Enam Unit Rumah Terbakar Dilalap Sijago Merah Di Desa Majanggut 1 Natam Julu
sumut24.co PAKPAK BHARAT, Pemerintah Kabupaten Pakpak Bharat melalui Dinas Sosial dan BPBD Pakpak Bharat mulai menyalurkan bantuan bagi kor
News
Baca Juga:
Oleh: Syahrir Nasution
"How rich your country, how green your valley, but how poor your people." Kalimat ini, meski sederhana, menyimpan sindiran tajam terhadap realitas bangsa kita hari ini.
Indonesia dikenal sebagai negeri yang kaya raya. Dari Sabang sampai Merauke, Allah SWT telah menganugerahkan sumber daya alam yang melimpah: hutan tropis, lautan luas, tambang emas, batu bara, minyak, gas, dan kesuburan tanah yang jarang dimiliki bangsa lain. Secara geografis, kita berada di jalur strategis dunia. Dari sisi sumber daya manusia, bangsa ini memiliki jumlah penduduk produktif yang besar. Semua ini seharusnya menjadi modal untuk menciptakan kesejahteraan.
Namun ironi justru terjadi: mayoritas rakyat masih hidup dalam kondisi rentan. Tingkat kemiskinan, pengangguran, hingga daya beli yang rendah masih menjadi wajah keseharian masyarakat. Standar hidup layak seakan jauh dari harapan.
Paradox ini bukanlah sesuatu yang terjadi begitu saja. Kemiskinan rakyat kita sesungguhnya adalah kemiskinan yang dimiskinkan. Ia diciptakan, dipelihara, dan dilanggengkan secara struktural oleh para pengelola negara dan pengambil kebijakan. Alih-alih dikelola untuk kepentingan rakyat, kekayaan alam kita justru lebih banyak dinikmati oleh segelintir elit politik dan ekonomi.
Kebijakan pembangunan sering kali hanya berpihak pada pemilik modal besar, sementara rakyat kecil dipaksa bertahan dalam jerat harga kebutuhan pokok yang mahal, lapangan kerja yang minim, serta akses pendidikan dan kesehatan yang terbatas.
Apakah kita rela terus berada dalam kondisi seperti ini? Sampai kapan rakyat hanya menjadi penonton di negeri yang seharusnya menjadi miliknya sendiri?
Sudah saatnya negara hadir bukan sekadar sebagai pengelola, tetapi sebagai pelindung dan pengayom. Kekayaan yang dianugerahkan Tuhan seharusnya menjadi milik rakyat, bukan sekadar angka-angka dalam laporan ekonomi atau statistik pertumbuhan yang tidak pernah dirasakan masyarakat bawah.
Jika tidak ada keberanian untuk mengubah arah kebijakan, maka paradox ini akan terus menjadi luka panjang bangsa: negeri yang kaya raya, namun rakyatnya tetap miskin.***
Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
sumut24.co PAKPAK BHARAT, Pemerintah Kabupaten Pakpak Bharat melalui Dinas Sosial dan BPBD Pakpak Bharat mulai menyalurkan bantuan bagi kor
News
sumut24.co TANJUNGBALAI, Pemerintah Kota Tanjungbalai terus mendorong penguatan ketahanan pangan melalui sektor pertanian, perikanan dan pe
News
sumut24.co TANJUNGBALAI, Pemerintah Kota (Pemko) Tanjungbalai terus melakukan pembenahan terhadap infrastruktur dan sarana prasarana kota.
News
sumut24.co Deliserdang, General Manager PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Sumatera Utara, Rizky Mochamad, meresmikan Program Sri
News
sumut24.co ASAHAN, Bupati Asahan, Taufik Zainal Abidin, S.Sos., M.Si., secara resmi membuka Festival Seni Qasidah (FSQ) Tingkat Kabupaten A
News
sumut24.co MEDAN, Universitas Prima Indonesia (UNPRI) kembali menghadirkan warna baru dalam penyambutan mahasiswa baru melalui Pengenalan K
kota
sumut24.co ASAHAN, Kasus penerbitan ratusan Surat Keterangan Tanah (SKT) yang diduga berada di kawasan Hutan Produksi yang Dapat Dikonversi
News
Malam Renungan Suci Hari Kesaktian Pancasila 2026, MPW PP Sumut Kembali Kobarkan Semangat Kebangsaan di Tugu Ampera
News
MEDAN Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Muhammad Bobby Afif Nasution mendorong penguatan kerja sama perdagangan antardaerah sebagai salah
Ekbis
Minggu Tak Jadi Alasan, Bupati Palas Turun ke Desa Panarian dan Cek Jalan Menuju Hapung
News