Baca Juga:
MEDAN I SUMUT24
Menjelang pelantikan Presiden Jokowi untuk periode yang ke dua, kondisi ekonomi di Indonesia mengalami perlambatan. Ekonomi Indonesia secara keseluruhan mengalami tekanan seiring dengan meningkatnya tekanan ekonomi eksternal.
“Tensi perang dagang yang sempat memburuk mengakibatkan ekonomi global melambat yang berdampak pada perlambatan ekonomi di Indonesia,” kata Pengamat Ekonomi UIN Sumut Gunawan Benjamin di Medan, Senin (14/10).
Dikatakannya, harga komoditas yang turun juga memicu terjadinya tekanan ekonomi seiring dengan eskalasi perang dagang akhir-akhir ini.
Tantangan ekonomi Presiden Jokowi di periode ke dua lebih besar dibandingkan dengan periode sebelumnya. Hal ini sangat membebani pemerintahan Jokowi di periode ini.
Terlebih jika perang dagang serta ketidakpastian ekonomi semakin memburuk seandainya di tahun 2020, Presiden AS terpilih tetap menjalankan program proteksi ekonominya.
Hal ini sangat mempengaruhi ekonomi nasional. Dan ancaman yang tak kalah serius adalah adanya potensi munculnya resesi ekonomi global di tahun depan.
“Jadi periode ke dua akan menjadi periode yang sangat sulit bagi Presiden Jokowi. Kalau dari sisi internal. Saya menilai, Jokowi akan lebih mampu mengatasi ekonomi nasional,” ujarnya.
Tetapi dampak negatif ekonomi eksternal ini sangat berpeluang memberikan tekanan yang signifikan dan di luar kemampuan pemerintah untuk menanggulanginya.
Di tengah kondisi seperti sekarang, yang paling penting itu adalah mengutamakan kestabilan harga kebutuhan pokok masyarakat. Akselerasi belanja pemerintah, agar motor ekonominya bisa bergerak di tengah perlambatan ekonomi global.
Utamakan kebijakan dalam menjaga ketahanan pangan masyarakat.Kurangi ketergantungan barang modal maupun modal dari negara lain.
“Upayakan kebijakan-kebijakan produktif yang padat karya sehingga mampu menyerap tenaga kerja. Yang tak kalah penting adalah menjaga kebijakan makro prudensial yang hati-hati,” katanya.
Ditanya menteri yang diangkat sebaiknya dari kalangan mana? “Saya sarankan yang rofesional, untuk sejumlah kebijakan yang strategis dan vital. Seperti Menteri di ruang lingkup ekonomi,” ujarnya. (C04)
Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di
Google News