Donasi Ramadan Mengalir, Kenaziran Jaga Amanah dan Kepercayaan
MEDAN Suasana berbuka puasa bersama di Masjid Agung Medan pada hari ke9 Ramadan 1447 H, Jumat (27/2/26), kembali dipenuhi ratusan jamaa
Umum
Baca Juga:
Medan — Banjir besar yang melumpuhkan sejumlah wilayah di Sumatera dinilai bukan sekadar akibat curah hujan ekstrem, melainkan akumulasi panjang dari kesalahan pemerintah mengelola ruang hidup rakyat.
Pengamat kebijakan publik dan lingkungan, Shohibul Anshor Siregar, menegaskan bahwa bencana ini "tidak bisa lagi ditutupi dengan narasi alam".
Ia menyebut banjir sebagai bukti paling telanjang dari kegagalan negara mengatur izin, tata ruang, dan eksploitasi kawasan hulu.
Dalam wawancara yang digelar kemarin.
"Kalimat-kalimat seperti cuaca ekstrem, force majeure, atau curah hujan di luar normal itu tidak bisa lagi dipakai sebagai tameng," ujarnya.
"Apa yang terjadi di Sumatera adalah bencana kebijakan. Ia lahir dari kesalahan sistemik: hutan dibabat, gambut dikeringkan, dan tata ruang dijadikan komoditas politik."
Negara terkean tidak jujur pada akar persoalan
Menurut Siregar, akar masalah banjir Sumatera sudah sangat jelas: kerusakan DAS, konsesi industri ekstraktif yang tidak terkendali, dan lemahnya pengawasan.
Namun, pemerintah selama ini, baik pusat maupun daerah, lebih memilih langkah-langkah simbolik ketimbang menyentuh akar persoalan.
"Banjir ini adalah tanda bahwa negara tidak berani jujur pada kesalahan sendiri," katanya.
"Hulu pegunungan di banyak wilayah Sumatera sudah gundul akibat izin-izin yang dikeluarkan tanpa kajian ekologis yang benar.
Sungai-sungai kehilangan daerah resapan. Rawa gambut dikeringkan untuk perkebunan.
Lalu ketika banjir datang, warga disuruh sabar. Sabar itu bukan kebijakan publik."
Moratorium konsesi dan audit lingkungan
Siregar menilai langkah paling mendesak yang harus dilakukan pemerintah adalah moratorium total terhadap pembukaan hutan baru dan audit menyeluruh terhadap perusahaan-perusahaan besar di hulu DAS.
"Kita tidak bisa berharap banjir mereda kalau hulunya terus dibantai," tegasnya.
Ia menambahkan bahwa audit independen harus melibatkan akademisi, lembaga anti-korupsi, masyarakat adat, dan lembaga internasional agar tidak bias politik atau ekonomi.
"Terlalu banyak perusahaan besar yang menikmati rente dari kerusakan lingkungan di Sumatera. Negara harus berhenti melindungi mereka."
Kritik keras terhadap pola dropping bantuan
Siregar juga menyoroti pola penanganan darurat yang dinilainya tidak efektif. Ia menyebut praktik dropping bantuan dari udara atau pembagian logistik tanpa mekanisme yang jelas sebagai bentuk "manajemen bencana yang keliru dan penuh pencitraan".
"Bantuan itu bukan untuk dipertontonkan," ujar Siregar.
"Harus ada pemetaan kebutuhan, koordinasi komando, dan penyaluran yang berbasis data lapangan. Kalau pemerintah hanya sibuk dengan gestur politik, korban banjir tetaplah korban."
Pemerintah harus berani memutus rantai kerusakan
Dalam penutupnya, Siregar menekankan bahwa Sumatera membutuhkan perubahan kebijakan jangka panjang, bukan pernyataan belas kasih tahunan. Ia mendesak pemerintah untuk memimpin restorasi hutan dan gambut, memperbaiki tata ruang, dan menegakkan hukum tanpa kompromi.
"Selama negara tidak berani mencabut izin-izin yang merusak, selama itu pula bencana akan datang kembali," kata Siregar.
"Ini bukan sekadar soal air menggenang. Ini adalah pertarungan antara keberpihakan pemerintah pada rakyat atau pada kepentingan elite yang menikmati keuntungan dari kerusakan lingkungan."
MEDAN Suasana berbuka puasa bersama di Masjid Agung Medan pada hari ke9 Ramadan 1447 H, Jumat (27/2/26), kembali dipenuhi ratusan jamaa
Umum
sumut24.co ASAHAN, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Asahan melaksanakan kegiatan Safari Ramadhan Khusus 1447 H / 2026 M yang dirangkaikan deng
News
sumut24.co ASAHAN, Raibnya Gedung/Kantor DPD KNPI Kabupaten Asahan di Jalan Cokroaminoto Kisaran, telah menjadi perbincangan hangat dikalan
News
UNIQLO C Spring/Summer 2026 Meredefinisi Busana Esensial untuk Aktivitas Urban Masa Kini Jakartasumut24.coPerusahaan ritel pakaian global
News
JAKARTA, Wakil Ketua Umum Kadin, Andi Yuslim Patawari (AYP), angkat bicara terkait polemik penggunaan jet pribadi oleh Menteri Agama Nas
News
Sergai sumut24.co Polres Serdang Bedagai mengklarifikasi tudingan praktik tangkap lepas terhadap seorang residivis kasus narkoba berinisia
Hukum
Langkat, Sumut24.co Momentum Ramadan 1447 Hijriah dimanfaatkan sebagai ruang refleksi sekaligus penguat silaturahmi dan semangat berbagi. Da
News
Plt.Kadis Pertanian Sahat Boangmanalu.SPd.MM Menyerahkan Alat Pertanian Kepada Kelompok Tani Terbuka
kota
Curat Rp400 Juta di Padangsidimpuan Terungkap, Satu Pelaku Dibekuk Usai Kabur ke Pekanbaru
kota
Warga Purba Sinomba Curhat Soal Jalan dan Listrik di Safari Ramadan 2026, Bupati Paluta Langsung Beri Solusi
kota