MEDAN | SUMUT24
Baca Juga:
Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Al Washliyah (BEM UNIVA Medan) melaksanakan deklarasi menolak paham radikal HTI masuk kampus. Kegiatan ini bertujuan untuk menangkal masuknya paham radikal yang akhir-akhir ini semakin mencuat di permukaan akibat gejolak politik pra dan pasca pemilu.
“Melihat fenomena yang terjadi saat ini, BEM UNIVA Medan menganggap sangat perlu adanya tindakan tegas kampus untuk menangkal gerakan radikal ini. Sebab, gerak HTI kalau kita melihat dari aspek sejarah masuknya ke Indonesia adalah berawal dari kampus. Untuk itu kami tidak ingin kampus dalam hal ini UNIVA dicap sebagai sarang liberal,” ujar Presiden Mahasiswa, Syahrul Ramadhan.
Pada kesempatan yang sama, Banu Wira Baskara yang bertindak sebagai narasumber memaparkan bagaimana sejarah HTI dan gerakannya sehingga tertolak. Banu mengutip pernyataan KH. Ma’ruf Amin yang baru-baru ini mengatakan bahwa “khilafah itu tertolak, bukan ditolakâ€.
Banu juga menambahkan bahwa konsep khilafah yang dikampanyekan oleh HTI adalah ngawur. Karena dalam islam sendiri, khilafah secara sistem pemerintahan tidak ada yang baku atau defenitif.
“Seharusnya, jika khilafah itu adalah sebuah kewajiban maka Kota Mekah dan Madinah harusnya dipimpin oleh khilafah dan bukan oleh raja seperti saat ini,” tegas Banu.
Terakhir, pada deklarasinya BEM UNIVA Medan yang dipimpin syahrul Romadhan Tanjung menegaskan akan bersama-sama dengan seluruh elemen bangsa khususnya Kepolisian Republik Indonesia untuk mempertahankan Ideologi Pancasila, UUD 1945, dan NKRI sebagai 4 Pilar Kebangsaan. (Rel)
Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di
Google News