Jumat, 15 Mei 2026

Tentang Sandiaga Uno, Ini Kata Pengamat SAS

Administrator - Kamis, 09 Agustus 2018 18:09 WIB
Tentang Sandiaga Uno, Ini Kata Pengamat SAS

Medan I Sumut24.co Pentas Pilpres 2019 telah terjawab sudah, Jokowi berpasangan dengan Maruf Amin dan Prabowo berpasangan dengan Sandiaga S Uno. Dalam percaturan politik nasional sepertinya, Jokowi sudah diketahui oleh yang pro dan yang kontra. Kaji sudah dead lock. Ma’ruf Amin relatif hanya sebatas mengamankan harapan keterpilihan Jokowi. Orientasinya sebatas kemapanan. Batas “Islam Nusantara” akan semakin tegas. Namun Sandiaga Uno bintang yang hadir memberi harapan baru. Mileanialitas mungkin akan menjadi faktor yang cukup berpeluang termobilisasi olehnya, Ucap Pengamat Politik UMSUbShohibul Anshor Siregar kepada Wartawan, Kamis malam (9/8). Menurutnya, Seperti Partai Demokrat Saya kira PD yang hingga kini belum menentukan sikap pasti telah merencakanan sesuatu sebelum akhirnya besok akan bergabung ke kubu yang. Lebih memberinya apresiasi dalam arti yang seluas-luasnya. Lebih diyakininya akan keluar sebagai pemenang. Hitungannya kira-kira begini, Partai atau koalisi partai minimum memiliki besaran suara atau kursi 20 % di DPR. Semua partai harus ikut mendukung salah satu di antara pasangan calon yang jumlahnya paling sedikit 2 pasangan. Jika tidak, partai itu akan kena sanksi. Jika hingga masa pendaftaran ditutup hanya ada satu pasangan calon, maka akan dilakukan perpanjangan pendaftaran. Karena itu, Jika koalisi Jokowi-Ma’ruf Amin dinyatakan sudah terkunci dan tertutup, berarti peluang munculnya pasangan ketiga akan sulit. Alotnya musyawarah untuk menentukan pasangan Prabowo tidak hanya karena adanya Ijtima Ulama yang memberi dua nama termasuk Ustaz Abdul Somad. Ustaz Somad sendiri tidak menunjukkan kesediaan, dan mungkin faktor ketidak setujuan Prabowo juga berpengaruh besar dalam hal ini. Ada perasaan kesetaraan partai koalisi kubu Prabowo ini: PKS, PAN dan boleh juga menyebut PD. Koalisi di sini tidak sesolid di kubu Prabowo. Sandiaga Uno menguat pada akhir-akhir waktu yang serius ini. Jika di sini disebut adanya kendala kepartaian, maka gagasan mengajukan AHY dari PD makin baik, meski dari aspek latar belakang mantan perwira berpangkat mayor ini kurang favorit. Malah jika dianggap baik pasangan sesama militer tentu Gatot Nurmantyo bisa masuk. Tetapi pangkat terakhir mereka dalam militer mungkin bisa mengganggu juga. Tokoh nonparpol Anies Baswedan tentu lebih mudah meredam kecemburuan sesama parpol koalisi ini. Bisa jadi naiknya nama Sandi hanya semacam manuever untuk memuluskan Anies. Tetapi dugaan ini tak cukup kuat. Keluhan lain ialah hal yang sama-sama dikhawatirkan oleh semua partai, yakni peluang lebih mudah merebut kekuasaan pasca 2019-2024. Lebihlanjut Dosen Fisipol UMSU.tersebut, Selain partai yang beroleh jatah memajukan Capres dan Cawapres, kekuatan all out mengkampanyekan pasangan ada pada relawan.Pastilah partai lebih mementingkan lolos ambang batas parlemen ketimbang pengutamaan memenangkan capres dari kader parpol lain dalam pemilu serentak 2019 nanti. Memang jatah kursi di kabinet juga menjadi daya tarik tersendiri.(Fb/W03)

Baca Juga:
Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
SHARE:
beritaTerkait
Polres Asahan Kawal Ibadah Kenaikan Isa Almasih 2026, Pastikan Keamanan dan Kenyamanan Umat
Ditembok Paksa Tanpa Izin! Aset Daerah Hilang Dikuasai Pengusaha, DPRD Asahan Turun Tangan
Universitas Dharmawangsa Jajaki Kerja Sama dengan Pemko Tanjungbalai
Kuras Barang Mes Polda Aceh, Dua Residivis Ditangkap
Curi Seng hingga Sepeda Lipat Milik IRT di Medan Deli, Pria 38 Tahun Dibekuk Polisi
Viral di Medsos! Polisi Ringkus Pencuri Material Bangunan dan Elektronik di Labuhan Deli
komentar
beritaTerbaru