Senin, 14 September 2026

SELAMAT BERKARYA DAN SUKSES, SUAHASIL MENGEMBALIKAN KEKUATAN EKONOMI INDONESIA DI TENGAH TEKANAN RAKYT

Administrator - Senin, 14 September 2026 19:32 WIB
SELAMAT BERKARYA DAN SUKSES, SUAHASIL MENGEMBALIKAN KEKUATAN EKONOMI INDONESIA DI TENGAH TEKANAN RAKYT

H. Syahrir Nasution, SE, MM

Baca Juga:

Selamat dan sukses kepada sahabat kita, Suahasil Nazara, atas amanah dan kepercayaan baru yang diberikan untuk ikut mengambil bagian penting dalam pengelolaan ekonomi dan keuangan negara.

Bagi saya, Suahasil bukan sosok yang asing. Kami pernah berada dalam ruang intelektual dan tradisi pemikiran yang sama ketika berkiprah di ISEI (Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia). Dalam berbagai kesempatan brainstorming, diskusi dan pertukaran gagasan, kami sama-sama melihat bahwa ilmu ekonomi pada akhirnya tidak boleh berhenti di ruang akademik, seminar ataupun angka-angka statistik.

Ekonomi harus kembali kepada manusia. Ekonomi harus bermuara kepada kesejahteraan rakyat.

Karena itu, ketika sahabat kita mendapatkan amanah baru di tengah situasi perekonomian Indonesia yang penuh tantangan, saya melihatnya bukan sekadar sebagai sebuah jabatan, melainkan sebagai tanggung jawab sejarah.

Kita harus jujur melihat keadaan ekonomi Indonesia hari ini.

Secara makro, pemerintah tentu memiliki sejumlah indikator pertumbuhan, inflasi, investasi dan stabilitas fiskal yang dapat menjadi dasar optimisme. Tetapi seorang ekonom tidak cukup hanya membaca angka pertumbuhan ekonomi.

Kita juga harus turun melihat dapur rakyat.

Bagaimana seorang ibu mengatur belanja rumah tangga ketika harga kebutuhan sehari-hari terasa semakin berat? Bagaimana anak muda mencari pekerjaan ketika persaingan semakin tinggi? Bagaimana pelaku UMKM mempertahankan usahanya ketika biaya produksi, distribusi dan modal menjadi tantangan? Bagaimana petani dan nelayan memperoleh harga yang layak atas hasil produksinya?

Di situlah wajah ekonomi sesungguhnya terlihat.

Pertumbuhan ekonomi yang tinggi akan kehilangan makna apabila masyarakat merasa semakin sulit memenuhi kebutuhan hidup. Investasi yang besar juga belum cukup apabila tidak menciptakan lapangan kerja berkualitas secara luas. Pembangunan infrastruktur sangat penting, tetapi harus dipastikan memiliki efek ekonomi langsung terhadap produktivitas dan kesejahteraan masyarakat.

Kita membutuhkan pertumbuhan yang berkualitas, bukan sekadar pertumbuhan yang tercatat dalam statistik.

Indonesia juga tidak hidup sendirian. Kita berada di tengah persaingan ekonomi ASEAN yang semakin tajam. Negara-negara tetangga terus memperbaiki produktivitas, kualitas sumber daya manusia, iklim investasi, teknologi, industri dan perdagangan.

Karena itu Indonesia tidak boleh puas hanya menjadi negara dengan pasar yang besar.

Kita harus menjadi negara produsen yang kuat.

Kita harus mampu menghasilkan produk bernilai tambah tinggi, memperkuat industri nasional, mengembangkan teknologi, memperluas ekspor, memperkuat UMKM, meningkatkan kualitas pendidikan dan keterampilan tenaga kerja, serta menciptakan ekosistem usaha yang sehat.

Jangan sampai kekayaan sumber daya alam kita besar, tetapi nilai tambahnya justru dinikmati pihak lain.

Jangan sampai penduduk kita besar, tetapi sebagian besar hanya menjadi konsumen.

Dan jangan sampai Indonesia memiliki sumber daya manusia yang begitu banyak, tetapi kesempatan kerja dan kualitas pekerjaannya belum sebanding dengan potensi tersebut.

Inilah pekerjaan rumah besar ekonomi Indonesia.

Di sisi fiskal, tantangannya juga tidak ringan. Negara harus mampu membiayai pembangunan, pendidikan, kesehatan, perlindungan sosial dan berbagai program strategis, tetapi pada saat yang sama harus menjaga kesinambungan APBN.

Setiap rupiah uang negara sesungguhnya berasal dari rakyat.

Karena itu, prinsip efisiensi, transparansi, akuntabilitas dan tepat sasaran harus menjadi fondasi dalam setiap kebijakan fiskal.

Anggaran negara jangan hanya besar secara nominal, tetapi harus besar pula manfaatnya bagi masyarakat.

Kita membutuhkan keberanian untuk mengevaluasi program yang tidak efektif, memperbaiki kebocoran, memperluas basis penerimaan negara secara adil dan memastikan belanja pemerintah benar-benar menghasilkan multiplier effect bagi perekonomian.

Jangan sampai rakyat diminta semakin disiplin membayar pajak, tetapi pada saat yang sama mereka mempertanyakan ke mana uang pajak tersebut dibelanjakan.

Kepercayaan publik adalah modal ekonomi yang sangat mahal.

Selain itu, pemerintah harus memberikan perhatian serius terhadap daya beli masyarakat.

Ekonomi domestik Indonesia sangat bergantung pada konsumsi rumah tangga. Jika daya beli masyarakat melemah, maka dampaknya akan merembet ke pasar, perdagangan, UMKM, industri dan lapangan pekerjaan.

Karena itu kebijakan ekonomi harus mampu menjaga keseimbangan antara stabilitas harga, pertumbuhan dunia usaha, peningkatan pendapatan masyarakat dan penciptaan lapangan kerja.

Kita juga harus memperkuat kelas menengah.

Kelas menengah merupakan salah satu mesin penting ekonomi nasional. Mereka adalah konsumen, pelaku usaha, profesional dan pembayar pajak. Jika kelompok ini terus mengalami tekanan ekonomi, maka konsumsi domestik dan optimisme ekonomi juga dapat ikut terpengaruh.

Maka kebijakan ekonomi jangan hanya memikirkan bagaimana menjaga pertumbuhan, tetapi juga bagaimana membangun mobilitas sosial agar masyarakat memiliki kesempatan untuk naik kelas.

Kepada sahabat saya, Suahasil Nazara, saya menyampaikan harapan yang sederhana tetapi sangat besar:

Gunakan ilmu, pengalaman dan kapasitas yang dimiliki untuk memperkuat ekonomi Indonesia dan menghadirkan kebijakan yang benar-benar terasa manfaatnya bagi rakyat.

Kita pernah duduk bersama dalam forum-forum ISEI, berdiskusi dan melakukan brainstorming tentang ekonomi Indonesia. Kini ruang pengabdiannya menjadi jauh lebih besar.

Mudah-mudahan pengalaman akademik dan pemikiran ekonominya dapat diterjemahkan menjadi kebijakan yang konkret.

Kita ingin Indonesia tidak sekadar tumbuh, tetapi tumbuh dengan adil.

Tidak sekadar kaya sumber daya, tetapi mampu menciptakan nilai tambah.

Tidak sekadar memiliki pasar yang besar, tetapi menjadi kekuatan produksi dunia.

Tidak sekadar memiliki APBN yang besar, tetapi setiap rupiah anggaran benar-benar kembali menjadi manfaat bagi rakyat.

Dan yang paling penting, jangan sampai pembangunan ekonomi hanya terlihat megah dari atas, tetapi terasa berat dari bawah.

Ekonomi yang sehat adalah ketika negara kuat, dunia usaha tumbuh, lapangan kerja tersedia, daya beli rakyat terjaga dan generasi muda memiliki masa depan.

Itulah harapan kita.

Selamat mengemban amanah, sahabatku Suahasil Nazara.

Semoga diberikan kekuatan, kesehatan, kejernihan berpikir dan keberanian dalam mengambil keputusan strategis.

Dari ruang-ruang brainstorming ISEI pada masa lalu, kini kita berharap lahir gagasan-gagasan besar untuk menjawab persoalan ekonomi Indonesia hari ini.

Selamat berkarya.
Selamat mengabdi.
Semoga sukses membawa ekonomi Indonesia semakin kuat, berdaulat, berdaya saing dan yang paling utama: semakin menyejahterakan rakyat.

H. Syahrir Nasution, SE, MM
Insan ISEI

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Ismail Nasution
Sumber
:
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Dorong Kemandirian Ekonomi Masyarakat, PLN UID Sumut Resmikan Program Budidaya Jamur Tiram Berbasis Listrik
Dari Lapangan Kerja hingga Penguatan Usaha, Kebun Bah Jambi Perkuat Ekonomi Warga Simalungun
Tinjau Tiga Lokasi Strategis, Bupati Asahan : Infrastruktur Adalah Kunci Penggerak Ekonomi Warga
Dari Gerakan Ekonomi Syariah Menuju Kekuatan Ekonomi Nasional
Bank Sumut Gandeng Tiga LPK-SO Luncurkan KUR PMI, Perluas Akses Pembiayaan bagi Calon Pekerja Migran Indonesia
PLN UIP SBU Dorong Ekonomi Sirkular Melalui Pengembangan Bank Sampah di Desa Perlis
komentar
beritaTerbaru