Stadion Sangnaualuh Telan Rp29,4 Miliar, DPRD Pertanyakan Efektivitas Anggaran
Stadion Sangnaualuh Telan Rp29,4 Miliar, DPRD Pertanyakan Efektivitas Anggaran
News
Baca Juga:
Sejak pukul 03.00 dinihari kami sudah berada di check-in counter Air Koryo di Terminal 2 BCIA. Pesawat Antonov AN148-100B yang dioperasikan Air Koryo tinggal landas dari Beijing Capital International Airport (BCIA) persis pukul 06.21 pagi, Selasa, 7 Oktober 2025.
Setelah terbang selama hampir dua jam Antonov mendarat mulus di Bandara Kim Il Sung.
Kedutaan Besar RRD Korea di Jakarta yang saya hubungi malam sebelumnya mengatakan penerbangan pagi tadi adalah penerbangan tambahan untuk membawa tamu yang akan menghadiri peringatan HUT ke-80 Partai Pekerja Korea tanggal 10 Oktober nanti.
Dalam perjalanan dari Bandara Kim Il Sung menuju Hotel Koryo di pusat kota, kami melewati Kim Il Sung Square. Di sana ribuan anak Korea berbagai usia sedang berlatih untuk tampil dalam puncak perayaan HUT ke-80 Partai Pekerja Korea. Berbaris rapi mengenakan topi putih, mereka membawa bendera merah dan mengibaskannya ke udara.
Saya kira, RRD Korea juga sedang menyiapkam parade militer yang seperti biasa akan berlangsung megah dan kolosal.
Saya sedang bersiap-siap untuk membandingkan parade militer itu dengan beberapa parade militer yang kita saksikan belakangan ini. Seperti parade militer Bastille Day di Paris pertengahan Juli, lalu parade militer 80 tahun berakhirnya Perang Dunia Kedua di Beijing awal September, dan parade militer HUT ke-80 TNI di Silang Monas tanggal 5 Oktober kemarin.
Tapi menurut Mr. Kim yang mendampingi kami kali ini, aktivitas di puncak acara peringatan HUT ke-80 Partai Pekerja belum bisa dipastikan. Seperti biasa, pemberitahuannya baru akan disampaikan di saat-saat terakhir. Bila malam menjelang hari H ada telepon yang meminta kami tidak membawa apa pun di kantong, berarti akan ada parade militer, dan Presiden Kim Jong Un akan hadir.
Jadi kita tunggu saja.
***
Setelah makan siang, kegiatan pertama kami adalah mengunjungi rumah kelahiran Kim Il Sung di Mayongdae. Di era Joseon, Mayongdae yang indah adalah kawasan elit tempat keluarga kaya raya membangun vila juga kuburan keluarga.
Pada 1862, kakek dan nenek Kim Il Sung mulai menetap di Mayongdae, bukan sebagai keluarga kaya yang memiliki vila mewah, tetapi sebagai penjaga pemakaman keluarga kaya di sana.
Kim Il Sung lahir tahun 1912. Di tempat itu dia belajar arti hidup di bawah penjajahan bangsa asing, yakni Jepang yang sejak akhir abad ke-20 telah menguasai seluruh Semenanjung Korea dan membubarkan Dinasti Joseon.
Untuk memulai perlawanan terhadap Jepang, Kim Il Sung dibekali kakeknya dua pucuk pistol.
Pemerintah Korea Utara merawat dengan baik rumah kakek dan nenek Kim Il Sung di Mayongdae. Perabotan rumah, meja dan berbagai alat pertukangan dan pertanian, juga alat memasak masih terpelihara. Begitu juga "gentong cacat" yang dibeli nenek Kim Il Sung karena harganya murah.
Sebuah prasasti ditempatkan di dekat sebatang pohon. Saya tanya guide yang mendampingi kami kali ini. Katanya, prasasti itu bercerita tentang bocah Kim Il Sung yang memanjat pohon untuk menangkap pelangi.
Tak jauh dari "rumah revolusi" ada sumur yang konon airnya berkhasiat membuat muda siapapun yang meminumnya. Kami jajal khasiat air sumur itu.
***
Di lobi Hotel Koryo saya bertemu dengan KUAI KBRI Pyongyang, Riza H. Wardhana yang sedang menerima rombongan Kementerian Luar Negeri RI yang tiba dengan penerbangan kedua dari Beijing.
Rombongan Kemlu ini adalah tim pendahulu untuk menyambut Menteri Luar Negeri Sugiono yang akan menghadiri puncak peringatan HUT ke-80 Partai Pekerja Korea.
Seorang teman mengatakan, Menlu Sugiono hadir dalam kapasitas sebagai Sekjen Partai Gerindra. Juga disebutkan pemimpin partai penguasa sejumlah negara juga akan hadir dalam peringatan HUT Partai Pekerja Korea.
Partai Pekerja Korea terbilang unik. Sebagai partai marxis, Partai Pekerja Korea tidak hanya mengakui unsur palu dan clurit, tapi juga memberi tempat terhormat pada unsur kuas atau pena yang melambangkan kelas intelektual di tengah masyarakat.
Dengan demikian, dapat kita simpulkan bahwa revolusi Korea Utara berjalan di atas tiga pondasi ini: kelompok buruh, kelompok tani, dan kelompok intelektual. Rel
Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Stadion Sangnaualuh Telan Rp29,4 Miliar, DPRD Pertanyakan Efektivitas Anggaran
News
BAKOPAM Sumut Gelar Jumat Berkah, Salurkan Sembako untuk Warga Medan Area
News
Coe Sumut24 Group Anto Genk Ucapkan Selamat atas Pelantikan Letjen TNI Richard Taruli Horja Tampubolon sebagai Wamenhan RI
News
CEO Media Sumut24 Group Rianto, SH, MH, Sampaikan Selamat atas Pelantikan Mayjen TNI Kristomei Sianturi sebagai Kepala BNPB RI
News
Percepat Pemulihan Bencana Aceh, Kemendagri Guyur Puluhan Ekskavator dan Dump Truck ke Bireuen hingga Pidie Jaya
News
Kabut Asap Makin Mengkhawatirkan, Disdik Sumut Berlakukan PJJ 16&ndash21 Oktober 2026
News
Kabut Asap Masuk Sumut,Bobby Nasution Imbau Pembelajaran Jarak Jauh dan Minta Kepala Daerah Pantau Kualitas Udara
kota
sumut24.co ASAHAN, Aktivitas pertambangan Galian C yang beroperasi di wilayah Kecamatan Setia Janji, Kabupaten Asahan, kembali menjadi soro
News
Dua Spesialis Curanmor di Jalan Gurila Diberi Tindakan Tegas Terukur
kota
Temui Majelis Taklim Halimah, Kapolda Sumut Ajak Masyarakat Bersinergi Jaga Kamtibmas
News