Didampingi Bupati Darma Wijaya, Kapolres Jhon Sitepu Cek Kesiapan Pos Pengamanan Lebaran di Sergai
Sergai sumut24.co Kapolres Serdang Bedagai (Sergai) AKBP Jhon Sitepu bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) melakukan
News
Baca Juga:
- Mahasiswa Unimed Ciptakan IQRO Elektronik Untuk Tingkatkan Literasi Al-Qur’an Braille di Pertuni Sumut
- Belum Lama Menjabat, Kanit Reskrim Polsek Perbaungan IPTU Tri Pranata Purba Langsung Ungkap Kasus Curat
- Belum Ada Persetujuan Konsultasi Masyarakat, Dokumen UKL-UPL PT Prima Indo Rubber Dipertanyakan
Tapsel | Sumut24.co
Kepala Desa Anggoli, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan, Oloan Pasaribu, secara resmi melayangkan surat kepada Presiden RI Prabowo Subianto. Surat tersebut berisi permohonan peninjauan ulang dugaan keterlibatan PT Tri Bahtera Srikandi (PT TBS) dalam peristiwa banjir bandang dan tanah longsor yang melanda wilayah Tapanuli Selatan (Tapsel) dan Tapanuli Tengah (Tapteng).
Surat itu tidak hanya ditandatangani oleh Kepala Desa, tetapi juga Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) serta sejumlah tokoh masyarakat Desa Anggoli. Langkah ini diambil menyusul berkembangnya opini publik dan pernyataan aparat penegak hukum yang sebelumnya menuding aktivitas perusahaan sebagai penyebab utama bencana alam tersebut.
Oloan Pasaribu menegaskan bahwa secara geografis, aktivitas PT TBS tidak berada di jalur aliran utama Sungai Garoga. Menurutnya, mata air di wilayah perusahaan mengalir ke Aek Nahombar, kemudian bermuara ke Sungai Muara Sibuntuon dengan karakter alur yang sempit dan berkelok.
"Dengan kondisi sungai seperti itu, sangat tidak masuk akal jika sisa kayu dari area PT TBS bisa hanyut sampai ke Jembatan Aek Garoga yang jaraknya cukup jauh," ujar Oloan, Rabu (14/1/2026).
Ia juga menyampaikan bahwa titik-titik longsor yang terjadi berada di lahan milik warga, bukan di wilayah konsesi perusahaan. Selain itu, lahan PT TBS disebut berstatus Areal Penggunaan Lain (APL) dan bukan kawasan hutan lindung.
"Wilayah itu sejak lama sudah dikelola masyarakat dengan tanaman produktif seperti karet, durian, aren, hingga sawit. Jadi tudingan adanya penggundulan hutan besar-besaran tidak berdasar," tegasnya.
Lebih lanjut, Oloan menyebut kehadiran PT TBS justru memberi kontribusi nyata bagi perekonomian desa. Perusahaan dinilai telah membantu masyarakat melalui program kebun plasma serta membuka lapangan kerja bagi warga sekitar.
"Banyak lahan warga yang tetap dikelola sendiri dan tidak diganti rugi. Artinya, hubungan perusahaan dan masyarakat berjalan berdampingan," tambahnya.
Dalam surat tersebut, Pemerintah Desa Anggoli berharap Presiden RI dapat meninjau ulang proses hukum yang saat ini berjalan agar penegakan hukum dilakukan secara objektif dan berbasis fakta.
*Kajian Ilmiah IPB: Tak Ada Bukti Kuat PT TBS Sebabkan Banjir*
Sejalan dengan pernyataan pemerintah desa, tim ahli lingkungan dan kehutanan dari Institut Pertanian Bogor (IPB) juga telah melakukan kajian ilmiah terkait penyebab banjir dan longsor di DAS Garoga. Kajian ini melibatkan akademisi lintas bidang kehutanan, tanah, dan hidrologi.
Hasil kajian menyimpulkan bahwa tidak ditemukan bukti kuat yang mengaitkan aktivitas PT TBS sebagai penyebab utama banjir bandang. Salah satu poin krusial adalah posisi kebun sawit PT TBS yang tidak berada di kawasan hutan negara, melainkan di wilayah APL.
"Penyelidikan harus dilakukan secara komprehensif dan tidak gegabah. Kajian ilmiah IPB sudah sangat jelas," ujar Rahman, Ketua Pengurus Cabang PMII, menanggapi isu tersebut.
Ia menegaskan bahwa penyederhanaan penyebab bencana dengan menunjuk satu korporasi berpotensi menimbulkan ketidakadilan hukum.
*Faktor Alam Jadi Penyebab Dominan*
Akademisi IPB, Dr Ir Basuki Sumawinata, menjelaskan bahwa kajian ini bertujuan melengkapi informasi publik dengan data ilmiah, bukan untuk membela atau menyerang pihak tertentu.
"Kami ingin mencegah salah tafsir. Ini murni soal data dan fakta," ujarnya dalam konferensi pers di Kampus IPB, Bogor.
Ia menyebutkan setidaknya tiga faktor utama penyebab banjir dan longsor, yakni curah hujan ekstrem, struktur tanah dengan solum tipis, serta keberadaan batuan induk liat masif yang menghambat resapan air. Kondisi lereng curam dan bobot vegetasi juga mempercepat terjadinya longsor.
Selain itu, sejumlah anak sungai di sekitar kebun PT TBS disebut tidak memiliki hubungan langsung dengan Sungai Garoga, sehingga memperkuat kesimpulan bahwa aktivitas perusahaan bukan pemicu utama bencana.
Para ahli menilai, tudingan terhadap PT TBS sebagai penyebab tunggal banjir bandang dan longsor tidak memenuhi asas kehati-hatian ilmiah dan kepastian hukum. Oleh karena itu, semua pihak diimbau mengedepankan data objektif agar tidak terjadi kesalahan dalam proses penegakan hukum.zal
Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Sergai sumut24.co Kapolres Serdang Bedagai (Sergai) AKBP Jhon Sitepu bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) melakukan
News
Sergai sumut24.co Dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikelola oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Desa Pematang Cermai,
News
RAMADHAN KE26, BAKOPAM SUMUT SALURKAN SANTUNAN DAN SEMBAKO UNTUK TUNA NETRA, PENARIK BECAK DAN LANSIA
kota
Anto Genk Kepercayaan Kru dan Pembaca Jadi Kekuatan Sumut24 Group
News
Polda Sumut Ungkap Jaringan Narkoba Thailand, 29 Kg Sabu dan Satu Tersangka Diamankanq
kota
sumut24.co TOBA, Puncak perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke27 Kabupaten Toba berlangsung meriah dengan rangkaian defile yang digelar di Ve
News
sumut24.co ,TANJUNGBALAI, Wali Kota Tanjungbalai Mahyaruddin Salim menghadiri kegiatan penyerahan dan penyaluran 1.000 paket sembako bertaj
News
sumut24.co MedanWali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas menekankan pentingnya solidaritas dan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, d
kota
sumut24.co MedanSuasana Terminal Amplas tampak meriah dan penuh haru saat Pemko Medan secara resmi melepas ribuan warga dalam program Mud
kota
sumut24.co BANDA ACEH, Dalam rangka menyemarakkan Bulan Suci Ramadhan 1447 Hijriah, PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Sumatera Bagian
News