Zakiyuddin Harahap Sambut Peserta APEKSI 2026, Ajak Nikmati Keramahan dan Kuliner Kota Medan
Zakiyuddin Harahap Sambut Peserta APEKSI 2026, Ajak Nikmati Keramahan dan Kuliner Kota Medan
kota
Baca Juga:
Medan - Indonesia tidak cukup hanya dipimpin oleh orang-orang berilmu pengetahuan tinggi. Bangsa sebesar ini, dengan keragaman suku, agama, budaya, serta kompleksitas persoalan sosial, ekonomi, dan politik, justru membutuhkan sesuatu yang lebih mendasar: kepemimpinan yang berakhlak, bermoral, dan berlandaskan budi pekerti luhur.
Ilmu tanpa akhlak berpotensi melahirkan kecerdasan yang dingin, bahkan berbahaya. Sejarah telah banyak membuktikan, betapa kecerdasan tanpa nurani kerap menjadi alat pembenaran bagi keserakahan, penyalahgunaan kekuasaan, dan praktik-praktik kotor yang merugikan rakyat. Karena itu, kepemimpinan sejati tidak hanya diukur dari gelar akademik atau kecakapan teknokratis, melainkan dari integritas moral dan keteladanan sikap hidup.
Syahrir Nst menegaskan, kepemimpinan suatu negara—terlebih Indonesia—harus dilandasi akhlakul karimah. Memimpin bangsa ini berarti memimpin dengan hati nurani yang bersih, menjauhkan diri dari kepentingan nafsu duniawi, serta bebas dari motif-motif tersembunyi yang mengorbankan kepentingan rakyat. Kepemimpinan yang berakhlak adalah kepemimpinan yang jujur, tulus, dan ikhlas dalam pengabdian.
Akhlak itu sendiri lahir dari iman yang jujur dan bersih. Iman yang tidak dimanipulasi oleh ambisi kekuasaan, tidak dicemari oleh transaksi politik gelap, dan tidak tunduk pada kepentingan sesaat. Dari iman itulah tumbuh keberanian untuk berlaku adil, bersikap tegas terhadap kezaliman, dan konsisten membela kebenaran meski penuh risiko.
Lebih jauh, kepemimpinan yang ideal adalah kepemimpinan yang menghadirkan Tuhan dalam setiap keputusan. Bukan sekadar simbol atau jargon religius, melainkan kesadaran bahwa kekuasaan adalah amanah, dan setiap kebijakan akan dipertanggungjawabkan, bukan hanya di hadapan rakyat, tetapi juga di hadapan Allah SWT. Kesadaran inilah yang melahirkan rasa tanggung jawab untuk mengayomi seluruh makhluk ciptaan Tuhan—manusia, hewan, dan alam semesta.
Indonesia hari ini tidak kekurangan orang pintar. Namun, bangsa ini masih merindukan pemimpin yang bersih hatinya, lurus niatnya, dan kuat akhlaknya. Pemimpin yang tidak menjadikan jabatan sebagai alat memperkaya diri dan kelompok, tetapi sebagai sarana ibadah dan pengabdian.
Pada akhirnya, masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh kualitas moral para pemimpinnya. Sebab hanya dengan kepemimpinan yang berilmu dan berakhlak, negeri ini dapat melangkah menuju keadilan, kesejahteraan, dan keberkahan yang hakiki.red
Zakiyuddin Harahap Sambut Peserta APEKSI 2026, Ajak Nikmati Keramahan dan Kuliner Kota Medan
kota
sumut24.co Medan, Wakil Wali Kota Medan, H. Zakiyuddin Harahap, mengucapkan selamat datang kepada seluruh tamu pemerintah kota dari berbaga
kota
Semangat &lsquoTampakna do Rantosna&rsquo, Rahudman Harahap Ajak Alumni SMAN 2 Perkuat Solidaritas Menuju Sumut Berkah
kota
Modus Checkin HotelSindikat Curanmor Sikat CRF di Parkiran
kota
GM Geopark Kaldera Toba Geopark Harus Menjadi Instrumen Pemberdayaan Masyarakat
kota
Bank Sumut Luncurkan QResto, Inovasi Digital Bersama Pemkab Deli Serdang untuk Optimalkan Pajak Daerah
kota
Sutrisno Pangaribuan Tuduhan Aksi Mahasiswa Dibayar Hanya Upaya Memecah Gerakan
kota
Strategi Komunikasi Pemerintah Menjaga Narasi, Menjaga Kepercayaan Publik
kota
Pabrik Sepatu Yumeida di Purwodadi Sunggal Terbakar
kota
Taekwondo Championship Sumut 2026 Digelar, Bidik Bibit Atlet Menuju Asian Championship dan Porprov
kota