Surat Edaran Dicuekin, Pilih Coret Seragam dan Konvoi

1643
high school students as spray-paint stick in their school uniforms for celebrating the national final exams finish in Medan, North Sumatra, Indonesia on 6 April 2016. They expressed delight with spray-paint, giving autographs in school uniform at each others in tradition to celebrate their graduation.

MEDAN | SUMUT24

Euforia berlebih hingga mengusik ketenangan publik untuk merayakan momen pasca Ujian Nasional (UN), masih terus dipamerkan ribuan siswa sekolah menenah umum (SMU) di Kota. Siswa tetap mencoret-coret baju seragam putih abu-abu. Tak puas juga, siswa pun berkonvoi mengenderai kenderaan roda dua dan empat keliling kota hingga menimbulkan kemacetan parah dimana-mana, Rabu (6/4).

MMeski ada surat edaran dari Dinas Pendidikan Medan No. 420/4878/Dikmenjur/2016 memakai baju batik diakhir ujian. Namun para siswa SMA ini tak mengindahkannya.

Seperti penuturan Kepsek SMAN 4 Medan, Ramly. Katanya, hari terakhir UN, semua siswa di sekolah yang dipimpinnya memakai baju batik. Untuk meminimalisir euforia pasca UN, sebelum anak didiknya pulang dari sekolah, semua tas diperiksa oleh panitia.

“Kita hanya menemukan beberapa siswa membawa baju putih sekolah, yang katanya untuk disumbangan. Tidak ada yang membawa spidol atau cat pilox. Baju putihnya langsung kita ambil,” tuturnya.

Senada, Kepsek SMAN 17 Medan, Soagahon Simanungkalit menuturkan, semua siswa yang mengikuti UN sudah diinstruksikan memakai baju batik. Namun, ada enam orang siswa yang ternyata tidak memakai batik. “Usai UN, siswa ini kita panggil, sehingga bisa menjawab kenapa tidak memakai batik,” tuturnya.

Dijelaskan Simanungkalit, siswa yang mengikuti UN di sekolah yang dipimpinnya ada 361 orang. Dimana 335 orang siswa dari SMAN 17 Medan, 13 orang siswa dari SMA Swasta Palapa dan 13 orang siswa dari SMA Swasta Budi Insani. Untuk mengantisipasi euforia berlebih pasca UN, lanjutnya, sekolah sudah membuat kelompok untuk mengumpulkan baju yang akan disumbangkan anak didiknya.

“Tersedia dua meja, siswa yang menyumbangkan baju di data. Kita juga menyediakan keyboard untuk anak-anak bernyanyi bersama untuk bersenang-senang, untuk mencegah konvoi,” jelasnya.

Baju-baju yang terkumpul, sambungnya, akan diberikan kepada siswa baru yang tidak mampu. Sehingga saat masuk SMA siswa tidak terhalang lagi. “Ini bagian dari pembentukan karakter. Jadi bukan hanya ujian kejujuran dan moral juga ditanamkan,” katanya.

Di SMA Sutomo 1 Medan, sedikit agak berbeda. Siswa beretnis Tionghoa ini nampak lebih kalem dan tak menunjukkan eforia kegembiraannya dengan berkonvoi. Mereka hanya berkumpul di halaman sekolah itu, kemudian membubarkan diri dengan tertib.

Hari ini, Kamis (7/4) UN SMK berakhir. Sama seperti SMA, siswa SMK juga diingatkan untuk tak melakukan konvoi. Sebagai antisipasinya, siswa SMK juga diwajibkan memakai baju batik. “Ya, kami mewajibkan siswa kami memakai baju batik.Memang baju batik sekolah tak ada. Jadi baju batik yang mereka punya saja dipakai,” kata Kepala Sekolah SMK 5 Medan Maraguna Nasution.

Tapi, Maraguna tak bisa menjamin, apakah siswanya tak melakukan aksi coret-coret. “Ah, siswa kan, banyak akal. Di sekolah ini mereka pakai batik.Tapi begitu keluar dari halaman sekolah ini, siapa yang tahu,” ujar Maraguna.

Pernyataan Maraguna tersebut senada dengan Kadisdik Medan Marasutan, siswa masih disebut pelajar dari pintu pagar masuk hingga tembok belakang. “Jika sudah keluar dari areal itu, mereka masyarakat,” kata Marasutan. Maka segala tindak tanduknya tak lagi menjadi tanggungjawab sekolah.

Tetap Coret Seragam dan Konvoi

Pantauan SUMUT24 di SMAN 1 Medan Jalan T.Cik Ditiro, Rabu (6/4) tampak rombongan siswa yang berkonvoi dengan sepeda motor dengan baju seragam putih abu-abu yang sudah tercoret-coret dengan cat pilox dan spidol. Siswa perempuan dan laki-laki tampak antusias sekali tanpa melihat lalu lintas yang ramai di jalan tersebut. Meski ada polisi yang berjaga, tapi tak dihiraukan.

Polisi pun sibuk mengatur lalu lintas, yang macat itu. Tak puas coret-coret baju seragam, mereka pun mulai menghidupkan mesin mobilnya dari merk-merk terkenal. Masing-masing sibuk memanggil temannya untuk bergabung dan melanjutkan kegembiraan usai UN di tempat lain. “Berbahaya sekali tingkah mereka ini. Karena tidak boleh corat-coret di sekolah, dilakukan di jalanan,” ucap seorang warga yang melintas.

Konvoi dengan kendaraan bermotor juga tampak di Jalan Jamin Ginting, kawasan Ringroad, Jalan Sudirman, Jalan Imam Bonjol, Jalan SM Raja, Jalan Perintis Kemerdekaan, Jalan Stasiun Kereta Api, Jalan Yos Sudarso, Jalan Gatot Subroto.

Tak hanya berkendara beriringan, beberapa rombongan juga berkendara ugal-ugalan dengan kecepatan tinggi tanpa menggunakan helm untuk keselamatan diri. Bahkan, ada siswa yang melawan petugas kepolisian saat dihentikan kala konvoi dengan menggunakan mobil jenis Honda Brio. Siswi ini, mengaku sebagai anak pejabat dan menolak untuk ditilang karena membuka pintu belakang mobil.

Seorang siswa yang mengaku bernama Agus, mengaku konvoi yang dilakukan ini tidak bermaksud untuk memperlihatkan kegembiraan karena telah selesai UN. “Sudah selesai UN. Sebentar lagi berpisah dengan kawan-kawan, jadi biar ada kenangan ini (melakukan konvoi). Kami tidak ngebut kok,” tuturnya saat rombongan yang semuanya mengecat simbol sekolah ini, berhenti di sisi Jalan Jamin Ginting menunggu temannya mengisi bensin kendaraan.

Sementara siswa lainnya, Tiara mengungkapkan sebenarnya di sekolah mereka memakai baju batik, perintah dari sekolah. Namun agar bisa melakukan ‘tradisi’ pasca UN, baju batik pun diganti usai keluar dari sekolah.

“Bawa baju putih dua. Satu disumbangkan ke sekolah, satu lagi untuk corat-coret. Baju untuk corat-coret disimpan di jok kereta (sepeda motor),” aku siswa yang tidak mau menyebutkan asal sekolahnya.

Hal yang sama juga terjadi di jalan ringroad. Dengan menggunakan sepeda serta mobil, para siswa/siswi konvoi di jalan Ringroad/Gagak Hitam Medan.

Siswa/i SMU ini sengaja membeli cet kaleng atau cat pilox yang berbagai warna yang dibelinya dari panglong dekat rumahnya mau pun di dekat sekolahnya. Dengan membawa cat yang di beliknya dan spidol. Ratusan pelajar ini sengaja mencoret coret baju kawan nya, dan mentanda tanganin baju putih abu abu kawan nya.

Berbagai sekolah, sebelumnya masing masing kepala sekolah telah menghibau kepada pelajarnya supaya selesai Ujian Nasional, tidak ada muritnya berada di jalanan dan mencoret coret baju nya. Namun para murit tetap melakukan aksi nya tersebut.

Pantauan dari wartawan SUMUT24, Kapolsek Sunggal Kompol Hary Azhar, menyuruh anggotanya yang berada di Lantas atau Sabhara untuk mengawasi aksi para pelajar, supaya tidak ada keributan di jalan umum, dan supaya tidak adanya macet dan mengangu para penguna jalan raya.

Ada beberapa pihak kepolisian menegur kepada pelajar supaya teratur, dan memarkirkan mobil atau sepeda motornya dengan teratur, supaya tidak menimbulkan kemacetan di Jalan Ringroad/Gagak Hitam. (Evt/RC)

Loading...