MEDAN| SUMUT24
Baca Juga:
Saat ini Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Sumatera Utara
masih menggodok usulan beragam elemen di Sumut, persayaratan
bakal calon legislatif untuk pileg 2018, tidak lagi menggunakan
tes urine. Alasannya, tes urine dianggap tes yang tidak akurat,
karena hasilnya tak permanen alias bisa berubah. Sehingga
diusulkan menggunakan tes rambut.
Pengamat Kesehatan di Jaringan Kesehatan Masyarakat (JKN) dr H
Delyuzar M.Ked (PA),Sp.PA (K) kepada SUMUT24, Senin (23/10)
mengatakan, memang benar tes di rambut itu lebih akurat. Karena
kalau tes urine jika seseorang beberapa lama tidak pakai narkoba,
maka tidak akan terdeteksi lagi.
Tetapi kalau tes rambut, itu jangka waktu lama. Seseorang yang
memakai pakai narkoba, kemudian tidak pakai narkoba lagi, maka
hasilnya akan tetap positif di rambutnya (tetap memekai narkoba).
“Untuk supaya lebih akurat, tes dirambut itu lebih akurat dari
pada tes urine,” kata dr Delyuzar.
Dikatakan Delyuzar, kalau tes urine itu, kita akan dapatkan
hasilnya kalau seseorang itu baru memakai. Makanya kalau ada
razia-razia lebih bagus dilakukan tes urine, karena sedang baru
memakai.
Tetapi kalau untuk menjelang pemilihan gak pake lagi, itu bisa
ngak ketahuan kalau dia pecandu narkoba. Kalau rambut masih
tersisa disitu. Pemeriksaan melalui rambut itu bukan dari warna
rambutnya, melainkan dari kandungan yang didalam rambutnya.
Dijelaskannya, tes melalui rambut lebih akurat untuk pemakaian
yang lama. Artinya, kalau orang yang pecandu narkoba menjelang
pemeriksaan dia tidak pakai narkoba lagi, itu di urinenya bisa
negatif. Tetapi di rambutnya masih bisa positif.
Tapi kalau seseorang baru pakai narkoba, tes urine lebih bagus.
Makanya kalau di klub-klub malam itu, tes urine lebih bagus
karena baru pakai. Ini menghindari supaya orang yang sebenarnya
narkoba, dia tidak pakai lagi saat mau pemeriksaan. (C04)
Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di
Google News