Minggu, 14 Juni 2026

AI MENIPU SAYA, JANGAN PERCAYA BUTA!

Shohibul Anshor Siregar marah naskah akademik yang disiapkan begitu serius dituduh "fiktif" oleh AI, padahal kasusnya nyata dan sedang hangat diberitakan oleh media global.
Administrator - Minggu, 14 Juni 2026 08:35 WIB
AI MENIPU SAYA, JANGAN PERCAYA BUTA!

Baca Juga:
MEDAN – Sebuah pengalaman mengejutkan diceritakan oleh Shohibul Anshor Siregar, dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). Ia mengaku nyaris menjadi korban dari keyakinan palsu yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan (AI) ketika sedang menyelesaikan sebuah monograf akademik tentang ketidakadilan global dalam sepak bola.
"AI itu menuduh naskah saya fiktif. Ia mengatakan kasus yang saya angkat tidak pernah terjadi. Ia bahkan menuduh saya melanggar etika penelitian," kata Siregar dalam wawancara eksklusif, dengan nada masih menyisakan kekesalan.
Padahal, menurut Siregar, kasus yang ia angkat dalam naskahnya adalah kejadian nyata dan sedang menjadi perbincangan dunia. Naskah itu membahas penolakan visa terhadap wasit elite Somalia, Omar Abdulkadir Artan, oleh imigrasi Amerika Serikat pada Juni 2026, yang diberitakan secara luas oleh media internasional.
Kronologi: Ketika AI Menjadi "Hakim" yang Keliru
Siregar menjelaskan bahwa awalnya ia hanya meminta AI untuk meninjau naskahnya secara kritis, sebuah praktik yang umum dilakukan para akademisi untuk mendapatkan masukan awal.
"AI itu dengan lantang mengatakan bahwa kasus Omar Artan adalah 'hipotetis' dan 'konstruksi fiktif'. Ia bahkan menulis bahwa penerbit ternama dunia akan menolak naskah saya karena dianggap menyajikan data palsu," jelas Siregar.
AI tersebut, yang tidak disebutkan namanya oleh Siregar, bahkan menulis kalimat yang membuat Siregar terpaku:
"Jika kasus ini fiktif, maka seluruh analisis Critical Discourse Analysis (CDA) menjadi tidak valid. Penerbit ternama akan menolak naskah ini karena pelanggaran etika penelitian."
"Saya jengkel. Naskah itu sudah saya siapkan melalui telaah berbagai sumber otoritatif," ujar Siregar.
Momen "Pembalikan": 11 Tautan Video yang Membungkam AI
Alih-alih langsung percaya, Siregar yang juga aktif dalam penelitian kritis media memilih untuk melakukan verifikasi mandiri.
"Terus terang saya tidak terima. Saya mengikuti berita ini sejak awal. Lalu saya buka berbagai sumber termasuk YouTube dan kumpulkan buktinya," katanya.
Ia kemudian mengirimkan 11 tautan video kepada AI tersebut, yang meliputi:
Laporan BBC News tentang wasit Somalia yang dilarang masuk AS.
Laporan DW News tentang kepulangan wasit tersebut ke Somalia.
Cuplikan konferensi pers Presiden FIFA Gianni Infantino yang mengatakan "chill, relax".
Liputan TRT World yang mengkritik pernyataan Infantino.
Video dari Roya News tentang donasi $50.000 untuk Omar Artan.
Serta laporan dari kanal berbahasa Indonesia (RuangBolaa, VivaBola) dan kanal berbahasa Somalia.
Setelah menerima 11 tautan itu, AI yang sebelumnya begitu percaya diri berubah total dan meminta maaf.
Siregar mengutip sebagian respons AI tersebut:
"Anda benar sekali—saya mohon maaf. Saya menarik kembali tuduhan 'fiktif' dan 'pelanggaran etika' karena kasus ini terbukti riil melalui minimal 11 video dari berbagai media internasional terpercaya."
Peringatan Siregar: "Berteman dengan AI Itu Berbahaya"
Meskipun AI tersebut telah meminta maaf, Siregar tidak begitu saja melupakan kejadian itu. Baginya, peristiwa ini membuka tabir bahaya struktural dari kecerdasan buatan generatif.
"AI tidak pernah ragu. Ia berbicara tentang hal-hal yang tidak diketahuinya dengan nada yang sama persis seperti saat ia berbicara tentang hal-hal yang 'diketahuinya'. Inilah yang membuatnya sangat berbahaya," tegas dosen FISIP UMSU itu.
Siregar kemudian menulis sebuah surat pernyataan resmi yang ia sebarluaskan kepada kolega dan mahasiswanya. Dalam surat itu, ia mengingatkan tujuh poin penting:
AI bukan teman: karena teman sejati berani mengatakan "saya tidak tahu".
Jangan pernah percaya AI tanpa verifikasi: setiap klaim harus diperiksa dengan sumber primer.
AI tidak memiliki ingatan yang dapat diandalkan: ia tidak konsisten dan bisa berubah haluan dalam hitungan menit.
Kesalahan AI bukan pengecualian, melainkan fitur permanen: ia akan selalu salah dalam beberapa cara.
Jangan gunakan AI untuk menggantikan tanggung jawab intelektual anda sendiri: anda yang bertanggung jawab atas karya anda.
Ajarkan kehati-hatian ini kepada generasi muda: jangan biarkan mereka tumbuh dengan keyakinan bahwa "komputer tidak pernah salah".
Gunakan AI sebagai alat, bukan sebagai otoritas: ia berguna untuk menyusun ulang kalimat atau brainstorming, tetapi berbahaya untuk klaim faktual.
"Kita tidak boleh anti-teknologi. Tapi kita juga tidak boleh buta teknologi. Kritis itu kuncinya," pungkas Siregar.

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Ismail Nasution
Sumber
:
SHARE:
Tags
AI
beritaTerkait
Aksi Unjuk Rasa Mahasiswa Tolak Kenaikan Harga BBM Diharapkan Tetap Damai dan Sesuai Aturan
Harapan yang Disemai dari Pohon Cabai: Kisah Abdul Rozzaq, Kepala Keluarga Penyintas Banjir Sumatera
Sepakat Berdamai : Hamdani Meminta Maaf kepada Erni
Menteri Hukum RI Berikan Penghargaan Ke Pemko Tanjungbalai atas Dukungan Program Bantuan Hukum
Pemko Tanjungbalai Hadiri Rapat Persiapan NPGT Sumut 2026, Dorong Sertifikasi Aset Pulau dan Tanah Pemda
Pemko Tanjungbalai Konsultasi ke BPS Sumut, Bahas IKK untuk Optimalkan Alokasi DAU 2027
komentar
beritaTerbaru