8 PMI Gagal Bekerja di Malaysia, Nakhoda dan ABK Kapal Diamankan
8 PMI Gagal Bekerja di Malaysia, Nakhoda dan ABK Kapal Diamankan
kota
Baca Juga:
Presidium Kongres Rakyat Nasional (Kornas) sekaligus Presidium Pergerakan Rakyat Indonesia Makmur Adil (Prima), Sutrisno Pangaribuan, menilai Presiden Prabowo Subianto perlu meminta pertanggungjawaban Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian. Keduanya dinilai lalai dalam menjalankan fungsi pencegahan.
"Pemerintah memiliki perangkat lengkap untuk mengantisipasi setiap dinamika masyarakat, mulai dari Kemendagri, Polri, BIN, BAIS, BSSN, Kementerian Komunikasi dan Digital, hingga Komcad. Namun semua perangkat itu tidak bekerja atau hasil kerjanya diabaikan," tegas Sutrisno dalam keterangan tertulis, Senin (8/9/2025).
Gejolak Berawal dari Pati
Aksi besar-besaran pertama tercatat di Kabupaten Pati, Jawa Tengah pada 10–13 Agustus 2025. Lebih dari 100.000 orang turun ke jalan menolak kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) sebesar 250 persen. Gelombang protes kemudian menjalar ke berbagai daerah seperti Bone, Cirebon, Semarang, hingga Jombang.
Namun, menurut Sutrisno, baik Kemendagri maupun Polri tidak sigap membaca situasi. Padahal Kemendagri memiliki perangkat intelijen melalui Bakesbangpol di daerah, dan Polri melalui intelkam serta Bhabinkamtibmas di desa-desa.
Aksi Nasional Meluas
Puncak amarah massa terjadi setelah pengumuman tunjangan pengganti rumah dinas anggota DPR, ditambah aksi sejumlah anggota dewan yang dianggap melecehkan rakyat. Massa kemudian menyerbu sejumlah rumah pejabat, mulai dari Nafa Urbach, Ahmad Sahroni, Uya Kuya, Eko Patrio hingga Sri Mulyani.
Komnas HAM mencatat adanya dugaan kekerasan aparat dalam aksi tersebut. Pemerintah pun menyebut kerugian negara akibat kerusakan fasilitas umum mencapai Rp950 miliar, belum termasuk biaya pengobatan korban dan biaya operasional aparat.
Tuntutan Mundur
Atas kondisi tersebut, Sutrisno menegaskan Kapolri dan Mendagri seharusnya mengundurkan diri secara gentleman. Jika tidak, Presiden Prabowo diminta memberhentikan keduanya demi penyegaran kabinet dan soliditas pemerintahan.
"Listyo dan Tito terlalu lama menjabat sehingga menimbulkan stagnasi. Jika tidak diberhentikan, Presiden Prabowo akan kehilangan momentum untuk menunjukkan keberanian politiknya," ujarnya.
Ia menegaskan, keberanian Presiden Prabowo mengambil sikap tegas akan menentukan posisi Indonesia di mata dunia. "Apakah kita akan menjadi macan Asia, atau hanya kucing peliharaan yang diberi nama Bobby," tutup Sutrisno.rel
8 PMI Gagal Bekerja di Malaysia, Nakhoda dan ABK Kapal Diamankan
kota
Brimob Polda Sumut All Out Amankan Piala AFF U19 ASEAN Toba 2026
kota
Polda Sumut Bongkar Live TikTok Bermuatan Pornografi, Host Raup Rp5 Juta per Hari
kota
Piala Dunia 2026 Bergulir, Polda Sumut Buka Nobar Gratis untuk Masyarakat hingga Laga Final
kota
DPWAMIN Sumut Bongkar Dugaan Permainan Proyek Rp5 Miliar di Deli Serdang, Kejati Diminta Turun Tangan
Hukum
sumut24.co PRAPAT, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara secara resmi membuka Pekan Inovasi dan Investasi sekaligus mencanangkan pelaksanaan S
News
APBD Kota Padangsidimpuan Belum Menjadi Mesin Pertumbuhan Ekonomi, Saatnya Transformasi FiskalOleh Rusydi Nasution, STP, MM (IPB)Ketua Part
Profil
sumut24.co MedanKabar gembira bagi para pencinta buku dan keluarga di Kota Medan. Menyambut musim libur sekolah, bazar buku internasional
Info
Dapur Indonesia, Pesta Singapura Membongkar Rantai Nilai yang Timpang Oleh Abdullah RasyidMahasiswa Doktoral Ilmu Pemerintahan IPDN dan Pen
Politik
Medan, Kejuaraan Bola Voli MAVI Cup II Korwil Sumatera Utara resmi ditutup di Sport Center GOR Voli, Kamis (11/6/2026), setelah menyajikan l
Sport