Jumat, 28 Agustus 2026

NAHDLATUL ULAMA DAN PERJALANAN PANJANG PENGABDIANNYA BAGI BANGSA DAN NEGARA INDONESIA

Administrator - Jumat, 28 Agustus 2026 09:58 WIB
NAHDLATUL ULAMA DAN PERJALANAN PANJANG PENGABDIANNYA BAGI BANGSA DAN NEGARA INDONESIA
Ist
NAHDLATUL ULAMA DAN PERJALANAN PANJANG PENGABDIANNYA BAGI BANGSA DAN NEGARA INDONESIA

Baca Juga:

Oleh :Leriadi, S. Sos
Wakil Ketua Umum DPP AMPI
Wakil Sekretaris Eksekutif Balitbang DPP Partai Golkar

Dari Kebangkitan Tanah Air, Perjuangan Kemerdekaan, Pencerdasan Bangsa, hingga Merawat Indonesia yang Inklusif

Ada organisasi yang lahir setelah sebuah negara berdiri. Ada pula organisasi yang tumbuh bersama proses kelahiran bangsa itu sendiri. Nahdlatul Ulama—NU—termasuk dalam kategori kedua.

Memahami NU karena itu tidak cukup dengan melihatnya sebagai organisasi kemasyarakatan Islam yang didirikan pada 31 Januari 1926. Sejarah NU jauh lebih panjang daripada usia organisasinya. Akar NU tumbuh dari tradisi ulama dan pesantren Nusantara, dari perjuangan melawan kolonialisme, dari kebangkitan pendidikan rakyat, dari kesadaran bahwa agama harus memberikan manfaat bagi masyarakat, dan dari keyakinan bahwa Islam dan kebangsaan Indonesia bukan dua kutub yang harus dipertentangkan.

Dalam perjalanan hampir satu abad, NU telah mengalami berbagai fase sejarah: menjadi gerakan keagamaan, kekuatan pendidikan, bagian dari perjuangan kemerdekaan, partai politik, kekuatan masyarakat sipil, sekaligus salah satu sumber penting pemikiran Islam Indonesia yang moderat dan inklusif.

Karena itu, sejarah NU sesungguhnya adalah bagian dari sejarah perjalanan Indonesia itu sendiri.

I. AKAR SEJARAH NU: DARI PESANTREN MENUJU KESADARAN KEBANGSAAN

Jauh sebelum Republik Indonesia berdiri, pesantren telah menjadi salah satu institusi sosial dan intelektual terpenting di Nusantara.

Pesantren bukan sekadar tempat belajar agama. Di sana masyarakat mempelajari Al-Qur'an, hadis, fikih dan akhlak, tetapi sekaligus belajar disiplin, kemandirian, kepemimpinan, kehidupan bersama dan pengabdian kepada masyarakat.

Dalam kondisi kolonial, pesantren juga menjadi ruang untuk mempertahankan identitas dan martabat masyarakat pribumi.

Kesadaran keagamaan secara perlahan berkembang menjadi kesadaran sosial dan kebangsaan.

Pada awal abad ke-20, sejumlah ulama kemudian mendirikan berbagai organisasi yang menjadi embrio pemikiran NU.

Nahdlatul Wathan—Kebangkitan Tanah Air—lahir pada 1916.

Taswirul Afkar—Kebangkitan Pemikiran—berkembang pada 1918.

Nahdlatut Tujjar—Kebangkitan Kaum Pedagang—juga berkembang pada periode yang sama.

Tiga perkembangan tersebut menunjukkan sesuatu yang fundamental: kebangkitan masyarakat tidak cukup hanya melalui dakwah keagamaan. Bangsa juga membutuhkan pendidikan, pemikiran dan kekuatan ekonomi.

Dengan kata lain, sejak awal telah muncul kesadaran mengenai tiga unsur penting pembangunan masyarakat:

agama, ilmu pengetahuan dan kemandirian sosial-ekonomi.

Kesadaran itulah yang kemudian menemukan bentuk organisasinya dalam Nahdlatul Ulama.

II. 1926: NAHDLATUL ULAMA LAHIR

Pada 31 Januari 1926, para ulama mendirikan Nahdlatul Ulama di Surabaya.

KH Hasyim Asy'ari menjadi salah satu tokoh sentral dalam pendirian organisasi tersebut bersama KH Abdul Wahab Chasbullah, KH Bisri Syansuri dan jaringan ulama pesantren lainnya.

NU lahir sebagai jam'iyah diniyah ijtima'iyah—organisasi keagamaan dan kemasyarakatan.

Istilah tersebut memiliki makna yang sangat penting.

Agama tidak dipahami hanya sebagai hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga sebagai tanggung jawab manusia terhadap sesama dan lingkungan sosialnya.

Karena itu, perjuangan NU sejak awal tidak berhenti pada persoalan ibadah. Ia mencakup pendidikan, kehidupan sosial, ekonomi, kebudayaan dan kebangsaan.

NU tumbuh dalam sebuah negeri yang saat itu belum merdeka.

Karena itu pertanyaan besar yang dihadapi para ulama bukan hanya:

"Bagaimana umat menjalankan agamanya?"

Tetapi juga:

"Bagaimana umat dapat hidup bermartabat di tanah airnya sendiri?"

III. PENDIDIKAN: MENCERDASKAN RAKYAT SEBELUM REPUBLIK BERDIRI

Salah satu jasa terbesar NU kepada Indonesia adalah kontribusinya dalam pendidikan.

Sebelum negara memiliki sistem pendidikan nasional yang terorganisasi, pesantren telah mendidik masyarakat.

Pesantren merupakan salah satu bentuk pendidikan rakyat yang bertahan menghadapi tekanan kolonial.

Kemudian NU membangun jaringan madrasah dan sekolah melalui lembaga pendidikan yang berkembang menjadi LP Ma'arif NU.

Pendidikan tersebut mempunyai misi yang lebih luas daripada sekadar mencetak orang yang menguasai ilmu agama.

Ia membentuk manusia yang:

berilmu, beriman, berakhlak, mandiri dan berguna bagi masyarakat.

Dalam tradisi pendidikan NU, ilmu tidak dimaksudkan untuk menciptakan kesombongan intelektual. Ilmu harus melahirkan pengabdian.

Inilah salah satu warisan penting pesantren bagi Indonesia.

Bangsa tidak hanya membutuhkan manusia pintar.

Bangsa membutuhkan manusia berkarakter.

Karena itu pendidikan pesantren sesungguhnya telah memainkan peran sebagai salah satu instrumen nation building jauh sebelum istilah tersebut populer.

IV. TRADISI KEILMUAN: BELAJAR DARI MASA LALU UNTUK MENGHADAPI MASA DEPAN

Salah satu kekuatan NU terletak pada kemampuannya menjaga hubungan antara tradisi dan perubahan.

Tradisi keilmuan NU mengenal prinsip:

al-muhafazhah 'ala al-qadim al-shalih, wal-akhdzu bil-jadid al-ashlah.

Memelihara nilai-nilai lama yang baik dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik.

Prinsip tersebut mempunyai relevansi luar biasa bagi bangsa Indonesia.

Modernisasi tidak harus berarti membuang tradisi.

Sebaliknya, mempertahankan tradisi tidak berarti menolak kemajuan.

Di tengah perubahan zaman, NU mengembangkan sebuah pendekatan yang memungkinkan agama tetap memiliki akar tradisional tetapi mampu berdialog dengan modernitas.

Tradisi pesantren juga mengenal khazanah perbedaan pendapat di antara para ulama.

Karena itu, perbedaan tidak selalu dipandang sebagai ancaman.

Perbedaan dapat menjadi bagian dari proses pencarian kebenaran.

Dari sinilah berkembang salah satu karakter penting pemikiran NU:

inklusivitas intelektual.

V. NU DAN PERJUANGAN KEMERDEKAAN

Ketika bangsa Indonesia memasuki periode perjuangan kemerdekaan, NU tidak berdiri di luar arus sejarah.

Para ulama dan santri ikut menjadi bagian dari perjuangan mempertahankan tanah air.

Puncaknya terjadi pada Oktober 1945.

Ketika kemerdekaan Republik Indonesia menghadapi ancaman kembalinya kekuasaan kolonial, para ulama NU berkumpul di Surabaya.

Pada 22 Oktober 1945 lahirlah Resolusi Jihad.

Resolusi tersebut menyerukan kewajiban mempertahankan kemerdekaan dan membela Republik Indonesia.

Seruan tersebut mempunyai dampak besar terhadap mobilisasi masyarakat dan santri.

Hizbullah, Sabilillah, para santri dan rakyat bergerak bersama kekuatan perjuangan lainnya menghadapi ancaman kolonial.

Beberapa minggu kemudian pecahlah Pertempuran Surabaya pada 10 November 1945.

Karena itu, sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia tidak dapat dipisahkan dari peran para ulama dan santri.

Resolusi Jihad menjadi salah satu manifestasi penting bahwa bagi NU, mempertahankan kemerdekaan bukan sekadar persoalan politik.

Ia merupakan bagian dari tanggung jawab moral dan keagamaan.

Dari sinilah lahir sebuah prinsip penting:

hubbul wathan minal iman—cinta tanah air merupakan bagian dari nilai keimanan.

VI. DARI MEMPERJUANGKAN KEMERDEKAAN MENUJU MENGISI KEMERDEKAAN

Kemerdekaan bukanlah tujuan akhir.

Setelah Republik berdiri, tantangan berubah.

Jika pada masa kolonial perjuangan utama adalah membebaskan bangsa dari penjajahan, maka setelah merdeka perjuangannya adalah:

bagaimana membuat kemerdekaan memberikan kehidupan yang lebih baik bagi rakyat.

NU kemudian berkontribusi melalui pendidikan, dakwah, pelayanan sosial, kesehatan, ekonomi kerakyatan dan pemberdayaan masyarakat.

Perjuangan berpindah dari medan perang ke medan pembangunan manusia.

Dari senjata menuju sekolah.

Dari pertempuran menuju pendidikan.

Dari mempertahankan wilayah menuju membangun kualitas manusia.

Di sinilah makna pengabdian NU kepada Indonesia mengalami transformasi.

VII. DINAMIKA POLITIK DAN PENGALAMAN SEJARAH

Perjalanan NU tidak selalu berada di luar politik.

Pada 1952 NU menjadi partai politik sendiri dan kemudian berpartisipasi dalam Pemilu 1955.

Dalam periode tersebut NU memainkan peran penting dalam kehidupan politik Indonesia.

Namun pengalaman panjang itu kemudian menghasilkan refleksi mendalam mengenai hubungan agama, organisasi masyarakat dan kekuasaan.

Pada Muktamar Situbondo 1984, NU memutuskan kembali kepada Khittah 1926.

Keputusan tersebut menjadi salah satu titik balik terbesar dalam sejarah NU.

NU kembali menegaskan dirinya sebagai jam'iyah diniyah ijtima'iyah.

Artinya, NU tidak harus menjadi kendaraan perebutan kekuasaan untuk memberikan kontribusi terhadap bangsa.

Justru kekuatan NU dapat dikembangkan melalui masyarakat:

pendidikan, pesantren, dakwah, kebudayaan, ekonomi, kesehatan, pemberdayaan dan penguatan civil society.

Politik tetap menjadi bagian dari kehidupan warga NU, tetapi organisasi tidak harus menjadikan perebutan kekuasaan sebagai pusat eksistensinya.

Pengalaman ini memberikan pelajaran penting bagi demokrasi Indonesia:

masyarakat yang kuat tidak selalu harus menjadi negara.

Negara membutuhkan masyarakat sipil yang kuat, mandiri dan kritis.

VIII. NU, PANCASILA DAN NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA

Salah satu kontribusi besar NU terhadap konsolidasi Indonesia adalah penerimaannya terhadap Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Bagi NU, Indonesia adalah rumah bersama.

Indonesia terdiri atas berbagai agama, suku, budaya, bahasa dan tradisi.

Karena itu negara tidak boleh menjadi milik satu kelompok.

Pancasila menjadi titik temu yang memungkinkan berbagai kelompok hidup bersama tanpa harus menghapus identitas masing-masing.

Dalam perspektif ini, nasionalisme Indonesia tidak bertentangan dengan Islam.

Seorang Muslim dapat menjadi Muslim yang taat sekaligus menjadi warga negara Indonesia yang mencintai tanah air.

Agama memberikan nilai moral.

Pancasila memberikan titik temu kebangsaan.

Konstitusi memberikan kerangka kehidupan bernegara.

Dan masyarakat sipil menjaga agar negara tetap berpihak kepada kepentingan rakyat.

Inilah salah satu sumbangan pemikiran NU terhadap pembangunan Indonesia modern.

βΈ»

IX. GUS DUR DAN PERLUASAN CAKRAWALA PEMIKIRAN NU

Dalam sejarah pemikiran NU modern, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur merupakan tokoh yang sangat penting.

Gus Dur membawa tradisi pesantren ke ruang dialog dengan persoalan modern:

demokrasi, hak asasi manusia, pluralisme, kebebasan berpikir, kebudayaan, negara dan hubungan antaragama.

Ia menunjukkan bahwa menjadi Muslim tidak berarti harus menjadi eksklusif.

Sebaliknya, seseorang dapat mempunyai keyakinan agama yang kuat sekaligus menghormati hak orang lain yang berbeda.

Gagasan Gus Dur tentang pribumisasi Islam juga memperlihatkan bahwa Islam dapat berinteraksi secara kreatif dengan kebudayaan lokal.

Islam tidak harus kehilangan identitasnya ketika berinteraksi dengan budaya.

Begitu pula budaya Indonesia tidak harus ditolak hanya karena bukan berasal dari tradisi Arab.

Pemikiran semacam ini memperkuat karakter Islam Indonesia sebagai Islam yang:

religius tetapi terbuka,

berprinsip tetapi toleran,

berakar pada tradisi tetapi mampu berdialog dengan modernitas.

X. NU DAN PEMBENTUKAN KARAKTER BANGSA

Jika pendidikan adalah proses mencerdaskan bangsa, maka pendidikan pesantren juga memiliki fungsi yang lebih dalam:

membentuk karakter.

Dalam kehidupan pesantren, santri tidak hanya diajarkan apa yang harus diketahui.

Mereka diajarkan bagaimana harus hidup.

Menghormati guru.

Menghargai ilmu.

Hidup sederhana.

Disiplin.

Bekerja sama.

Mandiri.

Menghormati orang lain.

Mengutamakan kepentingan masyarakat.

Dan menggunakan ilmu untuk pengabdian.

Nilai-nilai tersebut merupakan modal sosial yang sangat penting bagi bangsa.

Indonesia tidak akan menjadi negara maju hanya karena memiliki teknologi dan modal.

Negara maju membutuhkan manusia yang mempunyai integritas.

Karena itu, kontribusi NU dalam pembentukan karakter bangsa sesungguhnya jauh lebih luas daripada jumlah sekolah dan pesantren yang dimilikinya.

Ia berada dalam tradisi pendidikan yang menghubungkan:

ilmu → iman → akhlak → tanggung jawab sosial → pengabdian.

XI. NU DAN PEMIKIRAN ISLAM YANG INKLUSIF

Indonesia adalah negara yang sangat majemuk.

Dalam kondisi seperti itu, agama tidak dapat hanya menjadi sumber identitas kelompok.

Agama harus menjadi sumber etika kehidupan bersama.

Tradisi NU mempunyai modal intelektual untuk memainkan peran tersebut.

Tawassuth—jalan tengah.

Tawazun—keseimbangan.

Tasamuh—toleransi.

I'tidal—keadilan.

Nilai-nilai tersebut memungkinkan seseorang memegang keyakinannya dengan teguh tanpa harus merendahkan keyakinan orang lain.

Inilah makna penting inklusivitas.

Inklusif bukan berarti kehilangan prinsip.

Inklusif berarti mampu hidup bersama dengan orang yang berbeda tanpa kehilangan identitas sendiri.

Dengan demikian, NU memberikan sebuah model bahwa:

kesalehan pribadi dapat berjalan bersama tanggung jawab sosial;

Islam dapat berjalan bersama demokrasi;

religiusitas dapat berjalan bersama pluralisme;

nasionalisme dapat berjalan bersama keislaman.

XII. NU SEBAGAI KEKUATAN CIVIL SOCIETY

Dalam perjalanan sejarahnya, NU berkembang menjadi salah satu kekuatan masyarakat sipil terbesar di Indonesia.

Jaringannya mencakup pesantren, madrasah, sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, lembaga sosial, koperasi, organisasi perempuan, organisasi pemuda, lembaga dakwah dan berbagai institusi kemasyarakatan.

Kekuatan tersebut mempunyai arti strategis.

Negara tidak mungkin mengurus seluruh persoalan masyarakat sendirian.

Karena itu negara membutuhkan masyarakat sipil yang kuat.

Dalam konteks inilah NU mempunyai posisi penting sebagai jembatan antara:

agama dan masyarakat,

tradisi dan modernitas,

rakyat dan negara,

identitas keagamaan dan identitas kebangsaan.

XIII. DARI 1926 MENUJU 2045: APA YANG DAPAT DIWARISKAN NU?

Memasuki usia satu abad, NU menghadapi tantangan yang berbeda dari tantangan para pendirinya.

Pada 1926, tantangannya adalah kolonialisme.

Pada 1945, tantangannya adalah mempertahankan kemerdekaan.

Pada era berikutnya, tantangannya adalah membangun negara dan masyarakat.

Kini Indonesia menghadapi tantangan baru:

disrupsi teknologi, artificial intelligence, perubahan geopolitik, ketimpangan ekonomi, krisis lingkungan, perubahan demografi, ekstremisme, fragmentasi sosial, dan kompetisi global.

Karena itu pengabdian NU kepada bangsa harus terus berevolusi.

Pesantren harus menjadi pusat keunggulan ilmu.

Pendidikan NU harus menguasai sains, teknologi dan artificial intelligence tanpa kehilangan fondasi akhlak.

Generasi muda NU harus mampu menjadi ilmuwan, teknokrat, pengusaha, profesional dan pemimpin global.

Ekonomi umat harus berkembang dari ekonomi bertahan hidup menuju ekonomi produktif dan kompetitif.

Dan tradisi inklusif NU harus menjadi modal sosial untuk menjaga persatuan Indonesia.

XIV. DARI HUBBUL WATHAN MENUJU HUMAN CAPITAL INDONESIA

Jika generasi pendiri NU memberikan pelajaran bahwa cinta tanah air adalah bagian dari tanggung jawab keagamaan, maka generasi sekarang mempunyai tugas untuk menerjemahkan cinta tanah air ke dalam bentuk baru.

Cinta tanah air pada abad ke-21 berarti:

menciptakan ilmu pengetahuan;

menciptakan lapangan kerja;

membangun teknologi;

mengurangi kemiskinan;

meningkatkan kualitas pendidikan;

menjaga lingkungan;

melawan korupsi;

membangun institusi yang bersih;

dan membawa Indonesia menjadi bangsa yang berdaulat dan bermartabat di dunia.

Dengan demikian, pengabdian kepada bangsa tidak berhenti pada simbol.

Ia harus menghasilkan kemajuan nyata bagi rakyat.

XV. NU DAN INDONESIA EMAS 2045

Indonesia Emas 2045 membutuhkan lebih daripada pertumbuhan ekonomi.

Indonesia membutuhkan manusia yang:

cerdas tetapi berkarakter;

religius tetapi inklusif;

nasionalis tetapi terbuka terhadap dunia;

modern tetapi tidak kehilangan akar budaya;

kompetitif tetapi tetap memiliki solidaritas sosial.

Dalam konteks inilah warisan sejarah NU menjadi sangat relevan.

NU memiliki pengalaman hampir satu abad dalam menghubungkan:

agama dengan kebangsaan,

pendidikan dengan karakter,

tradisi dengan modernitas,

identitas dengan inklusivitas,

masyarakat dengan negara.

Warisan tersebut bukan hanya milik warga NU.

Ia merupakan bagian dari kekayaan intelektual dan sosial Indonesia.

XVI. HARAPAN MASYARAKAT INDONESIA YANG MAJEMUK KEPADA NU

Sebagai bagian dari masyarakat Indonesia yang majemuk, kami memandang perjalanan Nahdlatul Ulama bukan hanya sebagai perjalanan sebuah organisasi keagamaan, tetapi sebagai bagian dari perjalanan panjang bangsa Indonesia.

Indonesia adalah rumah bersama yang dibangun dari keberagaman. Di dalamnya hidup berbagai agama, kepercayaan, suku, etnis, bahasa, budaya, tradisi, serta berbagai pandangan politik dan pemikiran.

Karena itu, Indonesia membutuhkan kekuatan-kekuatan sosial yang mampu menjadi perekat, bukan pemisah; menjadi jembatan, bukan tembok; menjadi sumber kesejukan, bukan sumber pertentangan.

Dalam konteks itulah kami menaruh harapan kepada NU.

Harapan tersebut bukan karena NU harus menjadi wakil seluruh masyarakat Indonesia, melainkan karena sejarah NU telah memberikan contoh bahwa kecintaan terhadap agama dapat berjalan bersama kecintaan terhadap tanah air, dan kekuatan keagamaan dapat diabdikan untuk kepentingan bangsa dan negara.

βΈ»

Bangsa dan Negara sebagai Rumah Bersama

Salah satu warisan terpenting para pendiri NU adalah cara mereka memandang hubungan antara Islam, masyarakat dan tanah air.

Para ulama pendiri NU tidak menempatkan kepentingan kelompok di atas kepentingan bangsa.

Ketika kemerdekaan Indonesia terancam, mereka tidak bertanya terlebih dahulu:

"Apa keuntungan NU?"

Mereka bertanya:

"Bagaimana Republik Indonesia harus dipertahankan?"

Resolusi Jihad 1945 menjadi salah satu contoh historis paling kuat.

Para ulama dan santri bergerak mempertahankan kemerdekaan yang baru diproklamasikan, bukan untuk mendirikan negara bagi satu golongan, melainkan untuk mempertahankan Republik Indonesia.

Di sinilah terdapat pelajaran yang sangat berharga bagi kehidupan kebangsaan hari ini.

Kepentingan bangsa dan negara harus ditempatkan di atas kepentingan kelompok.

Organisasi boleh mempunyai kepentingan.

Partai politik boleh mempunyai kepentingan.

Kelompok agama boleh mempunyai kepentingan.

Masyarakat boleh mempunyai kepentingan.

Tetapi semuanya harus menemukan batas akhirnya pada kepentingan yang lebih besar:

kepentingan Indonesia.

βΈ»

Dari "Apa untuk Kami?" Menjadi "Apa yang Dapat Kami Berikan untuk Indonesia?"

Mungkin inilah semangat yang perlu terus diwariskan dari generasi pendiri NU kepada generasi berikutnya.

Dalam kehidupan berbangsa, pertanyaan yang paling penting bukan hanya:

"Apa yang dapat negara berikan kepada kita?"

Tetapi:

"Apa yang dapat kita berikan kepada negara?"

Bukan hanya:

"Apa yang dapat bangsa berikan kepada kelompok kita?"

Tetapi:

"Apa yang dapat kelompok kita berikan kepada bangsa?"

Inilah makna pengabdian.

Dan sejarah NU menunjukkan bahwa pengabdian tersebut dapat dilakukan melalui berbagai jalan:

melalui pendidikan;

melalui dakwah;

melalui perjuangan kemerdekaan;

melalui pelayanan sosial;

melalui kesehatan;

melalui pemberdayaan ekonomi;

melalui pembentukan karakter;

melalui pengembangan ilmu pengetahuan;

dan melalui perjuangan menjaga persatuan bangsa.

βΈ»

Harapan Pertama: NU Tetap Menjadi Rumah Besar Moderasi Indonesia

Kami berharap NU terus mempertahankan tradisi tawassuth, tawazun, tasamuh dan i'tidal.

Di tengah masyarakat yang semakin terpolarisasi, bangsa Indonesia membutuhkan suara yang mampu mengatakan:

berbeda bukan berarti bermusuhan.

Perbedaan agama tidak harus melahirkan kebencian.

Perbedaan politik tidak harus menghancurkan persaudaraan.

Perbedaan pilihan tidak harus menghapus rasa sebangsa.

Dan perbedaan pemikiran tidak harus berakhir pada saling meniadakan.

Kami berharap NU tetap menjadi salah satu kekuatan yang menjaga ruang tengah bangsa.

Bukan ruang yang kehilangan prinsip, tetapi ruang yang memungkinkan berbagai kelompok hidup bersama dalam penghormatan dan keadilan.

βΈ»

Harapan Kedua: NU Menjadi Penjaga Persatuan Indonesia

Indonesia adalah negara yang sangat besar dan sangat beragam.

Keberagaman tersebut sekaligus merupakan kekuatan dan kerentanan.

Apabila dikelola dengan baik, keberagaman menjadi energi bangsa.

Tetapi apabila dieksploitasi untuk kepentingan politik, ekonomi atau kekuasaan, keberagaman dapat berubah menjadi sumber konflik.

Karena itu kami berharap NU terus mengambil peran sebagai penjaga kohesi sosial bangsa.

NU memiliki jaringan sosial yang sangat luas.

Pesantren, madrasah, sekolah, perguruan tinggi, ulama, kiai, santri, perempuan, pemuda dan berbagai organisasi sosialnya merupakan modal sosial yang sangat besar.

Modal tersebut hendaknya tidak hanya digunakan untuk memperkuat organisasi, tetapi juga untuk memperkuat Indonesia

Harapan Ketiga: NU Mendahulukan Kepentingan Bangsa di Atas Kepentingan Kekuasaan

Sejarah NU memberikan pelajaran yang sangat menarik.

NU pernah masuk ke dalam politik praktis.

NU juga pernah menjadi partai politik.

Namun pengalaman sejarah tersebut akhirnya melahirkan Khittah 1926.

Pelajaran penting dari perjalanan tersebut adalah bahwa kekuatan sosial-keagamaan tidak harus selalu berada di dalam kekuasaan untuk dapat memengaruhi arah bangsa.

Bahkan masyarakat sipil yang kuat sering kali justru diperlukan untuk mengingatkan kekuasaan.

Karena itu kami berharap NU:

dekat dengan negara, tetapi tidak kehilangan independensinya;

berdialog dengan pemerintah, tetapi tetap mampu memberikan kritik;

mendukung kebijakan yang baik, tetapi berani mengingatkan ketika terjadi penyimpangan;

tidak menjadi alat kekuasaan, tetapi menjadi mitra kritis kekuasaan.

Kedekatan dengan pemerintah seharusnya tidak menghilangkan fungsi moral masyarakat sipil.

Justru semakin besar kedekatan dengan pusat kekuasaan, semakin besar pula tanggung jawab moral untuk memastikan kekuasaan digunakan bagi kepentingan rakyat.

Harapan Keempat: NU Memimpin Gerakan Pencerdasan Bangsa

Jika dahulu pesantren berjuang mencerdaskan masyarakat dalam kondisi kolonial, maka hari ini tantangannya jauh lebih besar.

Indonesia memasuki era artificial intelligence, digitalisasi, bioteknologi, ekonomi berbasis pengetahuan dan kompetisi global.

Karena itu kami berharap pesantren dan lembaga pendidikan NU tidak hanya menjadi pusat pengajaran agama, tetapi juga menjadi:

pusat ilmu pengetahuan;

pusat riset;

pusat teknologi;

pusat inovasi;

pusat kewirausahaan;

dan pusat pembentukan manusia unggul Indonesia.

Santri masa depan tidak cukup hanya menguasai kitab.

Mereka juga harus mampu menguasai:

sains,

teknologi,

ekonomi,

bahasa internasional,

digitalisasi,

artificial intelligence,

dan pengetahuan global.

Tetapi semua itu harus dibangun di atas fondasi:

iman, akhlak, integritas dan tanggung jawab sosial.

Dengan demikian, NU dapat memberikan kontribusi besar terhadap pembangunan human capital Indonesia.

Harapan Kelima: Memperkuat Karakter Bangsa

Indonesia membutuhkan manusia pintar.

Tetapi Indonesia lebih membutuhkan manusia pintar yang jujur.

Kita membutuhkan manusia yang berpendidikan tinggi, tetapi tidak kehilangan rasa malu ketika melakukan korupsi.

Kita membutuhkan pemimpin yang cerdas, tetapi tidak menggunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadi.

Kita membutuhkan pengusaha yang sukses, tetapi tidak mengeksploitasi masyarakat.

Kita membutuhkan birokrat yang profesional, tetapi tidak menjadikan jabatan sebagai sumber keuntungan pribadi.

Dalam hal ini tradisi pesantren memiliki warisan yang sangat berharga:

adab sebelum ilmu,

akhlak bersama kecerdasan,

pengabdian bersama pengetahuan.

Kami berharap nilai-nilai tersebut terus menjadi bagian dari kontribusi NU bagi pembentukan karakter bangsa Indonesia.

Harapan Keenam: NU Menjadi Jembatan Antaragama dan Antargolongan

Sebagai masyarakat Indonesia yang majemuk, kami berharap NU terus memperkuat dialog antaragama dan antarbudaya.

Bukan dengan meminta setiap orang meninggalkan keyakinannya.

Justru sebaliknya.

Kita dapat tetap teguh dengan keyakinan masing-masing sambil mengakui bahwa orang lain juga mempunyai hak yang sama untuk hidup, beribadah dan berkembang.

Inilah inti dari masyarakat demokratis.

Kita tidak harus menjadi sama untuk dapat hidup bersama.

Kita cukup menjadi:

saling menghormati,

saling melindungi,

saling bekerja sama,

dan saling memberikan ruang.

Dalam konteks Indonesia, pemikiran inklusif semacam ini bukan kelemahan.

Ia merupakan kekuatan strategis bangsa.

Harapan Ketujuh: NU Menjadi Penjaga Etika Kekuasaan

Bangsa Indonesia tidak hanya membutuhkan pembangunan ekonomi.

Indonesia membutuhkan good governance.

Kita membutuhkan kekuasaan yang:

jujur,

adil,

transparan,

akuntabel,

profesional,

dan berpihak kepada kepentingan rakyat.

Karena itu kami berharap NU tidak hanya berbicara tentang kesalehan individu, tetapi juga memperjuangkan kesalehan sosial dan etika publik.

Korupsi bukan hanya persoalan hukum.

Korupsi adalah persoalan moral.

Penyalahgunaan kekuasaan bukan hanya persoalan administrasi.

Ia adalah pengkhianatan terhadap amanah rakyat.

Ketidakadilan bukan hanya persoalan ekonomi.

Ia adalah persoalan moral dan kemanusiaan.

Karena itu suara moral NU akan sangat penting apabila diarahkan kepada:

pemberantasan korupsi,

penegakan hukum yang adil,

pemerintahan yang bersih,

perlindungan masyarakat miskin,

dan penguatan institusi demokrasi.

Harapan Kedelapan: NU Tidak Kehilangan Tradisi Intelektualnya

Kami juga berharap NU tidak hanya menjadi organisasi besar secara jumlah, tetapi juga besar secara pemikiran.

Bangsa Indonesia membutuhkan ulama yang mampu berdialog dengan ilmuwan.

Membutuhkan kiai yang memahami persoalan ekonomi.

Membutuhkan intelektual yang memahami agama.

Membutuhkan generasi muda yang mampu menghubungkan pesantren dengan dunia global.

Karena itu tradisi bahtsul masail, kajian kitab dan tradisi intelektual pesantren perlu terus dikembangkan agar mampu menjawab persoalan abad ke-21.

Pertanyaan yang dihadapi umat dan bangsa sekarang sudah berubah:

Bagaimana etika artificial intelligence?

Bagaimana masa depan pekerjaan?

Bagaimana menghadapi perubahan iklim?

Bagaimana ekonomi digital harus diatur?

Bagaimana menjaga privasi manusia?

Bagaimana menghadapi ketimpangan?

Bagaimana etika bioteknologi?

Bagaimana hubungan agama dan negara dalam demokrasi modern?

NU memiliki tradisi intelektual yang panjang.

Tantangannya adalah membawa tradisi tersebut memasuki persoalan masa depan.

XVII. HARAPAN TERBESAR: TETAP MENJADI KEKUATAN UNTUK INDONESIA

Pada akhirnya, sebagai bagian dari masyarakat Indonesia yang majemuk, harapan kami kepada NU sederhana tetapi mendasar:

tetaplah menjadi kekuatan untuk Indonesia.

Jangan biarkan kebesaran organisasi mengalahkan kebesaran bangsa.

Jangan biarkan kepentingan kelompok mengalahkan kepentingan negara.

Jangan biarkan politik kekuasaan mengalahkan suara moral.

Dan jangan biarkan modernitas membuat kita kehilangan akar nilai dan akhlak.

Warisan terbesar para pendiri NU bukan hanya sebuah organisasi.

Warisan terbesar mereka adalah semangat pengabdian.

Ketika bangsa membutuhkan kemerdekaan, mereka hadir.

Ketika masyarakat membutuhkan pendidikan, mereka membangun pesantren dan madrasah.

Ketika masyarakat membutuhkan pembinaan moral, mereka berdakwah.

Ketika bangsa menghadapi ancaman, mereka menyerukan pembelaan terhadap tanah air.

Dan ketika Indonesia membutuhkan persatuan, mereka ikut menjaga rumah bersama.

Semangat itulah yang perlu terus dilanjutkan.

DARI KHASANAH NU UNTUK SELURUH INDONESIA

Kami berharap NU tidak hanya menjadi organisasi besar milik warga NU.

Kami berharap NU menjadi kekuatan moral yang manfaatnya dirasakan seluruh Indonesia.

Karena Indonesia bukan hanya milik satu organisasi.

Indonesia adalah milik seluruh rakyat.

NU memiliki identitas keislamannya.

Kelompok lain memiliki identitasnya.

Tetapi di atas seluruh identitas tersebut terdapat satu identitas bersama yang jauh lebih besar:

INDONESIA.

Di situlah semangat para pendiri NU harus terus ditempatkan.

Islam adalah sumber nilai.

Ilmu adalah sumber daya.

Akhlak adalah fondasi.

Pancasila adalah titik temu kebangsaan.

NKRI adalah rumah bersama.

Dan rakyat Indonesia adalah tujuan pengabdian.

PENUTUP: MENJAGA WARISAN, MENJAWAB MASA DEPAN

Hampir satu abad perjalanan NU telah menunjukkan bahwa organisasi dapat berubah mengikuti zaman tanpa harus kehilangan jati dirinya.

Dari pesantren menuju organisasi.

Dari organisasi menuju perjuangan kebangsaan.

Dari perjuangan menuju kemerdekaan.

Dari kemerdekaan menuju pendidikan.

Dari pendidikan menuju pembentukan karakter.

Dari politik menuju penguatan masyarakat sipil.

Dan dari tradisi menuju pemikiran yang mampu berdialog dengan modernitas.

Kini Indonesia memasuki babak baru.

Tantangan bangsa tidak lagi hanya mempertahankan kemerdekaan dari penjajahan.

Tantangan kita adalah mempertahankan kedaulatan, persatuan, keadilan, demokrasi dan martabat manusia Indonesia di tengah perubahan dunia yang sangat cepat.

Karena itu, harapan masyarakat Indonesia kepada NU bukan agar NU menjadi semakin kuat untuk dirinya sendiri.

Harapannya adalah agar NU semakin kuat untuk memberikan manfaat bagi bangsa.

Sebagaimana semangat para pendirinya:

ketika bangsa membutuhkan perjuangan, NU hadir;
ketika rakyat membutuhkan pendidikan, NU mengabdi;
ketika masyarakat membutuhkan keteladanan, NU memberikan nilai;
dan ketika Indonesia membutuhkan persatuan, NU berdiri bersama Indonesia.

Itulah makna pengabdian yang sesungguhnya.

Sebab pada akhirnya, kebesaran sebuah organisasi tidak diukur hanya dari besarnya jumlah anggota, luasnya jaringan atau kuatnya pengaruh politik.

Kebesaran sebuah organisasi diukur dari:

seberapa besar manfaatnya bagi manusia,

seberapa besar jasanya bagi bangsa,

seberapa kuat ia menjaga persatuan,

dan seberapa tulus ia mengabdikan kekuatannya untuk negara.

Maka memasuki satu abad perjalanan NU, harapan kita adalah agar semangat para pendiri itu tidak pernah hilang:

Mendahulukan kepentingan bangsa.
Mengabdi kepada negara.
Mencerdaskan rakyat.
Menjaga persatuan.
Menegakkan keadilan.
Merawat keberagaman.
Dan bersama-sama membangun Indonesia yang maju, adil, sejahtera dan bermartabat.

Karena pada akhirnya:

NU adalah bagian dari Indonesia, dan pengabdian terbaik NU adalah ketika kebesaran NU menjadi bagian dari kebesaran Indonesia.

Dari ulama untuk umat.
Dari pesantren untuk bangsa.
Dari perjuangan untuk kemerdekaan.
Dari ilmu untuk pencerdasan.
Dari akhlak untuk peradaban.
Dan dari NU untuk Indonesia.

Rel

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Sumber
:
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Ulama Senior Alireza Arafi Ditunjuk Masuk Dewan Kepemimpinan Sementara Iran
ULAMA AL WASHLIYAH: DARI MAKTAB MEMBANGUN KEKUATAN UMAT, Menyambut Hadirnya Buku “Biografi Tokoh Ulama Al Jam’iyatul Washliyah”
Markaz Bina Ulama MUI Kabupaten Asahan Resmi Beroperasi
Bupati dan Forkopimda Bersama Ulama, Lintas Etnis, dan Mahasiswa Sepakat Menjaga Kondusivitas Asahan
Perpisahan AKBP Yasir Ahmadi Diiringi Zikir dan Doa Bersama Pimpinan Ponpes Tabagsel
Kebersamaan Civitas Akademika UNPAB dalam Iftar Ramadhan 1446 H: Silaturahmi dan Apresiasi Prestasi
komentar
beritaTerbaru