Rabu, 30 September 2026

Mengekspor Kekayaan, Mengimpor Kemiskinan — Paradoks yang Tak Pernah Usai

Administrator - Minggu, 02 November 2025 09:40 WIB
Mengekspor Kekayaan, Mengimpor Kemiskinan — Paradoks yang Tak Pernah Usai
Istimewa

Baca Juga:
Oleh: H. Syahrir Nasution

Ada ironi besar yang terus menghantui perjalanan bangsa ini: Indonesia dikenal sebagai negeri kaya raya, namun rakyatnya tetap miskin. Dari Sabang sampai Merauke, sumber daya alam terhampar luas — hutan, tambang, laut, dan tanah subur. Tetapi di balik kemegahan itu, jutaan rakyat masih berjuang sekadar untuk hidup layak. Mengapa ini terjadi? Jawabannya sederhana namun menyakitkan: kita mengekspor kekayaan, tetapi mengimpor kemiskinan.

Fenomena ini bukan sekadar kiasan. Ia adalah realitas yang menampar kesadaran kolektif bangsa. Kekayaan alam kita — batu bara, minyak, gas, nikel, dan hasil bumi lainnya — mengalir ke luar negeri, diekspor dengan harga murah. Namun, ketika kembali ke negeri sendiri dalam bentuk barang olahan atau produk industri, nilainya berlipat-lipat. Sementara rakyat di sekitar sumber kekayaan itu tetap hidup dalam keterbatasan, menatap dengan getir hasil bumi yang tak pernah mereka nikmati.

Inilah yang dulu diulas Prabowo Subianto dalam bukunya "Paradox Indonesia". Sebuah refleksi tajam tentang ketimpangan struktural: negara kaya sumber daya, tetapi miskin nilai tambah. Setelah ditelaah secara seksama, terbukti bahwa persoalan utama bukan pada kurangnya sumber daya, melainkan pada sistem pengelolaan dan mentalitas ekonomi kolonial yang masih bercokol hingga kini.

Rakyat di pedesaan dan pinggiran kota semakin terjepit. Harga kebutuhan pokok naik, sementara lapangan pekerjaan menyempit. Istilah "Empat Sehat Lima Sempurna" kini hanya menjadi nostalgia. Yang tersisa justru kondisi miris: "Empat Tak Sehat Lima Tak Dapat Berutang." Ironi ini menggambarkan betapa beratnya beban hidup rakyat kecil yang bahkan untuk sekadar makan bergizi pun menjadi kemewahan.

Paradoks ini harus segera diputus. Pemerintah harus berani menata ulang arah pembangunan nasional — bukan hanya berorientasi pada ekspor bahan mentah, tapi mendorong hilirisasi, kemandirian ekonomi, dan pemerataan hasil pembangunan. Pendidikan harus menumbuhkan kesadaran produktif, bukan sekadar menjadi alat mencari pekerjaan. Dan yang paling penting, moralitas pengelola negara harus dikembalikan pada semangat pengabdian, bukan penghisapan.

Indonesia tidak kekurangan kekayaan. Yang kita butuhkan adalah keberanian untuk mengelolanya dengan benar dan keadilan untuk membaginya dengan merata. Jika tidak, kita akan terus menjadi bangsa yang "mengekspor kekayaan dan mengimpor kemiskinan" — sebuah paradoks yang semakin menyakitkan dari generasi ke generasi.rel


Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Ismail Nasution
Sumber
:
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Enam Unit Rumah Terbakar Dilalap Sijago Merah Di Desa Majanggut 1 Natam Julu
Dukung Ketahanan Pangan, Wali Kota Mahyaruddin Tanam Padi Perdana di Sei Raja
Malam Hari, Wali Kota Mahyaruddin Tinjau LPJU, Ruas Jalan dan Sarana UMKM
Srikandi PLN UID Sumut Dukung 35 Perempuan Kembangkan Usaha Opak di Desa Suka Raya
Bupati Asahan Resmi Buka Festival Seni Qasidah 2026 : Pelestarian Seni Budaya Islam Sejak Dini Guna Bangun SDM Berkualitas
UNPRI Sajikan Pengalaman Tak Terlupakan bagi Mahasiswa Baru di PKKMB 2026
komentar
beritaTerbaru