Jembatan Modular di Desa Sihare'o III Nias Capai 64,5 Persen
Nias sumut24.co Jembangunan jembatan modular di Desa Sihareo III Bawasaloo Berua, Kecamatan Mau, Kabupaten Nias, terus berjalan. Hingga
News
Baca Juga:
Oleh: H Syahrir Nasution SE MM
Enam puluh tahun yang lalu bangsa ini pernah mengalami prahara besar dalam sejarahnya. Saat itu demokrasi yang diperjuangkan dengan darah dan air mata perlahan-lahan bergeser ke arah otoritarianisme, yang pada akhirnya menelan korban jiwa, martabat, dan keadilan sosial. Kini, tanda-tanda serupa seolah kembali mengintip di depan mata: demokrasi terancam berubah wajah menjadi oligarki bahkan polisichrasi—sebuah sistem di mana kekuasaan politik dan hukum diperalat oleh kekuatan bersenjata dan aparat negara.
Pancasila, yang seharusnya menjadi falsafah hidup bangsa, kian tereliminasi dari praktik sehari-hari. Investasi yang berorientasi pada keuntungan jangka pendek, ketergantungan pada utang luar negeri, serta toleransi terhadap korupsi yang makin menggurita, perlahan mengikis nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para pendiri bangsa.
Lebih memprihatinkan lagi, publik kian muak dengan tindak-tanduk aparat kepolisian. Dari kasus pelanggaran hak asasi hingga tindakan yang merenggut nyawa rakyat kecil, kepolisian dinilai berperilaku sewenang-wenang. Hukum yang seharusnya menjadi pelindung, justru kerap dijadikan alat legitimasi untuk menggilas rakyat. Rasa percaya publik terkikis, sementara kekecewaan terus menumpuk. Rakyat memang diam, tetapi mereka mencatat. Dan pada saat yang tepat, pintu langit akan terbuka, menyingkap keadilan Tuhan yang tak bisa dibendung.
Namun masalah bangsa ini tidak hanya berhenti pada institusi. Ia menukik lebih dalam: pada karakter. Bung Karno dan Bung Hatta sudah sejak awal kemerdekaan menekankan pentingnya pembangunan watak bangsa. Begitu juga Bung Syahrir, dalam buku kecilnya Perjuangan Kita, telah mewanti-wanti bahwa kemerdekaan tanpa karakter hanya akan menjadi beban di masa depan. Bangsa merdeka harus memiliki sense of belonging yang tinggi: sadar akan hak, kewajiban, dan tanggung jawabnya dalam menjaga negeri.
Sayangnya, dalam praktiknya, bangsa ini kerap terjebak pada kebiasaan buruk. Kebohongan yang berulang-ulang tanpa koreksi publik perlahan berubah menjadi kebiasaan. Kebiasaan itu kemudian mengkristal menjadi watak, dan akhirnya menjadi karakter bangsa. Jika dibiarkan, karakter itu bisa menyerupai perilaku binatang: kehilangan rasa malu, kehilangan rasa tanggung jawab, dan kehilangan harkat kemanusiaan.
Di sinilah sesungguhnya prahara 60 tahun lalu menemukan reinkarnasinya. Bukan sekadar dalam bentuk perebutan kekuasaan, tetapi dalam bentuk pengkhianatan terhadap nilai-nilai yang menjadi dasar berdirinya bangsa ini. Maka, tugas generasi hari ini bukan hanya melawan korupsi, oligarki, atau arogansi aparat, melainkan juga membangun kembali karakter bangsa.
Kemerdekaan yang diwariskan oleh para pendiri bangsa adalah amanah. Ia bukan sekadar hadiah, tetapi beban moral yang harus dijaga. Jangan sampai kita menjadi bangsa yang merdeka, tetapi tidak memiliki jiwa merdeka. Jangan pula kita menjadi bangsa yang kaya raya, tetapi miskin karakter.***
Nias sumut24.co Jembangunan jembatan modular di Desa Sihareo III Bawasaloo Berua, Kecamatan Mau, Kabupaten Nias, terus berjalan. Hingga
News
Alih Profesi Jadi Kurir 100 Pcs Pod Getar Oknum DJ Ditangkap Satresnarkoba Polrestabes Medan
News
sumut24.co ASAHAN, Guna memastikan keamanan dan ketertiban masyarakat tetap terjaga, Tim Jatanras Sat Reskrim Polres Asahan menggelar patro
News
Dari Aspirasi Reses ke Lahan Pertanian, Rapidin Simbolon Serahkan Traktor untuk Petani
News
Tabligh Akbar Maulid Nabi di Masjid Quatul Muslimin, Dorong Persatuan dan Kepedulian Sosial
News
Ternate Kelompok Tenaga Kerja Mandiri (TKM) Lanjutan di Kota Ternate, Maluku Utara, mengembangkan produk olahan pangan berbasis bahan lo
Tips
Abu Dhabi, UEA Etihad Airways, maskapai nasional Uni Emirat Arab, memperkenalkanEtihad Wellbeing, sebuah program terbaru yang menghadirk
News
Jakarta Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli mengatakan Klasifikasi Baku Jabatan Indonesia (KBJI) 2026 dapat menjadi acuan bersam
kota
Jakarta PT Federal International Finance (PT FIF) terus berupaya memperkuat komitmennya dalam membangun bisnis yang berintegritas, patuh,
News
Purwokerto Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) dan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) menyiapkan tindak lanjut kerja sama untuk
Tips