Sabtu, 02 Mei 2026

Supri Ardi Dorong Literasi AI untuk Pengembangan UMKM di Era Digital

Administrator - Jumat, 01 Mei 2026 22:19 WIB
Supri Ardi Dorong Literasi AI untuk Pengembangan UMKM di Era Digital
Istimewa
Baca Juga:

Kabupaten Solok - Sumut24.co

Supri Ardi, S.Kom, M.I.Kom seorang penggiat media sosial berbasis kecerdasan buatan (AI) yang kembali dipercaya menjadi narasumber dalam kegiatan strategis bertajuk UMKM Naik Kelas Berbasis AI tingkat Sumatera Barat, yang berlangsung pada 29–30 April 2026 di Alahan Panjang Resort .

Dijelaskan, di tengah derasnya arus perubahan teknologi global, satu hal menjadi semakin terang: siapa yang lambat beradaptasi, akan tertinggal. Di titik itulah, peran para penggerak literasi digital menjadi krusial. Dan ini bukan sekadar pelatihan biasa. Ia adalah ruang dialektika antara realitas UMKM hari ini dan masa depan yang tak terelakkan: digitalisasi berbasis kecerdasan buatan.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Anggota DPRD Sumatera Barat Drs. H. Nurfirmanwansyah, Apt., M.M, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sumatera Barat Dr. H. Endrizal, SE., MM, akademisi sekaligus Ketua RTIK Sumbar Yendi Putra, S.Kom, M.Kom, M.TA, serta 60 pelaku UMKM dari berbagai wilayah Solok Raya.

Dalam paparannya, Supri Ardi tidak memulai dengan teori rumit, melainkan dengan satu analogi sederhana namun menggugah.

"AI itu bukan sekadar tren seperti isu-isu viral yang datang dan pergi," ujarnya dengan tenang. "AI lebih dekat dengan ilmu pasti seperti fisika, seperti hukum atom. Ia terus berkembang, dan tidak bisa dihindari."

Pernyataan ini bukan retorika kosong. Ia adalah refleksi dari realitas global yang kini mulai merambah hingga ke lini paling dasar ekonomi: UMKM.

Supri juga menegaskan bahwa kecerdasan buatan telah mengubah cara manusia bekerja, berkomunikasi, bahkan berpikir. Dalam konteks UMKM, perubahan ini terlihat nyata pada pola pemasaran, produksi konten, hingga strategi branding.

"Dulu kita butuh tim besar untuk membuat konten promosi. Hari ini, dengan AI, satu orang bisa mengerjakan semuanya—cepat, efisien, dan menarik," ujarnya.

Dia juga mengingatkan bahwa AI adalah "pedang bermata dua". Di satu sisi, ia membuka peluang besar untuk kemajuan. Di sisi lain, jika disalahgunakan, dapat membawa dampak negatif mulai dari penyalahgunaan data hingga manipulasi informasi, karena itu, menurutnya, kunci utama bukan sekadar menggunakan AI, tetapi memahami dan mengendalikannya.

Jika ditarik ke akar persoalan, UMKM di Sumatera Barat sebenarnya tidak kekurangan produk. Bahkan, banyak di antaranya memiliki kualitas yang mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional, masalah utamanya, seperti yang disampaikan Supri, terletak pada pemasaran.

"Kita ini kuat di produksi, tapi lemah di distribusi dan promosi. Di sinilah AI bisa menjadi jembatan," ungkapnya.

Dengan memanfaatkan teknologi seperti content generator, copywriting AI, hingga analisis tren pasar berbasis data, UMKM dapat menjangkau pasar yang lebih luas tanpa harus mengeluarkan biaya besar.

Ia bahkan mempraktikkan langsung bagaimana membuat konten promosi produk hanya dalam hitungan menit sesuatu yang sebelumnya membutuhkan waktu berjam-jam, bagi para peserta, pengalaman ini bukan sekadar pengetahuan baru, melainkan pencerahan.

Yendi Putra mengisi ruang diskusi dengan perspektif yang tak kalah penting: keamanan data.

Di era digital, kata Yendi, data adalah "emas baru". Nilainya tidak terlihat secara fisik, tetapi dampaknya sangat nyata.

"Banyak UMKM yang sudah masuk ke dunia digital, tapi belum sadar pentingnya menjaga data," ujarnya.


Yendi Putra, menyoroti berbagai potensi ancaman mulai dari peretasan akun, pencurian identitas digital, hingga penyalahgunaan informasi pribadi.

Menurutnya, literasi digital tidak cukup hanya berhenti pada kemampuan membuat konten. Ia harus dilengkapi dengan pemahaman tentang keamanan siber.

"Kalau kita pintar jualan tapi data kita bocor, itu sama saja kita membuka pintu rumah lebar-lebar," katanya dengan nada tegas.

Selain itu, Yendi juga membekali peserta dengan strategi SEO media sosial bagaimana membuat konten yang tidak hanya menarik, tetapi juga mudah ditemukan oleh algoritma platform digital.

Di balik kegiatan ini, ada peran penting kebijakan publik. Anggota DPRD Sumatera Barat, Drs. H. Nurfirmanwansyah, Apt., M.M, menegaskan bahwa program ini bukan kebetulan.

Ia merupakan bagian dari alokasi dana pokok pikiran (pokir) yang secara sengaja diarahkan untuk penguatan kapasitas UMKM.

"Kita ingin UMKM tidak hanya bertahan, tetapi berkembang," ujarnya.

Menurutnya, program ini sejalan dengan visi pembangunan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat di bawah kepemimpinan Mahyeldi–Vasco, yang menekankan pentingnya transformasi digital dalam meningkatkan daya saing ekonomi daerah.

"Produksi saja tidak cukup. UMKM harus bisa menjual produknya secara online, menjangkau pasar yang lebih luas, dan meningkatkan omzet," tegasnya.

Pernyataan ini menegaskan bahwa digitalisasi bukan lagi pilihan, melainkan strategi pembangunan.

Di luar materi dan narasumber, satu hal yang paling mencolok dari kegiatan ini adalah antusiasme peserta.

Mereka tidak hanya datang untuk mendengar, tetapi juga untuk belajar dan berubah.

Salah seorang peserta bahkan menyebut materi yang disampaikan sebagai "daging semua" istilah yang menggambarkan betapa padat dan bermanfaatnya isi pelatihan.

"Kami jadi tahu arah perkembangan teknologi. Selama ini kami hanya pakai media sosial seadanya, sekarang kami paham strateginya," ujarnya.

Harapan pun muncul agar kegiatan seperti ini tidak berhenti sampai di sini.

"Kami ingin program ini berkelanjutan. Karena perubahan tidak bisa instan," tambah peserta lainnya.

Di balik semua ini, ada satu benang merah yang menghubungkan: peran generasi muda.

Kegiatan ini tidak hanya menghadirkan pelaku UMKM, tetapi juga digerakkan oleh anak-anak muda kreatif yang tergabung dalam ekosistem seperti Idea Corner sebuah komunitas yang mengusung semangat "Inovasi Cerdas untuk Masa Depan Digital".

Nama-nama seperti Supri Ardi dan Yendi Putra menjadi representasi generasi baru yang tidak hanya memahami teknologi, tetapi juga mampu menerjemahkannya menjadi solusi nyata bagi masyarakat, mereka bukan sekadar pengguna teknologi, tetapi penggerak perubahan.

Apa yang terjadi di Alahan Panjang selama dua hari itu mungkin tampak sederhana. Sebuah pelatihan, beberapa materi, dan diskusi.

Namun, jika dilihat lebih dalam, ia adalah bagian dari proses besar: transformasi ekonomi berbasis teknologi.

UMKM yang dulu berjalan dengan cara konvensional, kini mulai beradaptasi dengan dunia digital. Dari yang sebelumnya bergantung pada pasar lokal, kini perlahan menembus batas geografis.

Dan di tengah proses itu, hadir sosok-sosok seperti Supri Ardi yang dengan segala keterbatasannya justru menunjukkan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk memberi dampak.

Di sinilah kita belajar satu hal penting, bahwa masa depan tidak ditentukan oleh siapa yang paling kuat, tetapi oleh siapa yang paling siap beradaptasi. Dan Sumatera Barat, melalui langkah-langkah kecil seperti ini, sedang menyiapkan dirinya untuk itu.(YOSE)

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Ismail Nasution
Sumber
:
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Deli Serdang Tata Kawasan Pedagang, UMKM Central Resmi Dibangun
Kemenko PM : Kasus Amsal Sitepu Adalah Alarm Keras bagi Masa Depan Ekosistem Ekonomi Kreatif Indonesia
UMKM Jadi Prioritas, Rico Waas Dorong Pelaku Usaha Medan Naik Kelas Dengan Penguatan Digitalisasi
5 Tenda Kerucut di Serahkan PNM Padang ke ke DKUKMPP Solok Untuk Dukung UMKM
Ketua TP PKK sekaligus Ketua Dekranasda mengunjungi lima pelaku UMKM serta IKM
Kampung Tahu Binjai Cuma Jadi Pajangan? UMKM Tercekik Harga Kedelai, Pemkot Dinilai Abai
komentar
beritaTerbaru