FABEM-SM dan Masker Pragi Desak Polri–Kejagung Perkuat Sinergi Usut Dugaan Korupsi Suplai Batu Bara PLTU PLN
FABEMSM dan Masker Pragi Desak Polri&ndashKejagung Perkuat Sinergi Usut Dugaan Korupsi Suplai Batu Bara PLTU PLN
kota
Baca Juga:
- Rajut Silaturahmi Lintas Tokoh di Rumah Baca, Ketua Bawaslu Deli Serdang Buka Puasa Bersama
- Rakor Lintas Sektor Bidang Opsnal Tingkat Menteri dalam rangka Kesiapsiagaan Pelaksanaan Oprasi Ketupat 2026 melalui zoom meeting
- Gelar Forum Silaturahim, Bank BSI Medan Siapkan BSI Agen dan Branding Koperasi Merah Putih di Sumut
Medan – Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) RI menggelar kegiatan Bawaslu Membelajarkan dengan tema "Penguatan Sistem Deteksi Dini Kerawanan Pemilu" di AIHO Hotel Medan, Kamis (27/11/2025). Acara yang dihadiri perwakilan puluhan organisasi masyarakat ini, however, diwarnai kritik tajam dari kalangan pakar yang menilai upaya tersebut tidak menyentuh akar masalah demokrasi Indonesia yang sedang mengalami kemunduran (backsliding).
Shohibul Anshor Siregar, akademisi dan pengamat pemilu dari Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), menyatakan bahwa kondisi demokrasi Indonesia saat ini berada dalam proses backsliding yang pasti dan makin parah.
"Kita tidak bisa lagi menutup mata. Demokrasi Indonesia sedang mengalami kemunduran sistemik. Pemilu, yang seharusnya menjadi pesta kedaulatan rakyat, telah direduksi menjadi sekadar ritual lima tahunan untuk melegitimasi rezim yang tak mengabdi kepada rakyat," tegas Siregar, yang juga Koordinator Umum nBASIS, dalam analisisnya.
Pemilu sebagai Legitimasi Rezim Oligarkis
Menurut Siregar, kemunduran ini bukanlah hal yang kebetulan, melainkan dampak langsung dari desakan (demand) neoliberalisme yang dikomandoi oleh para oligark.
"Pemilu hari ini didesain untuk melayani kepentingan oligarki. Melalui kendali mereka atas partai politik dan proses rekruitmen di DPR, para oligark ini menempatkan kadernya di lembaga penyelenggara pemilu yang diklaim independen, seperti KPU dan Bawaslu. Hasilnya, pemilu hanya menghasilkan siklus kekuasaan yang melayani akumulasi kapital, bukan perbaikan kesejahteraan rakyat," paparnya.
Ia menambahkan, IKP yang menjadi fokus Bawaslu justru mengabstraksikan masalah sebenarnya. "IKP itu ibarat obat pereda sakit, sementara penyakitnya adalah kanker oligarki yang menggerogoti kedaulatan politik rakyat. Membahas IKP tanpa membongkar struktur kepemilikan dan kontrol oligarkis atas negara adalah kesia-siaan."
Solusi Fundamental: Bubarkan Lembaga Partisan dan Kembali ke Khittah 1955 & 1999
Oleh karena itu, Siregar menyatakan bahwa reformasi tidak cukup hanya dengan memperbaiki alat deteksi, tetapi perlu pembongkaran total terhadap sistem yang ada.
"Solusi fundamentalnya adalah dengan membubarkan KPU dan Bawaslu yang sekarang yang telah menjadi kepanjangan tangan kekuatan partisan. Kita perlu membentuk lembaran baru dengan kembali ke roh dan semangat Pemilu 1955 dan 1999," tegasnya.
Ia menjelaskan, Pemilu 1955 dan 1999 sukses karena diselenggarakan oleh lembaga yang benar-benar netral, jauh dari intervensi oligarkis seperti saat ini.
"Pemilu 1955 diselenggarakan oleh kabinet non-partisan. Pemilu 1999, meski dalam transisi, diawasi oleh lembaga yang berintegritas. Mereka tidak dikendalikan oleh oligark yang ingin melanggengkan kekuasaan dan agenda neoliberalnya. Inilah yang hilang sekarang."
Membangun Pemikiran dan Budaya Baru Melawan Backsliding Demokrasi
Siregar menekankan bahwa melawan backsliding demokrasi tidak hanya membutuhkan reformasi kelembagaan, tetapi juga pembangunan pemikiran dan budaya politik baru.
"Kita sangat membutuhkan gerakan pemikiran dan budaya yang bertujuan meningkatkan pemahaman publik bahwa pemilu bukanlah tujuan akhir demokrasi. Pemilu harus menjadi alat rakyat untuk merebut kedaulatan dari cengkeraman oligark, bukan sekadar mengalihkan mandate kekuasaan untuk lima tahun ke depan kepada rezim yang sama."
Sebagai langkah praktis, selain mendorong pembubaran dan pembentukan kembali lembaga pemilu yang bersih, Siregar merekomendasikan penerapan metode election forensics dan keterbukaan data 100% untuk memastikan akuntabilitas.
"Namun, tanpa kesadaran kritis rakyat untuk menolak pemilu yang hanya jadi alat legitimasi oligarki, semua upaya teknis ini akan sia-sia. Forum-forum seperti yang digelar Bawaslu harusnya menjadi ruang untuk kritik struktural ini, bukan sekadar sosialisasi instrumen yang tidak menyentuh inti masalah," punggas Siregar.
Ia menutup dengan peringatan, "Jika kondisi ini dibiarkan, demokrasi Indonesia akan semakin hollow, menjadi cangkang kosong yang hanya menguntungkan segelintir orang, sementara rakyat terus menerus dijauhkan dari kedaulatannya."
FABEMSM dan Masker Pragi Desak Polri&ndashKejagung Perkuat Sinergi Usut Dugaan Korupsi Suplai Batu Bara PLTU PLN
kota
sumut24.coLabuhanbatu, Tragis, satu unit dump truck yang mengangkut buah sawit terguling di Jalan Lintas Negeri Lama Tanjung Sarang Elang
News
Ijeck Desak Jalur Kereta Api MedanAceh Segera Dituntaskan, Minta TransSumatera Dipercepat
kota
Nekad Curi kabel Tower diciduk Polsek Tanjung Morawa
kota
Mahasiswa Soroti Maraknya Rokok Ilegal Helium, Kakan Bea Cukai Medan Tegaskan Komitmen Berantas Rokok Ilegal
kota
Terkait ASN Nias Jatuh di Apartemen 2 Wanita Ditetapkan Tersangka
kota
Aniaya Polisi dan Kabur saat Disergap Buronan Narkoba Ditangkap di Riau
kota
Sabu 328 Gram Disembunyikan di Jok Motor, Pemasok 2 Sarang Narkoba di Medan Ditangkap
kota
Diduga Tersandung Kasus Narkoba 2 Oknum Polres Samosir Diamankan di Polda Sumut.
kota
Aksi Penanaman 100 Pohon Warnai Milad Dompet Dhuafa ke33Deli serdangsumut24.co Dompet Dhuafa Waspada bersama DD Volunteer Sumatera Utara m
News