Teguh Santosa: Prabowo dapat Jadi Juru Damai Korut-Korsel
Teguh Santosa Prabowo dapat Jadi Juru Damai KorutKorsel
News
Baca Juga:
- Gubernur Bobby Nasution dan DPRD Sumut Sepakati Ranperda Pertanggungjawaban APBD 2025, Jadi Dasar Penyusunan APBD 2027
- Bobby Nasution Pastikan Jalan Helvetia Pasar 9 Mulai Dibeton Agustus 2026, Lebar Jalan Ditambah hingga 14 Meter
- Bobby Nasution Dukung Sumut Jadi Tuan Rumah Kejuaraan Voli Putri U-20 Asia 2027
Medan — Wakil Ketua Himpunan Keluarga Mandailing (HIKMA) Sumatera Utara, H. Syahrir Nasution, melontarkan kritik keras terhadap proses revitalisasi Lapangan Merdeka Medan yang sedang dijalankan oleh Pemerintah Kota Medan di bawah kepemimpinan sewaktu Wali Kota Bobby Nasution. Syahrir menilai proyek tersebut terkesan mengabaikan nilai-nilai sejarah dan budaya lokal yang melekat erat pada kawasan bersejarah itu.
"Belajarlah Bobby tentang sejarah dan budaya masyarakat. Hal ini penting, khususnya terkait revitalisasi Lapangan Merdeka Medan," tulis Syahrir dalam pernyataan publiknya pada Kamis (5/6).
Menurutnya, Lapangan Merdeka bukan sekadar ruang terbuka, tetapi merupakan simbol perjuangan dan kebangsaan yang memiliki nilai historis tinggi. Ia menyayangkan jika proses revitalisasi dilakukan tanpa melibatkan tokoh-tokoh sejarah dan budayawan yang memahami betul makna kawasan tersebut.
"Banyak tokoh dan ahli sejarah yang mengetahui tentang sejarah perjuangan dari hadirnya Lapangan Merdeka tersebut. Mungkin Anda, Bobby, belum lahir ke dunia ini ketika sejarah itu terbentuk. Karena itu, penting untuk membuka mata dan telinga seluas-luasnya, bukan sekadar menerima masukan dari 'panglima-panglima talam' yang berseliweran di pinggir jalan," sindirnya.
Lebih lanjut, Syahrir menyebut bahwa sejarah di Medan—terutama yang terkait dengan identitas lokal dan peran kesultanan—telah lama mengalami penghapusan oleh penguasa sebelumnya.
"Sejarah sengaja dihapus oleh rezim zalim yang berkuasa selama satu dekade sebelumnya. Ditambah lagi peran para buzzer pembisik yang hanya mementingkan kepentingan pribadinya, sehingga peran tokoh dan ahli sejarah yang ada di masyarakat ini hilang," tambahnya.
Syahrir menegaskan, tidak ada manusia yang bisa hidup tanpa mengetahui sejarahnya, mengutip ungkapan: "No one can't escape history." Ia mengingatkan agar penguasa hari ini tidak menjadi bagian dari mereka yang melupakan sejarah dan justru mengulang kesalahan masa lalu.
Sebagai cucu dari H. Madong Lubis—seorang sejarawan dan juru bahasa Kesultanan Deli—Syahrir merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menyuarakan kebenaran sejarah. Ia berharap Pemerintah Kota Medan tidak gegabah dalam menentukan arah pembangunan kawasan bersejarah tersebut.
"Jangan sampai nanti warga Sumut dijuluki memiliki pemimpin yang hadir karena 'kecelakaan sejarah'," tegasnya.
Pernyataan ini menambah daftar panjang kritik masyarakat sipil terhadap proyek revitalisasi Lapangan Merdeka yang dianggap minim partisipasi publik dan berpotensi menggerus nilai-nilai historis kota Medan.red2
Teguh Santosa Prabowo dapat Jadi Juru Damai KorutKorsel
News
Waduh..! Jual Ubas, Kakek 56 Tahun Diboyong Satresnarkoba Polresta Deli Serdang
kota
sumut24.co MedanWali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas mengajak para peserta BMX Drag Bike Piala Wali Kota Medan Tahun 2026 untuk menjun
kota
sumut24.co MedanPT Bank Sumut menggelar acara Akad Massal KPR Sejahtera Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perum
Umum
SMP dan SMA AlAmjad Masuk Jajaran Sekolah Berprestasi Nasional Versi PuspresnasMedansumut24.co SMP AlAmjad dan SMA AlAmjad mencatatkan p
News
Otsus Papua Harus Jadi Instrumen Perlindungan OAP, Bukan Sekadar Transfer Anggaran
kota
Ketum PP PNPI Sinergitas Pemuda dan Pemerintah Kunci Mewujudkan Amanat Pasal 33 UUD 1945
kota
Wabup Madina Ikut Penerbangan Pertama Wings Air Rute KNOJHN
kota
MAS TPI Medan Siapkan Lulusan Siap Kerja, Siswa Dibekali Empat Program Keterampilan dan PKL di Dunia Industri
kota
Tak Berkutik! Puluhan Minuman Beralkohol Disita Saat Polisi Razia Kafe di Padang Lawas
kota