Rabu, 28 Januari 2026

Petani dan Konsumen Menunggu, JASKOP Jangan Jadi Proyek Pencitraan

Administrator - Kamis, 18 September 2025 20:42 WIB
Petani dan Konsumen Menunggu, JASKOP Jangan Jadi Proyek Pencitraan
Istimewa
Baca Juga:

MEDAN, - Program Jaminan Stabilitas Komoditas Pangan (JASKOP) yang digagas Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut) dinilai harus punya target yang jelas dalam menekan laju inflasi pangan.

Tanpa indikator keberhasilan yang terukur, program ini dikhawatirkan hanya sebatas jargon politik yang tidak menyentuh persoalan harga di pasar.

Asisten Ekonomi Pembangunan Pemprov Sumut, Effendy Pohan, menegaskan bahwa komoditas pangan harus dijaga dari hulu ke hilir.

Menurutnya, pemerintah hadir untuk memastikan hasil produksi petani terserap, didistribusikan dengan baik, dan tidak menimbulkan gejolak harga yang berpotensi memicu inflasi maupun deflasi.

"Harapan kita dengan Jaskop ini, kita bisa menjaga harga petani dan distribusi produksi di Sumut. Pemerintah provinsi hadir untuk menjamin itu semua, agar tidak ada gejolak harga," ujar Effendy dalam paparannya, di Kantor Gubernur Sumut, Kamis (18/9).

Ia menekankan, pangan merupakan isu strategis yang sejak awal sudah menjadi bagian dari visi misi Gubernur Sumut dalam RPJMD.

Karena itu, sejumlah program telah dicanangkan sejak Agustus 2025, mulai dari pembentukan tim khusus pengendali harga, pembangunan Solar Dryer Dome (SDD), hingga regulasi Harga Eceran Tertinggi (HET) cabai merah.

Namun, Effendy mengakui pemerintah tidak bisa sepenuhnya mengendalikan harga di pasar.

"Terus terang pemerintah tidak bisa mengendalikan semua ini, jangan di Sei Sikambing, Pasar Senin pun tidak bisa dikendalikan. Ini hukum pasar. Tapi dari lingkup petani, itu yang bisa kita kendalikan," jelasnya.

Program Jaskop saat ini melibatkan enam stakeholder besar, yakni Dirga Surya, Mitra Inti, Indomaret, Alfamart, Brastagi, dan Bumi Rempah. Selain itu, kontrak farming dengan 10 kelompok tani juga mulai dijalankan.

Satu di antaranya telah berjalan di Batubara oleh PPN, sementara sembilan lainnya akan difasilitasi pemerintah provinsi.

Meski begitu, publik masih meragukan efektivitasnya. Pasalnya, program baru dimulai pada Agustus dengan waktu yang relatif singkat untuk menunjukkan hasil. Jika target penurunan inflasi tidak dicapai, program ini rawan dianggap hanya pencitraan.

Effendy sendiri menyebut, tahun depan 10 kelompok tani tersebut akan dievaluasi dan bisa menjadi induk bagi kelompok lain. Namun, ia belum menjelaskan indikator apa yang digunakan untuk menilai keberhasilan mereka.

"Tidak perlu disusun tiap tahun, nanti kelompok ini bisa jadi induk bagi yang lain," katanya.red2

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Editor
: Ismail Nasution
Sumber
:
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Pasar Modal Syariah, Investasi Produktif, Bukan Ajang Spekulasi
Ekonomi Biru Mandek di Daerah, JMSI Dorong Media Lokal Jadi Pengungkit
Great Institute: Fondasi Ekonomi Nasional Kuat, Indonesia Siap Melangkah Lebih Jauh
Ketahanan Sektor Keuangan Indonesia 2026, IHSG Cetak Rekor dan Perbankan Semakin Solid
Pemkab Madina Turunkan Excavator, Saipullah Nasution Tinjau Lokasi "Percepat Normalisasi Sungai Demi Sawah Petani Panyabungan Barat"
DIBUTUHKAN: KREDIBILITAS EKONOMI RUPIAH, BUKAN SEKADAR MENGHILANGKAN TIGA ANGKA NOL
komentar
beritaTerbaru