418 Warga Kuta Tengah Dipulangkan dari Pengungsian, Polda Sumut Kawal Proses Kepulangan
418 Warga Kuta Tengah Dipulangkan dari Pengungsian, Polda Sumut Kawal Proses Kepulangan
News
Baca Juga:
Madina | Sumut24.co
Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai mengubah cara dunia melihat sektor pertanian. Tanaman tidak lagi hanya dipandang sebagai hasil produksi dari lahan, tetapi juga sebagai sumber data yang dapat dipetakan, dianalisis dan dimanfaatkan untuk mengambil keputusan ekonomi.
Perubahan tersebut membuka peluang sekaligus tantangan bagi Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara, yang perekonomiannya masih sangat berkaitan dengan sektor pertanian dan perkebunan.
Padi, jagung, palawija, cabai, kopi Mandailing, kelapa, kakao hingga komoditas perkebunan lainnya bukan hanya menghasilkan produk bagi masyarakat. Jika dikelola dengan teknologi digital, seluruh aktivitas tersebut juga dapat menghasilkan data mengenai lahan, produksi, cuaca, distribusi, harga hingga rantai pasok.
Kondisi inilah yang membuat sektor pertanian Madina memiliki hubungan dengan perkembangan teknologi global, termasuk ekosistem komputasi AI yang melibatkan perusahaan seperti NVIDIA, operator telekomunikasi seperti Telkomsel dan perusahaan teknologi lainnya.
Namun, persoalannya bukan sekadar apakah Madina mampu menggunakan AI.
Pertanyaan yang lebih penting adalah siapa yang akan menguasai data, mengembangkan solusi, dan menikmati nilai ekonomi dari digitalisasi sektor pertanian tersebut.
Transformasi digital memungkinkan berbagai persoalan pertanian dianalisis menggunakan data.
Citra satelit dan drone, misalnya, dapat dimanfaatkan untuk memantau kondisi lahan dan tanaman. Kamera telepon pintar juga berpotensi digunakan untuk mendeteksi gejala penyakit tanaman melalui sistem berbasis AI.
Data curah hujan, kondisi tanah, umur tanaman, pemupukan dan riwayat produksi dapat dikombinasikan untuk memperkirakan produktivitas maupun risiko gagal panen.
Bagi pemerintah daerah, data tersebut dapat membantu menentukan wilayah yang membutuhkan perhatian lebih cepat.
Mulai dari lahan produktif, daerah rawan gagal panen, kebutuhan irigasi, distribusi pupuk hingga potensi pengembangan komoditas dapat dipetakan dengan lebih terukur.
Namun, teknologi tidak otomatis menghasilkan keputusan yang benar.
Kualitas hasil analisis AI sangat bergantung pada kualitas data yang digunakan.
Jika data luas lahan tidak akurat, hasil pemetaan dapat keliru. Jika data produksi tidak lengkap, prediksi produktivitas berpotensi meleset. Begitu pula jika masyarakat dan petani tidak memiliki akses internet yang memadai.
Dengan kata lain, transformasi digital bukan hanya persoalan membeli perangkat atau membuat aplikasi.
Ada persoalan data, jaringan internet, listrik, sumber daya manusia, kelembagaan serta kemampuan pemerintah dan masyarakat dalam memanfaatkan teknologi.
Tantangan tersebut menjadi semakin jelas ketika melihat kondisi konektivitas di Madina.
Pada Mei 2026, Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal menyebut masih terdapat sekitar 40 dari 404 desa/kelurahan yang berada dalam kondisi blank spot atau belum memperoleh akses internet secara memadai.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri ketika pemerintah ingin mendorong pemanfaatan teknologi digital di sektor pertanian.
Sebab, secanggih apa pun aplikasi yang dibuat, manfaatnya akan terbatas apabila petani tidak memiliki jaringan untuk mengaksesnya.
Masalah lainnya adalah literasi digital dan pemanfaatan pasar digital.
Petani dan pelaku usaha lokal tidak cukup hanya diberikan akses internet. Mereka juga perlu memahami bagaimana menggunakan teknologi untuk memperoleh informasi harga, memperluas pasar, mengelola transaksi, membangun jaringan distribusi dan meningkatkan efisiensi usaha.
Karena itu, pembangunan konektivitas di daerah tidak semestinya hanya dipandang sebagai proyek komunikasi.
Internet juga merupakan bagian dari infrastruktur ekonomi.
*Ketika Madina Bertemu Ekosistem AI Global*
Pada saat sebagian wilayah Madina masih berjuang memperluas konektivitas, dunia teknologi bergerak jauh lebih cepat.
NVIDIA menjadi salah satu perusahaan yang berada di pusat perkembangan industri AI global melalui teknologi accelerated computing, GPU, perangkat lunak dan ekosistem komputasi yang digunakan untuk menjalankan berbagai aplikasi AI.
Di Indonesia, perkembangan ekosistem tersebut juga semakin terlihat.
Pada Agustus 2026, Zankore by Indosat diperkenalkan sebagai platform AI Factory dengan target kapasitas hingga 1 gigawatt dalam tiga tahun. Tahap awalnya ditargetkan mencapai sekitar 200 megawatt pada semester pertama 2027 dengan penggunaan NVIDIA GB300 NVL72.
Di sisi lain, Microsoft juga telah membangun Indonesia Central sebagai cloud region pertamanya di Indonesia dan mempertahankan komitmen investasi sebesar US$1,7 miliar untuk pengembangan infrastruktur cloud dan AI hingga 2028.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa AI tidak lagi hanya berbicara mengenai aplikasi yang digunakan melalui telepon genggam.
AI kini berkaitan dengan infrastruktur dalam skala besar.
Ada pusat data, GPU, jaringan, cloud, energi, perangkat lunak, modal dan talenta digital yang menjadi bagian dari ekosistem tersebut.
Telkomsel memiliki posisi berbeda dengan NVIDIA.
Jika NVIDIA dikenal sebagai pemain utama dalam teknologi GPU dan komputasi AI, Telkomsel merupakan perusahaan telekomunikasi yang menyediakan konektivitas dan layanan digital bagi masyarakat serta pelaku usaha.
Namun, perkembangan AI membuat berbagai lapisan teknologi tersebut semakin terhubung.
Telkomsel sebelumnya juga terlibat dalam pengembangan GPU-as-a-Service (GPUaaS) untuk pasar Indonesia melalui kerja sama dengan Singtel dan Bridge Alliance. Layanan tersebut memberikan akses terhadap infrastruktur komputasi AI NVIDIA dengan dukungan konektivitas 5G Telkomsel.
Telkomsel juga mengembangkan penerapan AI pada jaringan telekomunikasi, antara lain melalui predictive intelligence dan digital twin untuk membantu memprediksi kebutuhan kapasitas serta potensi gangguan jaringan.
Dengan demikian, hubungan NVIDIA dan Telkomsel lebih tepat dilihat sebagai bagian dari ekosistem teknologi yang saling melengkapi daripada sebagai dua perusahaan yang sedang berhadapan dalam sebuah persaingan langsung.
Istilah "perang digital" dalam konteks ini lebih tepat dipahami sebagai gambaran mengenai persaingan memperebutkan teknologi, infrastruktur, data, pasar, modal dan nilai ekonomi.
*Tiga Lapisan Ekonomi Digital*
Perubahan tersebut dapat dilihat melalui tiga lapisan.
Pertama adalah lapisan global, tempat perusahaan teknologi dunia, produsen chip, penyedia cloud, pusat data dan investor berskala internasional bergerak.
Kedua adalah lapisan nasional, yang mencakup operator telekomunikasi, perusahaan teknologi Indonesia, penyedia cloud, pemerintah dan berbagai pelaku ekonomi digital.
Ketiga adalah lapisan lokal, tempat aktivitas ekonomi masyarakat berlangsung secara langsung.
Madina berada di lapisan ketiga.
Di sana terdapat petani, sawah, kebun, koperasi, UMKM, pasar, gudang, jalan distribusi dan berbagai aktivitas ekonomi lainnya.
Ketiga lapisan tersebut kini semakin terhubung.
Teknologi global membutuhkan jaringan nasional. Jaringan nasional membutuhkan aktivitas ekonomi lokal. Sementara sektor ekonomi lokal membutuhkan teknologi agar mampu meningkatkan produktivitas dan memperluas pasar.
Di sinilah komoditas pertanian Madina memiliki arti strategis.
Sayuran yang diproduksi petani pada dasarnya memiliki rangkaian data yang panjang.
Ada data mengenai siapa yang menanam, lokasi lahan, luas lahan, jenis tanaman, waktu tanam, penggunaan pupuk, kondisi cuaca, hasil panen, harga jual, pembeli dan jalur distribusi.
Jika data tersebut dikelola secara baik, informasi itu dapat menjadi aset ekonomi.
Pemerintah dapat menggunakannya untuk menyusun kebijakan.
Pelaku usaha dapat memanfaatkannya untuk mengatur rantai pasok.
Koperasi dapat menggunakannya untuk mengelola produksi anggota.
Sementara petani dapat memperoleh informasi yang lebih baik mengenai pasar, produktivitas dan kebutuhan produksi.
Namun, muncul persoalan baru: siapa yang memiliki dan mengendalikan data tersebut?
Pertanyaan ini penting karena data memiliki nilai ekonomi yang semakin besar.
Jika data pertanian suatu daerah dikumpulkan, diproses dan dianalisis oleh pihak lain, sementara masyarakat lokal hanya menjadi sumber data sekaligus pengguna akhir teknologi, maka nilai tambah terbesar belum tentu berada di daerah tersebut.
Karena itu, digitalisasi harus disertai strategi pengelolaan data yang jelas.
*Madina Tidak Harus Membuat NVIDIA*
Madina tidak perlu bercita-cita menjadi produsen GPU atau membangun pusat data raksasa untuk mendapatkan manfaat dari AI.
Peluang yang lebih realistis justru berada pada kemampuan menggunakan teknologi yang sudah tersedia untuk menyelesaikan persoalan lokal.
Beberapa peluang yang dapat dikembangkan antara lain sistem pemetaan lahan, pemantauan kesehatan tanaman berbasis citra, prediksi produksi, rekomendasi pemupukan, prediksi harga komoditas, digitalisasi koperasi, marketplace hasil pertanian serta sistem pencatatan produksi petani.
Pelaku usaha lokal juga dapat memanfaatkan layanan cloud dan berbagai model AI tanpa harus memiliki supercomputer sendiri.
Kuncinya bukan menciptakan teknologi paling mahal.
Kuncinya adalah memahami persoalan lokal dan kemudian mencari teknologi yang paling tepat untuk menyelesaikannya.
Hal tersebut sekaligus membuka ruang bagi generasi muda Madina untuk masuk ke sektor ekonomi digital.
Mereka tidak harus semuanya menjadi programmer.
Ada peluang sebagai pengembang bisnis, analis data, pengelola platform, penghubung petani dengan pasar, pengembang produk digital maupun pelaku usaha yang memanfaatkan AI untuk meningkatkan efisiensi bisnis.
*Pemerintah Perlu Memulai dari Hal Paling Dasar*
Bagi pemerintah daerah, langkah pertama bukan membuat proyek AI berskala besar.
Fondasinya justru harus dimulai dari pembenahan data.
Data mengenai lahan, produksi, komoditas, petani, infrastruktur dan wilayah harus semakin akurat serta dapat diperbarui.
Konsep Satu Data juga menjadi penting agar data antarorganisasi perangkat daerah tidak berjalan sendiri-sendiri.
Langkah berikutnya adalah memperluas konektivitas.
Jika masih terdapat desa yang mengalami blank spot, persoalan tersebut perlu ditempatkan sebagai bagian dari agenda pembangunan ekonomi.
Selain jaringan, energi juga menjadi faktor penting.
Pusat data dan komputasi AI membutuhkan listrik dalam jumlah besar. Namun masyarakat, petani dan industri lokal juga membutuhkan pasokan listrik yang andal.
Karena itu, pembangunan digital tidak dapat dipisahkan dari pembangunan infrastruktur dasar.
Hal lain yang tidak kalah penting adalah talenta.
Masyarakat harus memiliki kemampuan untuk memahami teknologi, menggunakan data dan memanfaatkan AI secara produktif.
*Mulai dari Proyek Kecil*
Digitalisasi Madina juga tidak harus dimulai dengan proyek raksasa.
Pemerintah dapat memilih satu komoditas, satu kawasan, satu koperasi dan satu persoalan untuk dijadikan proyek percontohan.
Misalnya, bagaimana teknologi digunakan untuk meningkatkan produktivitas satu komoditas pertanian tertentu.
Hasilnya kemudian diukur.
Jika berhasil, model tersebut dapat diperluas.
Jika gagal, dilakukan evaluasi sebelum menghabiskan anggaran lebih besar.
Pendekatan tersebut dinilai lebih masuk akal dibandingkan membuat banyak aplikasi yang belum tentu digunakan masyarakat.
Sebab ukuran keberhasilan transformasi digital bukan jumlah aplikasi yang dibuat atau banyaknya kegiatan seminar.
Ukuran yang lebih penting adalah apakah teknologi tersebut mampu menyelesaikan masalah nyata dan meningkatkan nilai ekonomi masyarakat.
*Madina Harus Menjadi Pemain*
Madina tidak perlu memenangkan persaingan AI dunia.
Namun, Madina perlu memahami perubahan tersebut agar tidak hanya menjadi pasar atau sumber data bagi teknologi yang dikembangkan pihak lain.
Pertanian daerah memiliki peluang untuk masuk ke dalam ekosistem ekonomi digital.
Lahan dapat dipetakan.
Tanaman dapat dipantau.
Produksi dapat diprediksi.
Harga dapat dianalisis.
Rantai pasok dapat diperbaiki.
Pasar dapat diperluas.
Semua itu dapat meningkatkan nilai ekonomi jika dikelola dengan tepat.
Persoalannya kemudian bukan lagi apakah Madina akan masuk ke dunia digital.
Madina sudah berada di dalamnya.
Pertanyaan yang lebih penting adalah Madina akan mengambil posisi sebagai apa?
Apakah hanya sebagai konsumen teknologi?
Sebagai pasar?
Sebagai pemasok data?
Sebagai pemasok bahan mentah?
Atau sebagai daerah yang mampu menggunakan teknologi global untuk meningkatkan nilai ekonomi masyarakatnya sendiri?
Di tengah perkembangan AI, posisi tersebut harus mulai dipikirkan.
Sebab hubungan antara tanah Madina dan teknologi global sebenarnya sudah semakin dekat.
Dari kebun menuju data.
Dari data menuju jaringan.
Dari jaringan menuju pusat komputasi.
Dari pusat komputasi menuju AI.
Dan pada akhirnya, semua itu kembali pada satu persoalan mendasar: siapa yang menikmati nilai tambah dari perubahan teknologi tersebut?
Bagi Madina, tantangan masa depan bukan sekadar menjadi daerah yang terkoneksi internet.
Tantangannya adalah memastikan konektivitas, data dan teknologi benar-benar mampu meningkatkan kesejahteraan petani, memperkuat dunia usaha lokal dan membuat lebih banyak nilai ekonomi tetap tinggal di daerah.
Karena itu, sayur Madina mungkin tetap tumbuh dari tanah.
Tetapi cara dunia melihat, mengelola dan memperdagangkannya sudah berubah.
Dan perubahan itulah yang harus mulai diantisipasi Madina sejak sekarang.zal
Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
418 Warga Kuta Tengah Dipulangkan dari Pengungsian, Polda Sumut Kawal Proses Kepulangan
News
Anggaran 2027 Mulai Dibedah, DPRD DAN Pemko Padangsidimpuan Fokus PAD dan Kepentingan Warga di KUAPPAS 2027
News
Kapolres Tapsel Tegaskan Polisi Harus Dekat dengan Warga, Ini Pesannya dari Saipar Dolok Hole
kota
Turdes Naik Motor, Kapolres dan Bupati Tapsel Bongkar Potensi Besar Kopi Daerah
News
Pascapencabutan SSLSRL, Bupati Palas Ajak Masyarakat Tempuh Jalur Musyawarah
kota
Santuni Anak Yatim hingga Salurkan Bantuan Pangan, Begini Jumat Berkah Bupati Palas Putra Mahkota Alam Hasibuan
News
Patroli Tengah Malam Polres Padang Lawas Bikin Geger, Remaja Kedapatan Hirup Lem
kota
Cegah Begal dan Balap Liar, URC Polres Padang Lawas Gaspol Patroli Dini Hari
News
Natal Diproyeksikan Jadi Gerbang Ekonomi Baru Madina, Ini Gebrakan Bupati Saipullah
kota
Sayur Madina Masuk Era AI, dari Kebun Lokal hingga Ekosistem NVIDIA dan Telkomsel
kota