KUA Serba Jadi Rutin Gelar Apel Pagi, Perkuat Disiplin dan Kualitas Pelayanan
Sergai sumut24.co Dalam upaya meningkatkan kedisiplinan serta kualitas pelayanan kepada masyarakat, Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Se
News
Baca Juga:
Syahrir menilai, lenyapnya sebuah negara dari peta dunia bukan semata disebabkan faktor eksternal, namun berawal dari bobroknya pengelolaan internal, melemahnya moral, dan runtuhnya integritas para penyelenggara negara. "Hancur atau lenyapnya suatu negara diawali dari rusaknya tatanan pengelolaan negara tersebut serta porak-porandanya pendidikan masyarakat, terlebih di perguruan tinggi," ujarnya.
Momentum Hari Guru Nasional, menurutnya, justru menjadi pengingat bahwa para pengelola pendidikan—baik guru maupun dosen—sedang menghadapi krisis moral yang sangat mengkhawatirkan. Syahrir menyebut, apa yang terjadi di dunia pendidikan saat ini tidak lagi sekadar persoalan teknis, melainkan masalah karakter dan integritas yang tergerus.
USU Disorot: Dugaan Intervensi Politik dalam Pemilihan Rektor
Lebih jauh, Syahrir menyinggung kondisi dunia pendidikan tinggi yang tengah menjadi sorotan publik, khususnya di Universitas Sumatera Utara (USU). Ia menyebut, proses pemilihan rektor yang belakangan ini berlangsung di USU tampak tidak steril dari intervensi eksternal.
"Sudah sama-sama kita lihat, belakangan ini USU menjadi sorotan masyarakat. Pemilihan rektornya seakan diintervensi pihak luar pendidikan yang memaksakan kehendak demi tujuan politik tertentu, untuk mendominasi dunia kampus. Kampus hendak dijadikan laboratorium politik oleh pihak yang sedang berkuasa," tegasnya.
Syahrir mengingatkan bahwa Undang-Undang Pendidikan Tinggi serta Statuta USU secara tegas melarang adanya campur tangan pihak luar yang tidak memiliki dasar legal maupun akademik dalam menentukan arah perguruan tinggi.
"UU Pendidikan Tinggi dan Statuta USU tidak membolehkan aturan-aturan di luar ketentuan pendidikan tinggi serta peraturan statuta yang mengikat dan wajib dipatuhi. Namun apa lacur yang terjadi?" ujarnya menambahkan.
Peringatan untuk Penyelenggara Pendidikan
Syahrir Nst menutup pernyataannya dengan mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk kembali kepada marwah pendidikan. Menurutnya, jika moral pendidik dan pengelola pendidikan telah rusak, maka tidak ada lagi pondasi yang dapat menjaga tegaknya sebuah bangsa.
"Moral pendidik adalah benteng terakhir sebuah peradaban. Jika itu runtuh, maka negara akan menyusul," tandasnya.
Pernyataannya menjadi refleksi keras bagi dunia pendidikan Indonesia, sekaligus alarm bahwa degradasi moral di lingkungan akademik dapat berdampak pada kehancuran bangsa secara keseluruhan.red
Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Sergai sumut24.co Dalam upaya meningkatkan kedisiplinan serta kualitas pelayanan kepada masyarakat, Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Se
News
Pelantikan DPD IKANAS Sumut 2025&ndash2030 Berlangsung Sukses di Medan, Erwan Nasution Terima Kasih Kepada Semua Pihak Berpartisipasi
kota
Hardiknas 2026 Bupati Padang Lawas Serahkan Santunan dan Penghargaan untuk Tokoh Pendidikan, Ini Pesan Tegasnya!
kota
Libur Akhir Pekan Aman, Polsek Sosa Gelar Patroli di Lokasi Wisata Favorit
kota
Hardiknas 2026 di Madina, Wabup Atika Tekankan Pendidikan Berbasis Karakter dan Kearifan Lokal
kota
351 Jemaah Haji Padangsidimpuan Dilepas Haru, Wali Kota Doakan Pulang Jadi Haji Mabrur
kota
sumut24.co Perbaungan, Kepala Dinas Pemuda Olahraga Pariwisata dan Kebudayaan (Disporaparbud) Serdang Bedagai Achyar SH. MSP menerima Audie
News
Kami Mau Keadilan!&rdquo Tangisan Ibu Bhayangkari Guncang DPRD Kota Padangsidimpuan
kota
Diguncang Kasus Kader Dugaan Penipuan, PDIP Padangsidimpuann Maaf dan Tegaskan Tak Intervensi Hukum
kota
Gasak Korban Saat Mau Salat Subuh, "Kapten" Diciduk Polres Padangsidimpuan
kota