Anggota DPRD Sumbar Drs. H. Nurfirmanwansyah, Apt., M.M Turun Langsung Bina dan Perkuat UMKM Solok Naik Kelas
Anggota DPRD Sumbar Drs. H. Nurfirmanwansyah, Apt., M.M Turun Langsung Bina dan Perkuat UMKM Solok Naik Kelas
kota
Baca Juga:
Anggota DPRD Sumatera BaratDrs. H. Nurfirmanwansyah, Apt., M.M, dalam Dukung Program Creative Hub Sumbar
, Minggu, 3 Mei 2026 di Jorong Parak Gadang, Nagari Salayo, Kecamatan Kubung Turun Langsung Bina dan Perkuat UMKM Solok Naik Kelas
Pagi itu udara masih menyisakan embun tipis yang menggantung di pucuk-pucuk daun. Namun denyut kehidupan telah bergerak lebih cepat dari biasanya. Di dapur-dapur sederhana, wajan besar mulai dipanaskan, aroma kerupuk jangek yang digoreng perlahan menyatu dengan semangat para pelaku usaha kecil yang tak pernah benar-benar kecil dalam arti sesungguhnya.
Kehadiran Nurfirmanwansyah pagi itu bukan sekadar kunjungan seremonial yang biasa terjadi dalam kalender politik. Ia datang bukan dengan bahasa kekuasaan, tetapi dengan bahasa keberpihakan. Tidak berdiri di podium tinggi, melainkan berjalan di lorong-lorong produksi, menyapa langsung tangan-tangan yang setiap hari menghidupkan ekonomi keluarga.
Beberapa hari sebelumnya, tepatnya 29–30 April 2026, ia baru saja menginisiasi pelatihan "UMKM Naik Kelas Berbasis AI" di Alahan Panjang Resort melalui alokasi dana pokok pikirannya. Sebuah langkah yang tidak hanya menjawab kebutuhan hari ini, tetapi juga menyiapkan masa depan. Namun bagi Nurfirmanwansyah, pelatihan saja tidak cukup. Ia memahami satu hal yang sering luput dari banyak kebijakan: perubahan tidak pernah selesai di ruang seminar.
Seringkali program pemberdayaan berhenti pada jargon. Kata "naik kelas" menjadi indah di atas kertas, tetapi terasa jauh di lapangan. Namun pendekatan yang dilakukan Nurfirmanwansyah justru mengambil jalur yang berbeda lebih sunyi, tetapi lebih berdampak.
Nurfirmanwansyah, mendatangi langsung pelaku UMKM usaha ikan bilih milik Esi, kerupuk jangek, hingga kerupuk ubi yang telah lama menjadi bagian dari identitas ekonomi lokal di Nagari Salayo.
Dia tidak hanya melihat produk. Ia melihat proses. Ia tidak hanya berbicara soal pasar. Ia berbicara tentang keberlanjutan. "UMKM bukan sekadar usaha kecil. Ia adalah denyut nadi ekonomi kita. Ia adalah tulang punggung keluarga," ujarnya dengan nada tenang, namun sarat makna.
Pernyataan itu bukan sekadar retorika, kehadiran hadir dengan solusi konkret, dalam kunjungan tersebut, sejumlah bantuan diberikan secara langsung kepada pelaku usaha. Etalase untuk mempercantik tampilan produk, freezer untuk menjaga kualitas bahan baku, kulkas untuk penyimpanan, hingga softcase sebagai bagian dari penguatan packaging produk.
Bantuan ini mungkin terlihat sederhana bagi sebagian orang. Namun bagi pelaku UMKM, ini adalah lompatan besar karena dalam dunia usaha kecil, satu alat tambahan bisa berarti peningkatan kapasitas produksi. Satu perbaikan tampilan bisa berarti naiknya nilai jual. Dan satu sentuhan perhatian bisa berarti tumbuhnya kembali harapan.
Nurfirmanwansyah memahami itu, ia tidak berbicara tentang angka besar tanpa menyentuh kebutuhan kecil. Ia tidak menjanjikan hal yang jauh tanpa menyelesaikan yang dekat.
Dikatakannya di tengah arus globalisasi dan percepatan teknologi, UMKM hari ini berada di persimpangan. Bertahan dengan cara lama atau beradaptasi dengan dunia baru.
Dan di sinilah urgensi program Creative Hub Sumatera Barat menjadi relevan. Program yang diusung oleh pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur Mahyeldi–Vasco ini bukan sekadar branding pembangunan, tetapi sebuah arah baru: bagaimana ekonomi lokal bisa tumbuh dengan sentuhan kreativitas dan teknologi.
Nurfirmanwansyah membaca arah itu dengan tajam, menurutnya, zaman telah berubah. Pola konsumsi berubah. Cara pemasaran berubah. Bahkan cara orang percaya terhadap sebuah produk pun ikut berubah.
"Sekarang ini bukan hanya soal produksi. Tapi bagaimana menjual, bagaimana membangun kepercayaan, bagaimana memanfaatkan teknologi. Bahkan hari ini kita sudah bicara AI," katanya.
AI yang dulu terasa jauh kini perlahan menjadi alat kerja baru. Dan bagi UMKM yang mau belajar, ini bukan ancaman, melainkan peluang.
Esi, salah satu pelaku UMKM yang menerima bantuan, menyampaikan rasa harunya dengan mata yang tak bisa menyembunyikan kelegaan.
"Terima kasih banyak kepada bapak. Kehadiran ini bagi kami seperti sitawa sidingin," ucapnya lirih.
Dalam budaya Minangkabau, "sitawa sidingin" bukan sekadar ungkapan. Ia adalah simbol penyejuk hati, penawar lelah, dan penguat semangat dan itulah yang dirasakan para pelaku UMKM hari itu.
Mereka tidak hanya menerima bantuan. Mereka merasa dilihat. Mereka merasa diperhatikan. Mereka merasa tidak sendirian.
Program seperti ini tidak boleh berhenti pada satu titik. Karena membangun UMKM bukan pekerjaan satu hari, bukan pula satu periode. Ia adalah proses panjang yang membutuhkan konsistensi.
Apakah program ini akan terus berlanjut?
Apakah pendampingan akan tetap ada setelah bantuan diberikan?
Apakah UMKM benar-benar akan dibawa naik kelas, atau hanya berhenti di narasi?
Pertanyaan-pertanyaan ini penting. Bukan untuk meragukan, tetapi untuk memastikan.
Karena sejarah telah mengajarkan kita, banyak program bagus lahir. Tapi hanya sedikit yang bertahan.
Langkah yang dilakukan Nurfirmanwansyah hari ini patut diapresiasi. Ia tidak hanya hadir sebagai legislator, tetapi juga sebagai fasilitator perubahan.
Namun publik tentu berharap lebih dari sekadar langkah awal, mereka ingin melihat ekosistem.
Mereka ingin melihat kesinambungan, mereka ingin melihat dampak jangka panjang.
Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukan pada seberapa banyak bantuan disalurkan, tetapi seberapa banyak UMKM yang benar-benar tumbuh mandiri.
Dari Nagari ke Dunia Apa yang terjadi di Jorong Parak Gadang hari itu mungkin terlihat kecil dalam skala nasional. Namun jika dilakukan secara konsisten, inilah fondasi menuju Indonesia Emas 2045.
Karena bangsa besar tidak dibangun dari kota besar saja. Ia dibangun dari nagari, dari desa, dari tempat-tempat seperti Salayo.
Dari dapur sederhana,dari tangan-tangan yang bekerja tanpa banyak bicara, dari orang-orang yang tidak pernah berhenti berharap.
Dan ketika negara hadir melalui kebijakan, melalui program, melalui kepedulian maka harapan itu akan menemukan jalannya.
Ada satu pelajaran penting dari peristiwa ini: kebijakan yang baik bukan hanya yang terdengar hebat, tetapi yang terasa dekat. Kehadiran Nurfirmanwansyah di tengah pelaku UMKM adalah contoh bahwa pembangunan tidak selalu harus megah. Ia bisa sederhana, asalkan tepat sasaran.
Dan mungkin, di tengah segala hiruk pikuk politik dan pembangunan, yang paling dibutuhkan masyarakat bukanlah janji besar, Melainkan perhatian yang nyata. Karena pada akhirnya, ekonomi bukan hanya tentang angka. Ia tentang manusia. Tentang harapan. Tentang keberanian untuk terus bertahan.(YOSE)
Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Anggota DPRD Sumbar Drs. H. Nurfirmanwansyah, Apt., M.M Turun Langsung Bina dan Perkuat UMKM Solok Naik Kelas
kota
Walikota menghadiri peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) 2026
kota
Sekda pembina upacara peringatan Hardiknas Tahun 2026, di UPTD mengenakan pakaian adat Simalungun
kota
sumut24.co TANJUNGBALAI, Wali Kota Tanjungbalai Mahyaruddin Salim bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) melepas keberangkat
News
Brimob Polda Sumut Perkuat Patroli Skala Besar di Belawan, Situasi Kamtibmas Kondusif
kota
Medan sumut24.co Satuan Reserse Narkoba Polrestabes Medan, Minggu (3/5/2026) malam sergap seorang pengedar narkotika jenis sabu, yang kera
Hukum
KREDIBILITAS DPRDSU DIPERTANYAKAN"
kota
sumut24.co MedanMemperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2 Mei 2026, Ketua Komisi II DPRD Kota Medan, H. Kasman bin Marasakti Lub
kota
sumut24.co MedanPeringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun 2026 di Kota Medan menjadi momentum refleksi penting bagi seluruh pe
kota
sumut24.co MedanKomitmen Pemko Medan dibawah kepemimpinan Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas dan Wakil Wali Kota H Zakiyuddin Haraha
kota