahkan isi textbook kepada pikiran mahasiswa. Mahasiswa sangat perlu berinteraksi dengan dunia luar. Baik melalui kegiatan kompetisi, internship/magang, networking dan sebagainya. Oleh karena itu hal ini tidak cukup kalau hanya disampaikan saja kepada mahasiswa. Tapi, mahasiswa perlu mentoring secara personal,” ujar peraih Juara 1 Libanev Universitas Pelita Harapan, 2021.
“Kita ajak dosen-dosen kita tidak hanya menjadi perwakilan orangtua di kampus, tetapi menjadi mentor yang dapat mendampingi mereka beradaptasi dengan dunia luar. Dan hal ini tidak hanya dilakukan oleh dosen, tetapi juga oleh alumni yang saat ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa UPH untuk bekerja di perusahaan yang mereka dirikan atau di tempat mereka bekerja,” sebutnya.
Jadi inisiasi pertama adalah membangun environmentnya. Suasana akademisnya. Kedua, saat ini kita juga sudah berdiri dengan status One UPH.
Di LV, ada inisiasi Student interest club dimana mahasiswa diberikan kesempatan mengikuti club di bidang IT yang dibimbing langsung oleh dosen-dosen yang ada di LV Jakarta.
Jadi mahasiswa dapat mengikuti club IT tersebut. Pilihan clubnya ada bermacam-macam mulai dari hacking, technopreneur, competitive programming dan sebagainya. Jadi sejak ONE UPH, program yang ada di LV juga dapat dinikmati oleh kita yang di kampus Medan.
Bagi mahasiswa UPH di Medan, juga bisa mengikuti program ini. Sehingga proses pembelajaran dilahirkan dari rasa penasaran.
“Menurut saya, belajar yang paling baik adalah karena “kepo†atau penasaran. Dan hasilnya cukup baik, tahun lalu desember mahasiswa kita juara nasional di bidang business idea solution technopreneurship,” ujar Okky.
Jadi setelah kita bangun environmentnya suasana akademisnya, Kita bangun platform komunitasnya
Dan yang ketiga mengubah jalur komunikasi di kondisi pandemi.
Masih dikatakan penganut multidisiplin ilmu yang merupakan alumni Magister Manajemen dan Magister Teknologi Informasi ini,bahwa kondisi pandemic mengakibatkan komunikasi menjadi kendala. Oleh karena itu, program studi mengoptimalkan menjaga interaksi antara dosen dan mahasiswa dengan berbagai platform. Untuk mensosialisasikan kemana arah kita, mengingatkan pentingnya untuk bertumbuh dan menjadi dampak buat keluarga dan orang sekitar kita.
“Jadi dari awal kita selalu membangun Koneksi dan hubungan dengan mahasiswa. Kita tidak bangun benteng dengan mahasiswa. Dan itu sudah kita lakukan sejak 2015.” ujar peraih hibah penelitian dari pemerintah, 2020 lalu.
Okky menjelaskan bahwa Gerakan ini tentu tidak bisa dilakukan oleh dirinya sendiri saja. Puji Tuhan dosen di Medan, memiliki background industri ada yang IT Manager, ada yang senior engineer, consultant, technopreneur dan sebagainya jadi apa yang didapatkan mahasiswa di kelas bukan sejarah, tetapi realita industri.
Bicara tentang prestasi, ujar Okky Barus, sebagai dosen tentu salah satu prestasi yang kita kejar adalah berdampak terhadap dunia akademis melalui jalur penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.
“Puji Tuhan kita sudah mendapatkan research grant / pendanaan riset dari menristekdikti. Dan untuk achievement di tingkat internasional mungkin dalam bentuk publikasi internasional. Dimana kita mendokumentasikan hasil penelitian kita untuk dapat memberikan sumbangsih pengetahuan kepada masyarakat global,” ujarnya.
Kalau dari sisi mahasiswa di prodi, puji Tuhan prestasi terakhir tahun lalu kita bersama mahasiswa menjuarai kompetisi business idea competition.
Terakhir dapat kabar alumni kita masuk forbes 30 under 30 Asia, kita juga encourage mahasiswa/i kita untuk aktif dan juga dosen kita untuk berkarya dan berdampak. Hopefully tahun ini akan muncul prestasi-prestasi lainnya.
Selain dirinya sebagai dosen UPH yang berhasil menorehkan prestasi gemilang, ada beberapa dosen yang juga menerima hibah riset penelitian dengan angka-angka yang cukup besar .
Ini semua artinya, penelitian yang sudah dilakukan dosen-dosen UPH Medan memiliki dampak yang signifikan.
“Jadi seperti yang saya sampaikan tadi, bahwa ini tidak bisa dikerjakan oleh seseorang saja. Perlu sebuah komunitas yang dapat merealisasikan visi dan misi UPH sebaik-baiknya,” sebutnya.
Kepada seluruh mahasiswa/i UPH Medan, peraih Juara 1 Indonesia Teacher Prize Presented by Ruangguru, 2020 ini selalu menutup sesi interview dengan mengatakan bahwa semua anak -anak Indonesia itu cerdas-cerdas. Tetapi saat ini kita hidup di kondisi yang penuh dengan distraksi.
“Internet yang ada di tangan kita, sebenarnya sebuah opportunity. Tetapi di sisi lain juga menjadi distraksi. Oleh karena itu penting untuk mahasiswa beradaptasi dengan baik dengan kondisi saat ini. Usia 20an (rata-rata usia mahasiswa) adalah masa-masa emas yang tidak akan dapat terulang lagi. Ini adalah masa-masa dimana mereka harus experiment banyak hal. Jangan jadi mahasiswa yang kuliah-pulang-kuliah pulang. Atau mahasiswa yang demen “nongkrong†saja. Nongkrong ada defenisinya di New York Times. (sitting, talking and doing nothing),” sebutnya.
Mahasiswa harus banyak-banyak melakukan aktivitas pro-bono.
Jangan jadikan uang sebagai tujuan di usia 20an ini. Kejar apa yang dapat memberikan value untuk bertumbuh di masa depan.
“Saya selalu bilang bahwa usia 20an itu adalah usia sebuah benih ditanamkan. Dan usia 30 adalah masa-masa pertumbuhan. Oleh karena itu manfaatkan masa-masa kuliah ini, untuk menemukan dan memaksimalkan panggilan kita dalam hidup.,” imbuhnya. (R03)
Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di
Google News