Jumat, 24 Juli 2026

Shohibul Anshor Siregar: Melayu Harus Bangkit

Administrator - Senin, 14 Oktober 2019 19:20 WIB
Shohibul Anshor Siregar: Melayu Harus Bangkit

 

Baca Juga:

LANGKAT I SUMUT24.CO

Melayu harus bangkit. Audit semua kendala struktural dan kultural masa lalu dan songsong masa depan yang cerah. Di pihak lain adalah kewajiban bagi pemerintah untuk memberi affirmasi untuk strategi akselerasi Melayu.

Kini konsep Melayu berkembang tak hanya Melayu dalam arti puak-puak yang umumnya berdomisili di sekitar pesisir pantai di seluruh kepulauan Indonesia dan lebih khusus bukan saja kalangan yang pada tahun 1946 mengalami perlakuan buruk dalam politik, ucap Pengamat Sosial Politik UMSU Shohibul Anshor Siregar dalam Dialog sejarah di Tanjung Pura Langkat, Sabtu (12/10). Menurutnya,

Beberapa bulan lalu saya ke Kuala Lumpur mengikuti sebuah forum antar bangsa berupa Seminar Etnosains Dunia Melayu. Di sana disajikkan data-data yang merujuk pada kejayaan masa silam dalam lapangan sains, termasuk dalam hal farmasi dan ketabiban. Hadir wakil-wakil lembaga akademik dari seluruh dunia dalam forum itu, termasuk dari Madagaskar.

Melayu adalah sebuah konsep yang ditolak oleh penjajah karena identitasnya yang muslim. Dalam pemahaman sejarah Melayu bukanlah hanya Indonesia dan Malaysia, tetapi juga Singapura, Mindanao, Burma, Champa dan lain-lain. Kecuali Indonesia dan Malaysia, boleh disebut Kemelayuan di tempat-tempat itu mengalami krisis yang tajam saat mereka ersintuhan dengan dahsyatnya penjajahan yang menistakan dari Barat,

Doeloe ada konsep penjajah Barat menamai wilayah yang didiami Melayu sebagai Dvipantara. Lalu bergeser menjadi Nuswantara, Melanesia, Melayunesia dan kemudian Indonesia. Dari karakteristiknya, Indonesia lebih tepat sebagai Melayunesi. Itu penjelasan sejarah.

Lebihlanjut Direktur Nbasis tersebut, Meninggung tentang pengembangan kepariwisataan di wilayah-wilayah Melayu Langkat yang memiliki tak kurang dari 217 situs penting, Shobibul Anshor Siregar mengingatkan agar jangan salah disain bahwa pembangunan harus manusiawi dan memanusiakan. Jangan seret-serat rakyat ke pembamgunan, sebaliknya seretlah pembangunan itu sedekat-dekatnya kepada masyarakat agar masyarakata berkesempatan penuh berpartisipasi meraih dan membangun martabat dan peradabannya.

Pembangunan kepariwisataan wajib berbasis partisipatory planing.(W03)

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
SHARE:
beritaTerkait
Bupati Taufik Buka Rakerkab KORPRI Asahan, Perkuat Integritas ASN demi Pelayanan Prima
Ikuti Bimtek Se-Sumut, TP PKK Asahan Siap Terapkan Inovasi Digital dan Perkuat Program Kesejahteraan Keluarga
JMSI Sumut Ucapkan Selamat kepada Dr. Harli Siregar sebagai Kadiklat Kejaksaan Agung
MK Kabulkan Sebagian Gugatan UU Cipta Kerja, Sisa Kuota Internet Harus Tetap Bisa Digunakan
DPRD Sumut Soroti Minimnya Transparansi Data Pengunjung PRSU, Rudi Alfahri: Publikasi Bagus, Tapi Tak Sesuai Fakta di Lapangan
Kompak! Dua Kapolres Sambangi Kodim 0212/Tapsel, TNI-Polri Perkuat Barisan Jaga Sinergitas dan Stabilitas Tabagsel
komentar
beritaTerbaru