sumut24.co -Labuhanbatu, Unggahan video di medsos yang menjadikan viralnya seorang pegawai tenaga medis menyebutkan
Kapus Tanjung Haloban Susiani,S,KM, MM, melakukan pungli menjadi issu hangat di Kabupaten Labuhanbatu.
Baca Juga:
Menanggapi viralnya video tersebut, Kepala Puskesmas
Tanjung Haloban Susiani, S,KM, MM, dikonfirmasi awak media Jumat, (18/07/2026) membantah adanya pungutan liar yang ia lakukan terhadap para pegawai tenaga medis di Puskesmas tersebut.Menurut Susiani, pegawai tenaga medis yang viral mengatakan, dia melakukan pungli itu bernama Jenni Silalahi. Dikatakan Susiani, Jenni tidak hadir menjalankan tugasnya di Puskesmas selama 3 minggu, bahkan pernah 3 bulan tidak masuk menjalankan tugas.
"Dia (Jenni) meminta saya meneken SKP per tri wulannya ( Sasaran Kerja Kepegawaian). Saya tidak mau teken karena dia jarang masuk, Sakit hati dia, karena itulah dia marah dan mengatakan saya melakukan pungli," kilah Susiani.
Kata Susiani lagi, konflik internal di Puskesmas itu juga disebabkan adanya seorang pegawai tenaga medis yang bernama Era Maya tidak bersedia dimutasi ke Puskesmas Negeri Lama sebagai bendahara.
Diterangkannya lagi, pada hari kejadian viralnya masalah itu, Susiani mengaku disekap dalam sebuah ruangan di Puskesmas
Tanjung Haloban oleh Jenni Silalahi dan Era Maya serta beberapa pegawai medis lainnya."Mobil saya dihadang, lalu saya diminta turun. Saya turun dari dalam mobil lalu dan disuruh masuk ke dalam sebuah ruangan oleh Jenni dan Era. Di ruangan itu saya disekap oleh Jenni dan Era Maya serta beberapa orang lainnya. Tidak boleh ada pegawai yang lain masuk, saya dimaki - maki juga diusir dari Puskesmas," ujar Susiani.
Di dalam ruangan, sambungnya lagi, Era Maya memaki - maki dirinya seraya merobek - robek surat mutasinya dari Kadis Kesehatan dan dilemparkan robekan surat mutasi itu ke wajahnya."Era Maya melempar robekan surat itu ke wajah saya dan memaki saya. Sementara Jenni mengusir saya dengan mengatakan kepada saya, keluar kau dari puskesmas ini, kami yang punya puskesmas ini, aku kapusnya di sini," terang Susiani menirukan ucapan Jenni.
Dikesempatan itu, Susiani menyebut Jenni mempengaruhi seluruh pegawai separuh waktu di Puskesmas itu untuk menjatuhkannya dari jabatannya sebagai Kepala Puskesmas.Susiani menyebut, Jenni melakukan intimidasi terhadap para pegawai separuh waktu, bagi pegawai separuh waktu bila tidak mendukung gerakannya akan dipersulitnya bila kelak dia jadi Kepala Puskesmas
Tanjung Haloban.
"Awas kalian nanti kalau tidak ikutan mendemo kapus, aku persulit kalian kalau aku duduk jadi kapus di sini. Begitulah ucapan si Jenni bang, " beber Susiani.Pernuataan Kampus Dibantah
Guna perimbangan berita, Jenni Silalahi, Era Maya dan beberapa pegawai tenaga medis Puskesmas
Tanjung Haloban ditemui awak media ini satu tempat, Kamis,(23/07/2026). Mereka membantah keras apa yang dikatakan Susiani.
"Dia bilang kami sekap bohong itu bang, saksinya banyak, dia ( Susiani) katakan saya mempengaruhi kawan - kawan untuk menjatuhkannya itu juga bohong. Apalagi dia katakan saya mengucapkan kalimat, "sayalah kapus di Puskesmas itu dan mengusirnya itu" bohong besar," kata Jenni dibenarkan oleh pegawai tenaga medis lainnya yang hadir di tempat itu.Jenni menegaskan, dia tidak pernah berambisi menjadi kepala Puskesmas
Tanjung Haloban. Keributan yang viral itu dikarenakan Susiani selama menjabat sebagai Kepala Puskesmas bertindak otoriter dan melakukan pungli.
Jenni mencontohkan, dia selama 4 tahun menangani program PTM ( Penyakit Tidak Menular) di Puskesmas tersebut, tetapi kemudian dia dinonjobkan dari program itu oleh Susiani tanpa mengetahui apa kesalahan yang dia lakukan."Tertanggal 1 Januari 2026 saya dinonjobkan memegang program PTM, saya dialihkan ke meja pelayanan. Saat saya dinonjobkan saya tanya ke
Kapus, mengapa program itu dinonjobkan dari saya, tetapi
Kapus tidak pernah mau memberikan penjelasan. Ya sudah saya terima dan saya bertugas dimeja pelayanan,' ungkap Jenni.
Menurut Jenni lagi, selama 4 tahun dia memegang program PTM, kinerjanya diakui dinas kesehatan yang terbaik peringkat 1 dari 15 Puskesmas yang ada se- Labuhanbatu."Saya punya prestasi kerja bang, diakui selama ini oleh dinas kesehatan, dibilangnya saya 3 bulan tidak masuk kerja, kemana saya bang?," ucap Jenni.
Dituturkan Jenni kembali, program PTM yang dia pegang oleh Susiani dialihkan ke Dodindah Siahaan. Karena program PTM melalui aplikasi dan harus pandai menggunakan laptop, Dodindah Siahaan tidak mampu dan mundur dari program itu."Gara-gara saya mundur dari program itu SKP per triwulan saya tidak diteken oleh
Kapus Bang, saya terus dipersulitnya. Saya disuruh ke Dinkes menemui Kabid kepagawaian, dari sana saya disuruh kembali menemui kapus untuk menekan SKP saya, tetapi tidak juga dia mau menekennya," sahut Dodindah Siahaan menimpali ucapan Jenni Silalahi.
Disoal apa benar dirinya tidak pernah masuk selama 3 minggu dan mempengaruhi pegawai separuh waktu di Puskesmas itu untuk menjatuhkan posisi Susiani sebagai kapus? Jenni malah tertawa dan mengatakan Susiani takut bayangan akan dijatuhkan."Dia bilang saya mempengaruhi pegawai separuh waktu untuk menjatuhkannya dan ambisi jadi kapus, bahkan mengancam para pegawai separuh waktu, coba Abang tanya kepada mereka pegawai separuh waktu, siapa yang mengancam dan apa perbuatannya kepada pegawai paruh waktu di Puskesmas kami itu. Sudah malu dia dan mutar balik fakta dia bang," tukas Jenni.
Menurut para pegawai tenaga medis yang ditemui awak media ini, Susiani menjalankan roda kepemimpinan sebegai kepala Puskesmas otoriter dan bertindak diskriminasi."
Kapus bilang kepada pegawai paruh waktu agar tidak dekat dengan kami para ASN, nanti terkontaminasi, nasib kalian ada di ujung pena saya," tutur Jenni menirukan ucapan Susiani.
"Kalau dia gak suka langsung dia non jobkan dari program, kemudian ada 1 orang sampai megang 2 program, diajak duduk bersama untuk berkomunikasi secara kekeluargaan tidak pernah dia mau bang. Sangat otoriter sekali," timpal sumber lainnya.Masih kata sumber, akibat sikap dan kepemimpinannya yang otoriter banyak pegawai tenaga medis di Puskesmas itu bertahun - tahun tidak bisa naik golongan.
"Terhadap pegawai medis lainnya yang dia suka walau pun tidak aktif bertugas tetap dipermudahnya untuk penekenan SKP. Bagi yang dia tidak suka mau naik golongan bayarlah bang,kalau tidak mau bayar ya dipersulitnya dan tidak naik golongan," terang sumber."Ada 35 orang tenaga medis paruh waktu, 33 orang siap berkata jujur apa adanya Pak, sedangkan 2 orang lagi tenaga paruh waktu itu orang dekat
Kapus dan tidak aktif bertugas, tetapi SKPnya tidak pernah dipersulit
Kapus bang," sambung Jenni.
Era Maya MembantahDI tempat yang sama, bidan Era Maya juga membantah dirinya merobek - robek surat mutasi dari dinas kesehatan dan melemparkan robekan surat itu ke wajah Susiani.
"Bohong kali dia bang, surat mutasi itu masih ada bang, masih saya simpan. Dibilang pula saya memakai - maki, saya hanya bertanya, kenapa saya dimutasikan, itu saja yang saya pertanyakan kepada kapus, "aku Era Maya.Membuat Rekening Tanpa Izin
Dilanjutkan Jenni kembali, selain kepimpinan yang otoriter, Susiani selaku
Kapus nekat membuka rekening tenaga medis paruh waktu di BNI tanpa izin si pemilik nama.Terungkapnya hal itu, tambah Jenni, ketika para tenaga medis paruh waktu sudah memegang program
BOK ( Bantuan Operasiona Kesehatan) dan akan membuat rekening baru di BNI Aek Nabara.
"Benar itu Pak, saat itu kami komplain kepada pihak bank BNI, kami katakan kepada pihak bank bisa kami tuntut membuat rekening tanpa ijin kami, dijawab pihak bank, silahkan kalau mau ibu tuntut, kami gantian akan menuntut kapus kalian, karena dia yang membuat rekening kalian di sini," sebut seorang pegawai medis paruh waktu di lokasi bertemu.Ditanya,bagaimana cara kapus melakukan pemotongan dana
JKN dan dana
BOK, sumber menyebutkan pemotongan dana
JKN dan dana
BOK setelah cair dari bank, lalu dipotong secara manual melalui bendahara Puskesmas
Tanjung Haloban.
"Masih ada kami simpan chatannya bendahara Pak untuk penyunatan dana
JKN dan dana
BOK Pak," ungkap sumber.
Kapus Buat Stempel Kades dan Tanda Tangan Palsu
Di kesempatan itu, para sumber mengatakan diduga Kepala Puskesmas
Tanjung Haloban Susiani membuat stempel 4 kepala desa dan memalsukan tandatangan kepala desa guna membuat surat perjalanan tugas ( SPT) ."Stempelnya ada Pak, surat SPT dengan tanda tangan palsu kepala desa juga ada Pak, silahkan bapak tanya kepada kepala desa
Tanjung Haloban dan Kades Sei Tarolat, " beber sumber.(Jok)
Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di
Google News