Rabu, 27 Mei 2026

Dari Gelombang Laut Jadi Listrik, Kok Bisa?

Administrator - Senin, 05 Oktober 2020 07:48 WIB
Dari Gelombang Laut Jadi Listrik, Kok Bisa?

Oleh : Ridha Nur Amaliyah Mahasiswi Unimed Produk Pendidikan IPA

Baca Juga:

Hidup tanpa listrik? Pasti teman-teman membayangkan seluruh kota akan gelap dan menjadi sunyi.

Diperkirakan krisis energi akan melanda dunia akan datang. Hal ini disebabkan karena semakin langkanya minyak bumi dan meningkatnya permintaan energi karena pergeseran hidup manusia ke arah yang lebih berkembang. Untuk mengatasi krisis energi tersebut kita bisa menggunakan pembangkit terbarukan. Oleh karena itu kita harus memanfaatkan sumber daya yang ada di bumi seperti cahaya matahari, energi angin, air, ombak dan lainnya. Energi Terbarukan adalah sumber energi yang cepat dipulihkan secara alami. Energi terbarukan ini dihasilkan dari sumber daya yang secara alami yang tidak akan habis bahkan berkelanjutan jika dikelola dengan baik. Energi terbarukan akan mengurangi penggunaan bahan bakar fosil yang terus menerus dibakar dan secara tidak langsung juga akan mengurangi karbondioksida. Walaupun Pembangkit Listrik Tenaga Gelombang Laut (PLTGL) kapasitas dayanya tidak terlalu besar seperti Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) tetapi pembangkit listrik tenaga ombak ini dapat membantu masyarakat yang tinggal di pesisir pantai terutama yang belum mendapatkan suplay listrik dari PLN. Dan dapat dikembangkan untuk kedepannya sebagai energi alternatif. Yang telah kita ketahui bahwa Indonesia merupakan negara maritim yang sebagian besar wilayahnya laut, maka energi terbarukan yang paling dominan berasal dari laut. Dari data Badan Informasi Geospasial (BIG) total panjang garis pantai di Indonesia adalah 99.093 km dengan banyak pulau 13.466. Ombak atau gelombang laut sebagai alternatif adalah bentuk permukaan laut yang berupa puncak gelombang dan palung oleh gerak ayun akibat tiupan angin atau lintas kapal.

Bagaimana bisa dari ombak bisa menjadi energi listrik? Energi Ombak dikonversi menjadi energi listrik untuk menyuplai kebutuhan listrik untuk pemukimn yang ada di pesisir pantai terutama bagi daerah pesisir pantai yang belum terjangkau listrik. Karena Indonesia negara maritim maka perlu optimalisasi pada tenaga Pembangkit Listrik Tenaga Ombak (PLTO), mengingat potensi yang dihasilkan sangatlah besar untuk menambah kebutuhan listrik dalam negeri. Bahkan beberapa negara telah melakukan kajian dan uji coba dan pengemabangan teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Gelombang Laut (PLTGL). Seperti Jepang dengan teknologi Might Whale, USA Washington dengan teknologinya AquaBOy, Denmark dengan teknologinya Wave Dragon, United Kingdom dengan teknologinya Salter Duck dan masih banyak lagi negara lainnya dengan teknologinya masing-masing. Sayangnya inovasi Pembangkit Listrik Tenaga Gelombang Laut di Indonesia masih sederhana jika dibandingkan beberapa negara diatas yang sudah disebutkan. Berikut ini beberapa teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Gelombang Laut yang mungkin akan diterapkan di Indonesia, yaitu Buoy Type (Model Pelampung) Teknologi ini digunakan untuk pembangkit listrik tenaga gelombang laut sistem bandulan. Yang rancangannya berbentuk ponton atau pelampung yang ditempatkan mengapung di atas permukaan air laut dan pelampung tersebut akan mengikuti arus gelombang sesuai dengan frekuensi gelombang laut, sehingga selalu bergerak terombang-ambing sesuai alur gelombangnya. Gerakan yang terus menerus akan menyebabkan ayunan bandul memutar generator. Sehingga pelampung tersebut akan mengeluarkan energi atau daya listrik. Gerakan bandul yang bergoyang dirubah menggunakan sistem transmisi menjadi putaran yang dapat memutar generator, dan generator yang dig nakan adalah jenis putaran rendah 3 phase AC dengan daya 500 Watt pada putaran 1400 rpm. Wave Dragon Device Wave Dragon dipasang di lokasi dengan kedalam 25- 40 meter. Konsep Wave Dragon merupakan penggabungan antara konsep TAPCHAN dan Sea Power dengan struktur bangunan mengapung serta dilengkapi reflektor gelombang yang memfokuskan gelombang menuju reservoir. Wave Dragon terdiri 3 bagian, yaitu: Pertama, 2 reflektor gelombang yang memfokuskan gelombang menuju lereng (ramp) yang terhubung struktur utama. Reflektor gelombang memiliki efek meningkatkan tinggi gelombang signifikan secara substansial dan demikian meningkatkan menangkap energi sebesar 70% dalam kondisi gelombang tertentu. Kedua, struktur utama yang terdiri dari lereng yang melengkung (ramp) dan reservoir penyimpanan air. Ketiga, satu set low head propeller turbines untuk mengkonversi energi di dalam reservoir. Tetapi PLTGL sudah memakai teknologi OWC atau Oscillating Wave Column. OWC ada 2 macam, yaitu OWC terapung dan OWC tidak terapung. Untuk OWC tidak terapung terdiri dari 3 bangunan utama yaitu saluran memasukkan air, reservoir (penampungan), dan pemangkit.Yang terpenting dari ketiga bangunan tersebut ialah pemodifikasian saluran masukkan air sebab bertujuan untuk menaikkan air laut ke reservoirnya. Bangunan memasukkan air terdiri 2 unit yaitu kolektor yang fungsinya menangkap ombak, lalu memusatkan gelomang tersebut ke konverter. Yang kedua ada Konverter yaitu saluran yang runcing di salah satu ujungya yang berfungsi meneruskan air laut knaik ke reservoir. Karena bentuknya yang spesifik salura tersebut disebut tappered channel (TAPCHAN). Setelah reservoir tertampung air, air yang sudah tertampung diterjunkan ke sisi bangunan yang lain. Energi potensial inilah yang memutar turbin sehingga menghasilkan energi listrik. Turbin tersebut di desain agar bisa bekerja dengan generator dua arah. Sistem yang berfungsi mengonversi energi mekanik menjadi listrik diletak di atas permukaan laut dan terisolasi dari air laut dengan meletakkannya di ruangan khusus sehingga tidak bersentuhan dengan air laut. OWC ini diletakkan di sekitar 50 meter dari garis pantai pada kedalaman 15 meter. Untuk OWC terapung penerapannya sama dengan OWC tidak terapung bedanya hanya di peletakannya. Pembangkit Listrik Tenaga Ombak memiliki kelebihan yaitu energi diperoleh dengan gratis karena sudah tersedia, tidak memerlukan bahan bakar, tidak menghasilkan limbah yang akan merusak lingkungan. Namun dibalik itu terdapat beberapa kekurangan yaitu bergantung pada gelombang laut atau ombak. Lalu kita harus menemukan lokasi yang sesuai kekuatan ombaknya. Selain itu kita membutuhkan alat konversi yang mampu bertahan menahan kondisi di lingkungan laut yang keras disebabkan oleh tingginya korosi dan kuatnya ombak di laut.***

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
SHARE:
beritaTerkait
Bupati Asahan Lepas Pawai Takbiran Idul Adha 1447 H : Pusatkan Sholat Ied dan Kurban di Alun-Alun Kisaran
Jamin Keamanan Hewan Qurban, Pemkab Asahan Gelar Pemeriksaan Kesehatan Menyeluruh di Alun-Alun Kisaran
Ibu Cahaya dalam Kehidupan
Anggaran Melonjak 7 Kali Lipat Jadi Rp 3,7 Miliar, Dugaan Korupsi dan Pelanggaran Lingkungan di Dinkes Asahan Memanas
Patahkan Dominasi 7 Tahun, Padangsidimpuan Selatan Sabet Juara Umum MTQ ke-XXV 2026, Ketua DPRD Padangsidimpuan: Kini Lebih Kompetitif
Dramatis! Padangsidimpuan Selatan Menang Tipis dan Sabet Juara Umum MTQ ke-XXV
komentar
beritaTerbaru