Tarawih Bareng Polisi, Warga Panyanggar Sambut Hangat Kehadiran Polres Padangsidimpuan
Tarawih Bareng Polisi, Warga Panyanggar Sambut Hangat Kehadiran Polres Padangsidimpuan
kota
Baca Juga:
Oleh: H Syahrir Nasution
Istilah "menara gading" selama ini identik dengan dunia kampus: ruang intelektual yang berada pada standar tinggi, terhormat, dan jauh dari hiruk pikuk masalah-masalah dunia luar. Namun, di Universitas Sumatera Utara (USU), istilah itu justru berubah makna. Menara gading yang seharusnya menjadi simbol kejernihan berpikir dan kehormatan akademik, kini digambarkan "berubah menjadi jalan berlubang yang mengepung kampus".
Ungkapan keras itu mencerminkan keresahan publik terhadap kondisi kehidupan akademik USU yang dinilai mengalami kemunduran—baik secara fisik maupun moral.
Menara Gading yang Berubah Wajah
Jika masyarakat luar kampus menyebut universitas sebagai menara gading, hal itu sejatinya bermakna positif. Artinya, dunia kampus dianggap sebagai ruang berbeda yang menjunjung ilmu pengetahuan, etika moral, serta integritas. Dunia di mana kebenaran diperjuangkan, dan keadilan dijunjung tanpa kompromi.
Namun pertanyaannya kini: apa yang sebenarnya terjadi di dalam kehidupan pendidikan tinggi di USU?
Kampus semestinya tidak hanya besar "di kandangnya sendiri", tetapi juga harus memberikan bias positif kepada masyarakat luas. Kemasyhuran sebuah universitas tidak cukup hanya pada nama atau sejarah panjangnya, tetapi pada output yang dihasilkan—lulusan yang berkualitas, kontribusi nyata di masyarakat, serta reputasi publik yang terjaga.
Reputasi Publik Mulai Terkikis
Dalam perspektif masyarakat, reputasi sebuah kampus tidak hanya dilihat dari prestasi akademik, tetapi juga dari kelakuan masyarakat akademiknya: dosen, pejabat kampus, hingga mahasiswanya. Ketika perilaku buruk, dugaan penyimpangan, atau kegagalan manajerial lebih sering terdengar ketimbang prestasi, maka runtuhlah menara gading itu, berganti menjadi "menara kebobrokan".
Kritik ini bukan tanpa alasan. Publik melihat banyak hal yang seharusnya dapat diperbaiki: tata kelola yang tidak transparan, minimnya keteladanan, hingga persoalan fisik seperti buruknya infrastruktur dasar. Jalan-jalan berlubang yang mengepung kampus seolah menjadi metafora dari rusaknya sistem: retak, tak terurus, dan dibiarkan berlarut-larut.
Pimpinan Kampus, Cermin Integritas
Dalam kondisi seperti ini, peran pimpinan kampus menjadi sangat menentukan. Mereka bukan hanya administrator, tetapi juga role model moral dan intelektual. Pimpinan kampus semestinya menjadi:
Panutan integritas,
Teladan etika,
Penjunjung tinggi nilai kebenaran,
Pengawal utama keadilan akademik.
Jika hal ini tidak terlaksana, maka kampus bisa saja berubah dari pusat peradaban menjadi sumber persoalan. Bukan lagi "menara gading", melainkan simbol kerusakan moral dan manajerial.
Saatnya USU Berkaca dan Berbenah
Kritik dari publik—termasuk tokoh seperti Syahrir Nst—seharusnya menjadi alarm keras bagi USU. Reputasi kampus tidak boleh dibiarkan terkikis. Jalan berlubang hanya contoh kecil dari masalah yang lebih besar: lemahnya kepemimpinan, hilangnya keteladanan, dan pudarnya visi akademik.
USU perlu kembali menegakkan kembali makna sejati menara gading: tempat yang tidak hanya tinggi secara intelektual, tetapi juga kokoh secara moral.
Jika tidak, maka julukan "Menara Kebobrokan" bisa saja melekat, dan itu tentu menjadi luka sejarah bagi universitas yang pernah menjadi kebanggaan Sumatera Utara.
Tarawih Bareng Polisi, Warga Panyanggar Sambut Hangat Kehadiran Polres Padangsidimpuan
kota
Polsek Hutaimbaru Tebar 30 Paket Takjil, Polri Hadir sebagai Sahabat Masyarakat di Ramadhan
kota
AKBP Wira Prayatna Pimpin Langsung Tes Urine, Internal Polres Padangsidimpuan Dipastikan Bersih
kota
Digerebek Dini Hari, Pengedar Sabu di Pasar Sibuhuan Dibekuk Satresnarkoba Polres Palas
kota
Membangun Kolam, Menyemai Masa Depan Potret Kasih Satgas TMMD Ke127 Kodim 0212/Tapsel untuk Rakyat Tapsel
kota
Satgas TMMD Ke127 Kodim 0212/Tapsel, Praka Markus Sanjaya Bantu Warga Bangun Kolam Ikan di Sangkunur Tangan TNI yang Menghidupkan Harapan
kota
Kemanunggalan di Balik Harumnya Daun Bawang Kisah Satgas TMMD ke127 Kodim 0212/Tapsel Kopda Ibrahim Dalimunthe dan Ibu Aniyah
kota
Saat Seragam Loreng Turun ke Sawah, Momen Satgas TMMD Ke127 Kodim 0212/Tapsel Bantu Panen Bawang Prei Ibu Aniyah
kota
Medan, Sumut24.co Momentum Ramadan dimanfaatkan Alumni SMPN 8/10 Medan Angkatan 1995 untuk mempererat tali silaturahmi melalui kegiatan buka
Kota
sumut24.co MEDAN, Universitas Prima Indonesia (UNPRI) kembali menegaskan posisinya di panggung pendidikan tinggi global melalui penyelengga
kota