Jumat, 01 Mei 2026

Kepala BI Sumut Wiwiek : Tekanan Inflasi Sumut Capai 4,30 Persen

Administrator - Senin, 08 Juli 2019 13:48 WIB
Kepala BI Sumut Wiwiek : Tekanan Inflasi Sumut Capai 4,30 Persen

Medan I SUMUT24.CO Sumatera Utara (Sumut) saat ini mengalami tekanan inflasi yang tinggi, dimana secara year to date (ytd) atau Juni 2019 inflasi Sumut sudah mencapai 4,30%. Angka tersebut bahkan sudah mendekati batas atas inflasi nasional sebesar 4,5%.

Baca Juga:

Kepala Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Sumut, Wiwiek Sisto Widayat, mengatakan, realisasi inflasi sebesar 4,30% memang sudah mendekati batas atas sasaran inflasi nasional 4,5%. “Karena target kita 3,5% plus minus 1%. Jadi dengan inflasi kumulatif sebesar 4,3%, tentu akan menjadi pekerjaan berat hingga akhir tahun,” katanya, dalam acara Bincang-bincang Bersama Media, di Medan, Senin (8/7/2019.

Dia menyebutkan, berbagai upaya telah dilakukan pemerintah daerah (Pemda) bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Sumut dalam mengendalikan inflasi di Sumut. Menurutnya, pemerintah di dalam pengendalian inflasi daerah terus melakukan diskusi untuk mencari berbagai terobosan dalam mengendalikan inflasi ini. Karena masalahnya terkait kondisi suplay dan demand komoditi tertentu, terutama cabai merah.

Memang peran cabai merah sangat besar kepada inflasi Sumut di tahun 2019 ini. Karena hampir 70% inflasi Sumut dipengaruhi oleh cabai merah.

“Ini yang harus kita carikan solusinya. Bagaimana kita ke depan bisa mencari cara dan solusi untuk menurunkan konsumsi serta harga cabai merah. Kalau tidak, kita bisa memiliki inflasi lebih tinggi dari sasaran inflasinya,” katanya.

Beberapa hal yang harus dilakukan terkait pengendalian cabai merah antara lain database yang lengkap terutama terkait produksi dan distribusinya. Kemudian konsumsi dan bagaimana pembentukan harga pokok di tingkat petani, pedagang besar dan pedagang eceran sehingga pemerintah daerah bisa masuk secara lebih spesifik. Jadi akan diketahui mana-mana yang bisa dipengaruhi, misalnya margin di pedagang besar hingga bagaimana meningkatkan efisiensi petani.

Kedua, diperlukan adanya anggaran dari Pemda jika diperlukan sewaktu-waktu untuk melaksanakan operasi pasar (OP). Lalubketiga mencari solusi jangka panjang misalnya bagaimana agar petani tidak menjual langsung ke masyarakat. Tetapi produksi petani bisa ditampung di dalam suatu lembaga atau institusi, seperti dalam alat yang bisa mempertahankan kualitas cabai untuk jangka yang lebih panjang 3-4 bulan. Jadi produksi tinggi, bisa disimpan dan bisa dijual pada saat produksi tidak ada.

Keempat, harus dilakukan kerja sama antar daerah. Kerja sama ini penting sekali, karena kabupaten/kota bisa mempengaruhi dan bisa memberikan support kepada petani agar bisa menjual kepada daerah lain. “Misalnya Humbahas produksi cabainya tinggi, bisa bekerjasama dengan daerah yang produksinya rendah,” jelasnya.

Dia mengatakan, hampir sebagian besar kebutuhan cabai di Sumut, dikonsumsi di Kota Medan. Dan inflasi di Sumut 82% dibentuk oleh Kota Medan, selain ada tiga kota seperti Pematang Siantar 10%, Sibolga 3%, dan Padang Sidimpuan sebesar 5%.

“Jadi Medan merupakan titik prioritas utama kalau ingin mengendalikan inflasi di Sumut. Kendalikan inflasi di Medan, maka akan mengendalikan inflasi di Sumut,” kata Wiwiek. (red)

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
SHARE:
beritaTerkait
Polrestabes Medan Gerebek Dua Kamar Apartemen Jadi Gudang Penyimpanan Vape Narkoba
Ketua Umum PP TPI Prof Dr Ismed Daniel Nasution : Keikhlasan dan Pendidikan Jadi Kunci Membangun Generasi
H. Ikrom Helmi Nasution Serahkan Lagu “Mars Medan untuk Semua” Kepada Walikota Medan pada Acara Tasyakuran TPI
Kembangkan Kasus, Sat Narkoba Polres Pelabuhan Belawan Tangkap 2 Pengedar dan 5 Pengguna Shabu
Terduga Pelaku Begal dan Pencurian Tangkapan Pomal Dirawat di Rumah Sakit Komang Makes TNI AL Belawan
UNPAB Resmi Buka Program Studi Teknik Industri, Terima SK Izin dari Kemendiktisaintek
komentar
beritaTerbaru