Hampir Setahun Tanpa Sekda Definitif, Posisi Sulaiman Harahap Dipertanyakan
Hampir Setahun Tanpa Sekda Definitif, Posisi Sulaiman Harahap Dipertanyakan
kota
Baca Juga:
Medan -Pengamat politik dan pemerintahan, Shohibul Ansor Siregar, melontarkan kritik tajam terhadap dinamika pengisian jabatan Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Utara (Sekdaprov Sumut). Ia menilai, sejak awal kepemimpinan Bobby Nasution, keputusan terkait posisi strategis tersebut sarat kegamangan dan tekanan politik.
Shohibul mengungkapkan, indikasi tersebut terlihat dari sejumlah kebijakan yang dinilai tidak lazim dan cenderung kontradiktif dengan prinsip tata kelola pemerintahan yang baik.
Menurut Shohibul, salah satu contoh paling mencolok adalah penunjukan Togap Simangunsong sebagai Sekdaprov Sumut. Ia menilai Togap sebagai figur "istimewa" karena beberapa faktor.
"Pertama, Togap Simangunsong sangat istimewa bukan saja karena ia figur dropping, tetapi juga karena dilantik saat mendekati masa purna tugas sebagai ASN," ujar Shohibul.
Ia menambahkan, masa jabatan Togap yang hanya berlangsung sekitar tiga bulan 19 hari semakin mempertegas kejanggalan tersebut. "Praktisnya, beliau hanya menjabat dalam waktu yang sangat singkat. Ini jelas tidak lazim untuk jabatan strategis seperti Sekdaprov," katanya.
Tak hanya itu, Shohibul juga menyoroti lokasi pelantikan Togap yang dilakukan di Gedung Serbaguna VIP Bandara Internasional Kualanamu. Menurutnya, hal ini merupakan pertama kalinya pelantikan pejabat dilakukan di luar lingkungan resmi Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.
"Biasanya pelantikan dilakukan di Aula Raja Inal Siregar atau Aula T. Rizal Nurdin. Ini menjadi catatan tersendiri karena menyimpang dari kebiasaan administratif," ujarnya.
Shohibul menegaskan, secara teoritis jabatan Sekdaprov tidak seharusnya mengalami kekosongan kecuali dalam kondisi luar biasa, seperti pejabat berhalangan tetap.
Ia mempertanyakan mengapa sejak awal tidak dilakukan proses regenerasi atau persiapan pengganti.
"Pertanyaannya, mengapa jabatan yang jelas hanya akan diisi tiga bulan tidak langsung diikuti proses rekrutmen pengganti? Seharusnya sejak hari pertama pelantikan sudah dipersiapkan," tegasnya.
Lebih lanjut, Shohibul menilai persoalan utama saat ini bukan sekadar perpanjangan masa jabatan Penjabat (Pj) Sekdaprov, melainkan ketidakjelasan arah kebijakan dalam mengisi posisi definitif.
Ia secara khusus menyoroti posisi Sulaiman Harahap yang hingga kini masih menjabat sebagai Pj Sekdaprov dalam waktu cukup lama.
"Masalah terbesar itu bukan pada perpanjangan masa jabatan Sulaiman Harahap, tetapi pada kegamangan gubernur yang tidak kunjung mampu menghadirkan Sekdaprov definitif hampir satu tahun," kata Shohibul.
Ia bahkan menyebut Sulaiman sebagai "orang istimewa kedua" dalam dinamika ini.
"Perpanjangan masa jabatan ditambah rangkap jabatan menunjukkan bahwa beliau juga figur istimewa. Dan keistimewaan itu bisa bertambah jika nantinya direkomendasikan menjadi Sekdaprov definitif hingga pensiun," ujarnya.
Pernyataan ini secara tidak langsung menyudutkan posisi Sulaiman yang dinilai menikmati keistimewaan struktural tanpa kejelasan proses seleksi terbuka yang transparan.
Shohibul juga menyinggung pernyataan Gubernur Bobby Nasution saat melantik pejabat Sekdaprov, yang menekankan pentingnya percepatan program pembangunan daerah, seperti pengentasan kemiskinan, pemberantasan narkoba, dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.
Namun, ia melihat adanya paradoks antara narasi tersebut dengan realitas kebijakan.
"Di satu sisi gubernur berbicara soal akselerasi program dan penyelesaian masalah pembangunan. Tapi di sisi lain, justru terjadi pengisian jabatan strategis yang bersifat sementara dan berlarut-larut," katanya.
Ia menilai kondisi ini berpotensi menghambat konsistensi kebijakan dan efektivitas birokrasi di lingkungan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.
Shohibul menegaskan, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara membutuhkan kepastian dalam kepemimpinan birokrasi, khususnya pada posisi Sekdaprov sebagai motor penggerak administrasi pemerintahan.
"Pertanyaannya sekarang, sampai kapan kegamangan ini akan berakhir? Publik butuh kepastian, bukan kebijakan yang terkesan sementara terus-menerus," pungkasnya.
Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Hampir Setahun Tanpa Sekda Definitif, Posisi Sulaiman Harahap Dipertanyakan
kota
Harkitnas 2026 di Madina, Bupati Saipullah Tegaskan Kebangkitan Digital dan Kemandirian Bangsa
kota
Harkitnas ke118 di Paluta, Wabup Basri Harahap Serukan Perlindungan Generasi Muda di Era Digital
kota
JMSI Tabagsel Gaungkan Semangat Harkitnas 2026, Ucok Rizal Generasi Muda Penentu Kedaulatan Bangsa
kota
Berakhir Duka! Ibu dan Anak Korban Longsor Wek I Batangtoru Ditemukan Meninggal
kota
47 Ibu dari 11 Kecamatan Ikuti KB MOW di RSUD Gunungtua, Wabup Paluta Basri Harahap Bukti Kesadaran Keluarga Sehat Meningkat
kota
Deklarasi Perang Melawan Narkoba Digelar di Wek VI, Kapolsek Batunadua Tegaskan Polisi Siap Bertindak Tegas
kota
Bupati Madina Lantik 166 Pejabat, Saipullah Nasution Jabatan Bukan Hadiah, Tapi Amanah untuk Rakyat
kota
Kabar Baik untuk Petani! Wabup Paluta Basri Harahap Serahkan 100 Ton Benih Padi, Ketahanan Pangan Diperkuat
kota
Wakil Bupati Solok, H. Candra, S.HI.Bertindak Sebagai Inspektur Upacara Hari Kebangkitan Nasional ke118
kota