Tobat Ekologis dari Kampus: Membaca Darurat Sampah Indonesia
Tobat Ekologis dari Kampus Membaca Darurat Sampah Indonesia
kota
Baca Juga:
Syahrir menilai, lenyapnya sebuah negara dari peta dunia bukan semata disebabkan faktor eksternal, namun berawal dari bobroknya pengelolaan internal, melemahnya moral, dan runtuhnya integritas para penyelenggara negara. "Hancur atau lenyapnya suatu negara diawali dari rusaknya tatanan pengelolaan negara tersebut serta porak-porandanya pendidikan masyarakat, terlebih di perguruan tinggi," ujarnya.
Momentum Hari Guru Nasional, menurutnya, justru menjadi pengingat bahwa para pengelola pendidikan—baik guru maupun dosen—sedang menghadapi krisis moral yang sangat mengkhawatirkan. Syahrir menyebut, apa yang terjadi di dunia pendidikan saat ini tidak lagi sekadar persoalan teknis, melainkan masalah karakter dan integritas yang tergerus.
USU Disorot: Dugaan Intervensi Politik dalam Pemilihan Rektor
Lebih jauh, Syahrir menyinggung kondisi dunia pendidikan tinggi yang tengah menjadi sorotan publik, khususnya di Universitas Sumatera Utara (USU). Ia menyebut, proses pemilihan rektor yang belakangan ini berlangsung di USU tampak tidak steril dari intervensi eksternal.
"Sudah sama-sama kita lihat, belakangan ini USU menjadi sorotan masyarakat. Pemilihan rektornya seakan diintervensi pihak luar pendidikan yang memaksakan kehendak demi tujuan politik tertentu, untuk mendominasi dunia kampus. Kampus hendak dijadikan laboratorium politik oleh pihak yang sedang berkuasa," tegasnya.
Syahrir mengingatkan bahwa Undang-Undang Pendidikan Tinggi serta Statuta USU secara tegas melarang adanya campur tangan pihak luar yang tidak memiliki dasar legal maupun akademik dalam menentukan arah perguruan tinggi.
"UU Pendidikan Tinggi dan Statuta USU tidak membolehkan aturan-aturan di luar ketentuan pendidikan tinggi serta peraturan statuta yang mengikat dan wajib dipatuhi. Namun apa lacur yang terjadi?" ujarnya menambahkan.
Peringatan untuk Penyelenggara Pendidikan
Syahrir Nst menutup pernyataannya dengan mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk kembali kepada marwah pendidikan. Menurutnya, jika moral pendidik dan pengelola pendidikan telah rusak, maka tidak ada lagi pondasi yang dapat menjaga tegaknya sebuah bangsa.
"Moral pendidik adalah benteng terakhir sebuah peradaban. Jika itu runtuh, maka negara akan menyusul," tandasnya.
Pernyataannya menjadi refleksi keras bagi dunia pendidikan Indonesia, sekaligus alarm bahwa degradasi moral di lingkungan akademik dapat berdampak pada kehancuran bangsa secara keseluruhan.red
Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Tobat Ekologis dari Kampus Membaca Darurat Sampah Indonesia
kota
Hadiri Syukuran Hari Bhayangkara ke80, Bupati Simalungun Kolaborasi yang Solid Akan Memperkuat Stabilitas Daerah
kota
Wali Kota menghadiri dan mengikuti Upacara Peringatan HUT ke43 Kota Medan
kota
MEDAN, Wakil Wali Kota Medan, H. Zakiyuddin Harahap, menyampaikan ucapan selamat dan sukses kepada Irjen Pol. Dr. Mahmud Nazly Harahap,
News
Balitbang Golkar Gelar Diskusi dan Bedah Buku Revolusi Iran Karya Dr. Nasir Tamara
kota
Dituding Sewenangwenang, Eksepsi Nenek Marlina Ungkap Dakwaan Jaksa Diduga Hasil "Potong Kompas"
kota
DJ Wong Laporkan Akun Pencemaran Nama Baiknya ke Polda Sumut
Kota
Polrestabes Medan Amankan Seorang Tersangka Pengedar Narkoba 9,4 Kg Barang Bukti di Sita.
kota
sumut24.co MedanRakernas Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) XVIII Tahun 2026 di Medan tak hanya bahas kebijakan pembangun
kota
Polda Sumut Raih Nugraha Sakanti di Hari Bhayangkara ke80, Kapolda Terima Langsung dari Presiden
kota