BELAWAN | SUMUT24.co
Budi Hariadi (38) seorang wartawan surat kabar terbiran medan, diduga menjadi korban penganiayaan dan pengancaman oleh seorang pengusaha/pengelola lokasi judi tambak ikan yang berlokadi di Komplek Brayan Trade Center, Desa Helvetia, Kecamatan Labuhan Deli, Kamis (28/3/2019) siang sekira pukul 14.00 Wib.
Penganiayaan itu terjadi ketika, Budi hendak mengkonfirmasi kebenaran lokasi judi yang disebut-sebut dikelola oleh, Ationg seorang pria warga keturunan.
Sesampai di TKP, Budi bertemu dengan Ationg. Saat bertemu, Budi pun memperkenalkan diri sebagai wartawan yang ingin mengkonfirmasi.
“Setelah bertemu Ationg, saya memperkenalkan diri dan mengutarakan maksud tujuan saya mau konfirmasi. Lalu, Ationg membawa saya ke belakang arena judi,” kata Budi kepada awak media.
Kemudian sambung Budi, sesampai di belakang yang disinyalir sebagai lokasi 303 alias judi, Ationg mempertemukan dengan seorang pria berbadan tegap berambut cepak yang sedang duduk di sebuah kantin. Lalu pria berambut cepak yang diduga sebagai pengawas dilokasi judi itu, menanyakan identitasnta dengan meminta kartu Pers dan KTP.
“Setelah KTP dan kartu Pers saya diambil, mereka sempat memfoto kartu identiras saya sembari mengeluarkan kata mengancam hendak memecat saya sebagai wartawan dan akan membunuh saya dan keluarga saya,” ucap Budi.
Usai mengancam lanjut Budi, oleh pria berambut cepak dan disaksikan Ationg, kartu Pers dan KTP miliknya dipulangkan. Kemudian, dirinya beranjak menuju keluar melewati lokasi perjudian ikan tersebut. Lalu pada kesempatan itu, Budi memanfaatkan untuk mengambil foto sambil berjalan keluar.
Namun tak disangka, Ationg dan pria berbadan tegap melihat Budi mengambil foto. Tanpa dikomando, pria yang disinyalir sebagai pengawas lokasi judi diduga milik Ationg langsung mendekat dan mengambil Hp miliknya dengan cara menarik dan merampas sembari membawa Budi ke belakang arean lokasi judi.
Disitu, pria berbadan tegap dan disaksikan Ationg menghapus data memori foto dari Hp milik Budi. Selanjutnya, Ationg tiba-tiba memukulinta yang juga turut diikuti oleh 8 orang lainya sebagai pengawas dan orang-orang yang bekerja dengan Ationg hingga babak belur.
“Ketika Hp saya diambil, si Ationg mulai mukuli aku. Makanya yang lain ikut mukul, aku dihajar pakai bangku, gelas dan dipijak-pijak mereka. Ibu yang jaga kantin itu sampai menjerit melihat aku dipukuli,” cerita Budi saat membuat laporan di kantor polisi.
Setelah babak belur dianiaya, Hp nya yang telah dirusak dengan dicelupkan ke air, dipulangkan dan diperintahkan oleh Ationg dan pria berbadan tegap pulang.
“Saat hendak pulang, mereka sempat bilang ke saya, jangan takut Hp kau rusak, nanti bisa diganti,” ungkap Budi menirukan ucapan mereka.
Pasca kejadian itu, ia pun melaporkan penganiayaan itu ke Polsek Medan Labuhan dengan nomor LP/198/III/SU/2019/PEL-BELAWAN/SEK-MEDAN LABUHAN.(rel/W02)
Baca Juga:
Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di
Google News