Sabtu, 21 Februari 2026

Di Balik Tawa Anak-anak Huntara Tapsel, Tersimpan Rindu di Ramadan Pertama 1447 H pada Masjid Desa: 'Kangen Kampung, Tapi Tetap Semangat'

Administrator - Jumat, 20 Februari 2026 22:05 WIB
Di Balik Tawa Anak-anak Huntara Tapsel, Tersimpan Rindu di Ramadan Pertama 1447 H pada Masjid Desa: 'Kangen Kampung, Tapi Tetap Semangat'
Istimewa
Baca Juga:

Tapsel | Sumut24.co

Suasana Ramadan pertama 1447 Hijriah terasa berbeda bagi ratusan warga Desa Tandihat, Kecamatan Angkola Selatan, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumatera Utara. Setelah bencana alam memaksa mereka meninggalkan rumah, kini sebanyak 186 kepala keluarga (KK) atau 542 jiwa menjalani hari-hari di hunian sementara (huntara), Kamis (19/2/2026).

Di tengah keterbatasan, kehidupan tetap berjalan. Anak-anak bermain seperti biasa. Ada yang berayun, berlarian saling kejar, hingga mengayuh sepeda di sekitar area huntara. Tawa mereka terdengar, seolah mencoba menghapus jejak trauma yang belum sepenuhnya hilang.

Namun di balik keceriaan itu, tersimpan kerinduan mendalam akan kampung halaman.

Salah satunya datang dari Tara, siswi kelas 3 SD asal Desa Tandihat. Dengan polos ia mengungkapkan perasaannya tentang Ramadan tahun ini.

"Kangen di tempat yang dulu," ujar Tara lirih.

"Enak juga di pengungsian, tapi lebih milih tinggal di kampung," lanjutnya.

Bagi Tara, Ramadan selalu identik dengan kebersamaan di masjid desa. Ia merindukan suasana malam yang hangat bersama teman-temannya.

"Kalau malam, biasanya kami tadarusan di masjid, om," tuturnya.

Kerinduan itu sederhana, tetapi begitu dalam. Bukan hanya soal bangunan rumah, melainkan kenangan dan kebiasaan yang membentuk rasa nyaman.

*186 Huntara Jadi Harapan Baru Warga Tandihat*

Pemerintah telah menyediakan total 186 unit hunian sementara bagi warga terdampak. Fasilitas yang tersedia cukup lengkap, mulai dari MCK, dapur umum, area aktivitas komunal, musala, hingga lapangan futsal untuk anak-anak dan remaja.

Meski berstatus sementara, huntara ini menjadi tempat bernaung sekaligus titik awal membangun kembali kehidupan. Warga perlahan beradaptasi dengan lingkungan baru, sembari menanti kepastian pembangunan hunian tetap.

Ramadan tahun ini menjadi momen refleksi dan penguatan mental bagi seluruh warga. Mereka belajar menerima keadaan, saling menguatkan, dan tetap menjalankan ibadah dengan khusyuk meski dalam keterbatasan.

Kisah Tara menjadi gambaran kecil dari keteguhan hati warga Desa Tandihat. Anak-anak mungkin belum sepenuhnya memahami arti kehilangan, tetapi mereka tahu bagaimana caranya tetap tersenyum.

Ramadan pertama di huntara memang tidak sama seperti di kampung halaman. Tidak ada lagi rumah lama, tidak ada lagi halaman tempat bermain yang familiar. Namun semangat berpuasa, tadarus, dan kebersamaan tetap hidup.

Di tengah ujian, mereka percaya bahwa setiap kesulitan akan datang bersama harapan.

Bagi Tara dan ratusan warga lainnya, huntara bukan sekadar tempat tinggal sementara. Ia menjadi simbol bahwa kehidupan masih terus berjalan — dan suatu hari nanti, mereka akan kembali membangun cerita Ramadan di kampung halaman yang dirindukan.zal

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Ismail Nasution
Sumber
:
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Bukan Sekadar Membangun MCK! Mengukir Asa di Tanah Huta Tong, Tetes Keringat Satgas ke-127 Kodim 0212/TS Demi Sanitasi yang Layak
Ramadan di Bawah Bayang-Bayang Genangan Air, Warga Huntara Angkola Selatan Terancam Malaria
Dua Petani Tapsel Ditangkap Bawa 14 Paket Ganja, Motor Bocor Jadi Titik Akhir Pelarian
Bangkit Pascabanjir! Di Ramadhan 1447 H, Warga Tapsel Terima 25 Ekor Sapi dari Bupati Gus Irawan
Warung Jadi Lokasi Transaksi Sabu, Pria Paruh Baya Tak Berkutik Saat Diciduk Polres Tapsel
Desa Simataniari Jadi Titik Awal TMMD ke-127 Kodim 0212/Tapanuli Selatan, TNI Gas Percepatan Pembangunan
komentar
beritaTerbaru