Senin, 06 April 2026

Bulan Ramadhan Mendidik Karakter, Bulan Pendidikan Kepribadian

Administrator - Kamis, 14 April 2022 04:53 WIB
Bulan Ramadhan Mendidik Karakter, Bulan Pendidikan Kepribadian

Oleh: Abdul Hamid K dan Abdurrozzaq Hasibuan

Baca Juga:

Perjalanan kita sebagai sebuah bangsa akhir-akhir ini jauh dari apa yang kita harapkan. Ditengah berbagai klaim-klaim keberhasilan dan kemajuan yang dikemukakan oleh para pejabat misalnya, ada berbagai kejadian yang sangat janggal dan patut kita kritisi dengan baik. Berpikir dengan menjaga keseimbangan juga sangat penting. Berbagai kelemahan pemerintah harus kita benahi dengan memberikan saran dan kritik membangun sebagai sebuah solusi yang menyeluruh disatu sisi. Disisi lain kita harus jujur juga mengemukakan capaian-capaian yang diraih dengan kerja keras. Dengan demikian, kita akan mengatakan yang salah adalah salah dan yang benar adalah benar. Itulah cara bernegara yang baik dan benar. Kalau ada yang salah silahkan ditegur dan berikan solusi apa yang harus dilakukan dan bukan hanya mengkritik tanpa solusi, atau asal bunyi (asbun). Saat bangsa kita menjalankan ibadah puasa saat ini, ini adalah sebuiah keberuntungan besar bagi kita semua, dan bukan hanya bagi kalangan penganut agama Islam. Dengan puasa kita akan dituntut melakukan permenungan mengenai karakter dan perilaku kita. Karakter yang kurang baik, apakah ada penyimpangan, kesalahatn akan dievaluasi berdasarkan nilai-nilai agama. Bulan Ramadhan merupakan bulan untuk menempa karakter, perilaku kaum muslimin. Mereka selama satu bulan dilatih baik jiwa maupun raga untuk tunduk dan patuh pada ketentuan Sang Pencipta, Allah SWT. Dalam Alquran Surat Al Baqarah ayat 183, Allah SWT memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk berpuasa di bulan Ramadhan, puasa ini diwajibkan sebagaimana orang-orang sebelum mereka, dengan tujuan agar bertakwa, taat dan patuh pada perintah Allah. Karakter dapat juga diartikan sama dengan akhlak dan budi pekerti, sehingga karakter bangsa identik dengan akhlak bangsa atau budi pekerti bangsa. Bangsa yang berkarakter adalah bangsa yang berakhlak dan berbudi pekerti, sebaliknya bangsa yang tidak berkarakter adalah bangsa yang tidak atau kurang berakhlak atau tidak memiliki standar norma dan perilaku yang baik. Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Allah SWT (Tuhan Yang Maha Esa), diri sendiri, sesama manusia lingkungan dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap perasaan, perkataan dan perbuatan berdasarkan norma-norma baik norma agama, hukum, adat istiadat, budaya dan tata krama. Karakter terbentuk melalui sebuah proses pembelajaran dan karakter bukan bawaan sejak lahir. Karakter tercipta dari lingkungan. Mulai dari rumah, sekolah, lingkungan sekitar kediaman. Pihak-pihak yang memiliki peran dalam pembentukan karakter yaitu orang tua, guru dan teman bergaul. Tentu puasa ini akan mendorong seseroang, tanpa keculi untuk merenungkan apa saja perbuatan yang harus diubah, mengingat puasa adalah sebuah ritual untuk menahan diri, membangun karakter melalui manajemen pikiran yang benar dan bersih karena seseroang dituntut untuk menahan segala bentuk hawa nafsu, amarah, dan segala bentuk iri dan dengki sebagai sebuah panggilan yang sangat suci. Melalui puasa ini akan terbangun sebuah pencerahan diri, penguatan karakter dalam diri karena seseorang diajari bagaimana untuk hidup saleh dan benar berdasarkan panggilan agama Islam. Sekedar mengingatkan kembali kebelakang, bisa dibilang akar dari kejatuhan bangsa kita dalam multi krisis sebenarnya adalah permasalahan karakter. Selama Keserakahan, kesombongan, irihati, individualis masih terpelihara tidak mungkin bangsa ini bisa keluar dari krisis yang sangat parah ini. Tanpa bermaksud saling tuding menuding, sudah saatnya proyek pembangunan karakter itu dilakukan secara bersama-sama dan merupakan kerjaan kolektif kolegial. Untuk itu, sangatlah tepat, momentum puasa tahun ini adalah momen yang sangat tepat dalam membangun karakter dan ini akan jadi kekuatan bangsa kita. Tujuan puasa adalah mengekang hawa nafsu, membunuh kesekarakahan, melenyapkan irihati, dan jalan menuju hidup yang saleh (kesalehan sosial) dan sederhana. Jelaslah puasa adalah momentum penguatan karakter dan kekuatan bangsa. Kecerdasan spiritual seharusnya paling ditekankan dalam pendidikan. Hal ini dilakukan dengan penanaman nilai-nilai etis religius melalui keteladanan dari keluarga, sekolah dan masyarakat melalui penguatan pengamalan peribadatan, seperti menjalankan puasa berjamaah, pembacaan dan penghayatan kitab suci Al-Qur’an, penciptaan lingkungan baik fisik maupun sosial yang kondusif. Apabila spiritualitas anak sudah tertata, maka akan lebih mudah untuk menata aspek-aspek kepribadian lainnya. Ibadah puasa pada Ramadhan mempunyai orientasi pada pembentuk karakter diri seseorang menuju derajat mulia yaitu takwa di hadapan Allah SWT, Tuhan semesta alam. Bulan Ramadhan merupakan bulan untuk menempa karakter, perilaku kaum muslimin. Mereka selama satu bulan dilatih baik jiwa maupun raga untuk tunduk dan patuh pada ketentuan Sang Pencipta, Allah SWT. Dalam Alquran Surat Al Baqarah ayat 183, Allah SWT memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk berpuasa di bulan Ramadhan, puasa ini diwajibkan sebagaimana orang-orang sebelum mereka, dengan tujuan agar bertakwa, taat dan patuh pada perintah Allah SWT. Sebagaimana yang kita pahami nilai-nilai Ketuhanan (values divinity) selalu berorientasi (always oriented) dan bermuara pada bagaimana menciptakan sebuah tatanan yang baik (good order), beradab (civilized), kebaikan (kind), cinta kasih (affection), dan persaudaraan penuh (fraternal) dalam komunitas manusia (human community). Nilai-nilai sang Khalik ini masih diyakini oleh semua agama samawi sebagai nilai yang kebenarannya sangat mutlak. Karena kemutlakan nilai dari sang Khalik inilah maka semua agama samawai meyakininya sebagai salah satu jalan kebenaran yang membentuk pribadi yang beriman dan berkarakter. Ditengah keagungan nilai-nilai agama samawi, termasuk Islam yang menekankan damai di bumi dan akhirat dalam konsep “rahmatan lil alamin” ternyata masyarakat Indonesia saat ini hidup dalam sebuah realiats sosial yang sangat menyedihkan seperti terlibat kasus korupsi, kriminal, kekerasan seksual, dan masalah sosial lainnya. Lantas, dimana peran nilai-nilai keberagamaan kita yang sarat dengan nilai etika kemanusiaan universal itu? Sebelum bicara lebih dalam. Perlu kita pahami bersama, agama tidak pernah salah, agama penuh dengan nilai kemanusiaan yang sangat universal, yang salah adalah personalnya manusia. Ini harus jadi catatan bagi kita semua umat beragama. Hanya saja agama seringkali dijadikan sebagai alat untuk kepentingan politik (jangka pendek). Ketika manusia melanggar hukum-hukum sang Khalik (unlawful the creator of universe) pada saat yang bersamaan identitas keagamaan kita masih sangat kuat telah ikut mendorong agama jatuh dan seolah-olah agama mengalami disfungsi (religion dysfunction). Padahal tidak. Agama itu sangat agung karena memuat nilai-nilai humanisme yang sangat tinggi (the values of humanism are very hight). Dalam konsep agama, hubungan mansia diatur dalam bentuk saling mendukung (mutual supprot), saling menghargai (mutual respect), saling memberi (give each other), dan saling mengasihi (love each other). Ini adalah pesan-pesan nilai agama (message of religious values) bagi kita semua. Jadi, pada hakikatnya antara agama dan orang yang membawa identitas agama perlu kita pisahkan. Ketika masyarakat kita atau pejabat kita terjebak pada persoalan korupsi dan dia punya agama secara identitas administratif hal ini melahirkan nilai negatif pada agama. Ngapai beragama kalau korupsi mungkin jadi pertanyaan yang sangat humanis. Sejatinya ada kalanya pertanyaan ini benar pada satu sisi. Ketidaksignifikanan antara keagamaan kita dengan perilaku hidup jujur, tulus, disiplin telah membuat agama seolah-olah tidak berfungsi dalam kehidupan kehidupan sosial dan kehidupan bernegara kita. Bahkan yang lebih ekstrim ada yang mengatakan negara atheis lebih beradab dari negara kita yang beragama. Inilah tantangan yang musti kita hadapi bagaimana mengamalkan ajaran Tuhan secara implementatif dalam ruang sosial dan kehidupan bernegara. Puasa berjamaah pada bulan Ramadhan merupakan momentum untuk pembetukan karakter bangsa. Puasa akan melahirkan manusia-manusia yang memiliki prinsip tangguh, kesabaran, keiklasan dan tidak pantang menyerah serta memiliki solidaritas dan saling mengasihi satu sama lain. Prinsip itu saat ini terkesan luntur. Moment Ramadhan dapat pula menjadi sebuah agenda sekolah untuk melakukan pembinaan karakter, dengan media puasa ini, siswa diharapkan dapat ingat dan mau kembali kepada jati dirinya yang suci dan luhur dengan hadirnya kembali nilai-nilai kemanusian yang arif dan bijak. Ketika nilai fitrah manusia tersebut muncul kembali, maka nilai persamaan dan solidaritas akan mewarnai dan nilai yang sangat mulia pada pembentukan karakter pribadi muslim yang shaleh. Sesungguhnya dalam puasa Ramadhan terkandung banyak sekali hikmah antara lain dapat menanamkan karakter positif pada anak religius, jujur, tanggung jawab, peduli, dsb. Yang pertama. Aspek religius, ketika anak dilatih untuk puasa sejak dini secara otomatis akan semakin memperkuat rasa keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Yang kedua puasa merupakan salah satu rukun Islam dan ketika dijalankan akan mendapat pahala. Yang ketiga. Aspek jujur dan tanggung jawab, dengan puasa anak dilatih untuk menahan haus dan lapar sejak dari waktu sahur sampai dengan berbuka puasa. Keutamaannya dapat melatih sikap jujur dan tanggung jawab pada diri sendiri dan orang lain. Karena bisa jadi ketika di luar anak bilang sedang puasa pada temannya, namun ketika sampai di rumah karena tidak ada pembiasaan sejak dini dan keteladanan dari orang tua anak tersebut lalu makan, karena merasa tidak ada yang melihat. Yang keempat. Aspek peduli, melalui puasa di bulan ramadhan anak dilatih untuk memiliki sikap toleransi, dan meningkatkan rasa empati, serta simpati kepada sesama. Anak dilatih untuk toleransi terhadap orang lain yang sedang berpuasa. Selain itu, dengan menahan haus dan lapar, anak dilatih untuk merasakan bagaimana rasanya hidup kekurangaan tidak bisa dengan mudah makan dan minum seperti biasanya. Ternyata tidak semua orang seberuntung kita. Sehingga kita patut bersyukur, dan semakin peduli untuk berbagi pada sesama yang kurang mampu. Aspek religius, Aspek jujur dan tanggung jawab dan Aspek peduli merupakan bagian dari tanggung jawa kita sebagai orang tua. Anak perlu diperkenalkan hal-hal yang baik, di bulan Ramadhan merupakan bulan yang penuh hikmah, penuh dengan hal-hal yang baik. Untuk itu, puasa sebagai salah satu ritual agama yang sangat suci dan agung adalah panggilan yang sangat bagus untuk membangun dan menguatkan karakter yang baik dan benar. Melalui puasa ini perilaku-perilaku hidup jujur, hidup berbagi, menjauhi korupsi, hidup rukun akan diajarkan dan inilah yang sanagt kita harapkan agar bangsa kita ini bisa menjadi bangsa yang kuat dan besar. Melalui ibadah puasa yang akan berlangsung selama satu bulan ini akan terbangun kesalehan sosial dan kerukunan sosial karena puasa itu adalah sebuah jalan suci untuk menguatkan karakter. Korelasi positif antara puasa dengan pendidikan karakter, mari kita manfaatkan bulan Ramadhan (Puasa) sebagai sarana pembentukan karakter dan Pendidikan pribadi yang tanggu, seiring dengan hal tersebut kita berupaya meningkatkan ibadah puasa kita sesuai tuntutan syariat, sehingga rutunitas puasa kita bukan sekedar menahan lapar dan haus sehingga tidak memiliki dampak dalam hablum minallah dan hablum minannas. Penutup Ingat, karakter adalah kata kunci dalam bernegara. Semakin bagus karakter semua warga negara dan karakter politisinya maka apa saja yang menjadi program pembangunan bangsa tersebut akan bisa berjalan dengan baik. Saat bangsa ini dilanda Covid-19, krisis ekonomi, dan juga krisis kebangsaan lainnya sebenarnya kata kunci mengatasinya adalah karakter yang bagus. Kalau karakter warganya bagus dan juga karakter penyelenggera negaranya bagus, apa saja yang menjadi program pembangunan dan program negara akan bisa berjalan dengan baik. Sebaliknya, jika karakternya bobrok, maka apapun yang dilakukan tidak akan berjalan dengan optimal. Untuk itu, mari menjadikan puasa bulan Ramadhan 1443H sebagai momentum khusus untuk kebangkita bangsa yang kita cintai ini agar semua krisis bernegara, krisis berbangsa bisa berjalan dengan baik.

Penulis adalah: Anggota Dewan Pakar MPW PP Sumut, Guru Besar UNIMED Medan, Mahasiswa Doktor USU dan Dosen UISU Medan.

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
SHARE:
beritaTerkait
RUPS Bank Sumut 2026: Pemda Perkuat Modal, Bank Sumut Siap Akselerasi Peran sebagai Motor Ekonomi Daerah
Pembahasan Ranperda Sistem Kesehatan Kota Medan Berlanjut, Rico Waas Hadiri Paripurna Jawaban Fraksi DPRD Medan
Beri Hunian Yang Lebih Layak, Wakil Wali Kota Medan Sarankan Apersi Bangun Rumah Susun Bagi Warga Pinggiran Sungai
Komandan Seskoad Tinjau Trauma Healing hingga Renovasi Fasilitas di KKL Wilhan Cisarua
Berbagi Berkah di Awal Syawal, PLN UIP SBU Dan YBM PLN Perkuat Sinergi Dan Kepedulian Sosial
Bupati Labuhanbatu Mutasikan Dokter Gigi Dari Puskesmas Negeri Lama, Warga Kecewa
komentar
beritaTerbaru