MEDAN|SUMUT24
Baca Juga:
Sebagai wilayah yang terletak diantara 10-40 Lintang Utara dan 980-1000 Bujur Timur. Sumatera Utara yang terdiri dari 33 Kabupaten/Kota,dan terdiri dari berbagai ethnik,sangat potensial menjadi tujuan wisata yang terbaik di dunia. Tentunya,hal ini akan terwujud jika didukung oleh semua pihak, khususnya dalam melakukan promosi wisata.
“Sangat perlu dilakukan event-event budaya,sebagai daya tarik lokasi wisata,â€ujar Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sumut, Drs Elias Marbun MSi kepada SUMUT24, Rabu (16/11).
Event budaya ini, lanjutnya, akan menjadi promosi untuk melahirkan daya tarik bagi wisatawan lokal maupun asing datang ketujuan wisata yang ada di Sumatera Utara. Tentunya, untuk menggelar event-event tersebut,membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Dan hingga saat ini, pihaknya sudah melakukan banyak hal untuk memajukan pariwisata di Sumut.
Soal adanya penilaian miring yang ditujukan kepada pihaknya terkait penggunaan dana pendahuluan sebesar Rp 4,2 M, Elias dengan tegas menepisnya.
Diterangkanya dana pendahuluan itu hanya sebesar Rp 2,568 saja, yang terdiri dari, pertama digelarnya karnaval kemerdekaan RI di Prapat Danau Toba beberapa waktu yang lalu. Kegiatan ini menelan biaya Rp 2 M.
“Karnaval kemerdekaan ini, berdasarkan perintah Presiden langsung melalui Menteri Pariwisata.â€sebutnya.
Dan kegiatan karnaval ini, sambungnya,sudah mendatangkan hasil khususnya bagi masyarakat sekitar Danau Toba. Salah satunya adalah, sesuai dengan hasil survey yang dilakukan oleh pihaknya pada tingkat hunian hotel. Menurut Elias, seluruh hotel mulai dari Siantar hingga Balige saat itu, penuh semua.
“Bisa dikatakan, saat itu uang tidak berlaku, karena sudah habis semua dibeli, dan tak ada lagi yang bisa dibeli,â€sebutnya.
Kedua, lanjutnya, adalah keberangkatan ke Guang Jhu beberapa waktu yang lalu. Dimana, keberangkatan ini juga adalah atas perintah Presiden, membutuhkan biaya Rp 300 Juta. Dan yang ketiga adalah, dalam rangka mengikuti kegiatan karnaval MTQ di NTB. Kegiatan ini menelan biaya sebesar Rp 286 Juta, sudah termasuk ongkos tiket dan biaya seluruh tim yang berangkat kesana.
“Itulah kegiatan yang menggunakan dana pendahuluan,†tegasnya.
Elias mengungkapkan,ada beberapa kegiatan lain yang tidak mau untuk
ditandatanganinya, karena bukan dekresi. Seperti kegiatan ulos dan Choair. Untuk kedua hal ini, sambungnya, pihaknya sudah berkoordinasi dengan BPK dan Mendagri.
“Karenanya, jangan silap dalam memberikan penilaian. Penggunaan dana pendahuluan itu sudah di share keluar, bukan muncul tiba-tiba,â€terangnya. Yakinlah, saya tidak mau masuk penjara hanya gara-gara ini. Saya tidak akan pertaruhkan semuanya, hanya untuk uang segitu. Tidak, tidak,â€tegasnya. (W01)
Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di
Google News