Diduga Penempatan Dirut Asal-Asalan, PTPN Terancam Bangkrut

305

Medan I Sumut24.co
Sejarah berdirinya CLUB HOUSE OF THE WITTE SOCIETEIT pada tanggal 19 September 1879 atau yang sekarang terkenal dengan nama MEDAN CLUB sangat berkaitan dengan sejarah tembakau di Deli yang sangat tersohor dengan nama TEMBAKAU DELI. Dan dari sini pulalah terilhami berdirinya beberapa PTPN di Sumatra Utara.

Ditempat yang sejuk lagi asri itu, HN Serta Ginting sekarang duduk di jajaran Guru di dewan guru sabuk hitam Tako Indonesia. Penyandang Dan Vl Karate itu yang juga menggeluti dunia politik plus sekarang sebagai ketua Forum Komunikasi Purnakarya Perkebunan Nusantara ( FKPPN) sehabis latihan bersama dengan anggota sabuk hitam Tako, berkesempatan menyoroti berbagai kepincangan di tubuh PTPN l – XlV kepada Sumut24, Minggu (2/8/2020).

Kinerja manajemen Holding PTPN mendapat sorotan tajamnya, diutarakan Ginting, selaku Purnakarya PTPN III, Ia menghawatirkan dan tidak tertutup kemungkinan dapat mengakibatkan kebangkrutan. Pasalnya perkembangan akhir akhir ini setelah dilakukan Holding PTPN I hingga PTPN XIV diduga kurang maksimal.

“Yang dilakukan Holding diduga kurang maksimal. Tidak tertutup kemungkinan akan berdampak buruk bagi perusahaan perkebunan,” ujar HN Serta Ginting.

Lebih jauh lagi di uraikannya, perusahaan cenderung akan menuju arah kebangkrutan. Bukan sampai disitu tapi pendapatan setiap karyawan juga bakal terancam. Seperti Santunan Hari Tua (SHT) padahal harapan semua karyawan berharap kelak bila setelah pensiun akan mendapatkan SHT. Ini kenyataan tidak ada bahkan rumah sakit pun bakal di hapuskan

Coba bayangkan, kata HN. Serta Ginting seandainya PTPN bangkrut yang ikut korban bukan saja karyawan yang masih dinas akan tetapi semua pensiunan tidak akan menerima gaji. “Lalu kita harus bagaimana, makanya saya terpanggil untuk mengawal perkembangan kinerja para petinggi dan kebijakan Direksi Holding,” tegasnya.

Lahirnya FKPPN ini bukan pesaing dari organisasi Serikat Pekerja yang ada di PTPN. Kita sifatnya hanya membantu. “Kita bekerja tanpa pamrih dan setiap kebijakan Direksi maupun pemerintah bila kita nilai merugikan karyawan kita akan kritisi kita berikan masukan agar kebijakan yang merugikan dapat dianulir sesegera mungkin,” ujarnya dengan nada optimis.

Bila hal itu dibiarkan maka tidak tertutup kemungkinan akan terjadi gejolak karyawan yang akhirnya merugikan PTPN itu sendiri. Kita perhatikan saat ini kami menilai pengangkatan para Direksi sudah tidak sesuai dengan basic. Dahulu yang menjadi Dirut dan para Direksi ya orang dari pekerja yang berada di PTPN itu sendiri.

“Bukan seperti sekarang dari yang sama sekali tidak mempunyai besic bidang perkebunan. Seperti sama sama kita ketahui Dirut PTPN berasal dari orang bank, ini sudah menyalahi dan melanggar hasil rapat para Dirut dan para Direksi. Yang akhirnya seperti sekarang ini, kalau untuk jabatan Derektur ke- uangan mungkin bolelah tuturnya.

“Sudah tidak jelas, kehawatiran kami para Purnakarya yang sangat peduli mengambil sikap untuk menyelamatkan PTPN I sampai XIV. Kita tidak ingin PTPN yang kami sayangi ini ikut dijual kepada swasta justru oleh karena itu kita sepakat membentuk wadah perjuangan yang kami berinama Forum Komunikasi Purnakarya Perkebunan Nusantara atau FKPPN,” ujar HN. Serta Ginting didampingi HS. Wirawan, S.Sos. Haridi, Yamapati Gea, SE, Ir. Abdul Hamid, H. Sopsy Sembiring, BBA, Paijo, M. Nurain, dan Safri Cahyono, SE. M Jamil Sipayung, SH.

Terkait statemen Ketua Umum FKPPN HN. Serta Ginting, Direktur Holding belum dapat dikonfirmasi Sumut 24. (Hari’S).

Loading...