sumut24.co - Medan
Baca Juga:
Udara dingin serta aroma semerbak pohon hutan pinus menyeruak di pagi hari dari Huta Sirungkungon (perkampungan tradisional suku Batak Toba) di pinggiran
Danau Toba. Terlihat seorang wanita paruh baya bernama boru Manurung bersiap-siap naik ke "
solu" (perahu kecil) untuk "
mardoton" (mencari ikan) menggunakan jaring. Berharap akan mendapatkan ikan mujair atau ikan mas, bahkan pora-pora pun tak apa-apa. Yang penting ada, ujarnya.

Foto :Boru Manurung, salah satu nelayan tradisional di kawasan Danau Toba berasal dari Desa Sirungkungon, Kecamatan Ajibata, Kabupaten Toba Sumatera Utara. (Foto. int)
Dari perairan Sirungkungon
Danau Toba, boru Manurung selama mencari ikan merasa ada yang berbeda kurun waktu beberapa tahun ini. Sebagai seorang nelayan tradisional, awalnya ia merasa khawatir melihat semakin keruhnya air danau akibat aktifitas Keramba Jaring Apung (KJA) yang bertebaran liar di area
Danau Toba. Hal tersebut tentu saja menyebabkan penurunan kadar oksigen akibat limbah pakan pada feses ikan keramba yang mencemari air danau. Kerap terjadi kematian ikan secara massal pastinya menurunkan tangkapan ikan endemik seperti ihan Batak. Tak jarang boru Manurung menemukan bangkai ikan mujair mengapung dalam jumlah yang banyak.
Kaldera Toba menyandang status UNESCO Global Geopark melalui capaian Green Card telah melahirkan paradigma baru bidang pelestarian di kawasan pariwisata super prioritas ini. UNESCO membawa tiga pilar utama yang tegas yaitu
geodiversity (keragaman geologi),
biodiversity (keragaman hayati), dan
cultural diversity (keragaman budaya). Di bawah naungan "Green UNESCO", pelestarian identitas Batak kini tidak lagi berdiri sendiri, melainkan bertumpu pada napas konservasi alam.
Sejak
Danau Toba masuk ke jaringan Geopark Dunia UNESCO pada tahun 2020, melalui capaian Green Card, keramba-keramba itu sudah mulai teratur dan mengikuti regulasi konservasi alam, ekosistem dan kualitas air dijaga oleh standar UNESCO Global Geopark. Hal ini membuat populasi ikan endemik dan budidayanya kembali tumbuh optimal.
"Dulu kami merasa dilema akibat kehadiran keramba jaring apung. Satu sisi keramba tersebut memberi keuntungan bagi perekonomian kami dalam jangka waktu cepat. Tapi di sisi lain kami merasa sedih, air danau kami tercemar. Kami para nelayan diingatkan bahwa merusak air Toba sama saja memutus berkat leluhur. Danau kami harus kembali jernih, kembali ke alam", ujar boru Manurung.
Ledakan vulkanik Gunung Toba
Danau Toba adalah sebuah kaldera gunung api yang kejadiannya berhubungan dengan gejala tektonik dan vulkanik (
van Bemmelen, 1949). Diketahui kemudian bahwa
Danau Toba adalah kaldera yang terangkat kembali (
resurgent cauldron) terbesar di dunia. Setelah sebuah letusan sangat besar gunung api Toba terjadi 74.000 tahun yang lalu. Tanahnya amblas, reruntuhan atap dapur magma membentuk cekungan raksasa. Kemudian hujan selama ribuan tahun mengisi cekungan tersebut maka terbentuklah
Danau Toba seluas 62 mil saat terlihat dari luar angkasa. Blok-blok yang runtuh setelah letusan terangkat kembali menjadi Pulau Samosir serta Blok Uluan atau Parapat. Terletak 70 kilometer di sebelah selatan Kota Medan,
Danau Toba dinobatkan menjadi danau terbesar di Asia Tenggara dan termasuk danau terdalam di dunia.
Para peneliti dari Badan antariksa Amerika NASA mengatakan setelah melihat vegetasi tropis yang hidup subur di perbukitan Toba sekarang, sulit membayangkan seluruh mahluk pernah musnah di wilayah tersebut. Kawasan
Danau Toba yang berawal dari bencana kini berganti menjadi anugerah alam urat nadi perekonomian masyarakat
Sumatera Utara. Wilayah ini telah menggerakkan kesejahteraan melalui sektor pariwisata, perikanan air tawar, pertanian lahan subur, dan penyediaan sumber daya air bagi wilayah sekitarnya.
Para pakar geologi menyebut Toba adalah "
Kubah Resurgence" atau "Kebangkitan Kaldera", tetapi para masyarakat lokal tidak menyebutkan demikian. Mereka memberinya nama bernuansa kearifan lokal kental yaitu "Tano Batak atau tanah leluhur. "Diatas luka bumi itu kami menanam kopi, menangkap ikan, memelihara ternak sambil menjaga peninggalan leluhur. Luka itu membawa berkah", ujar Opung Nainggolan yang sudah 70 tahun tinggal di wilayah Desa Ajibata.
Green Card UNESCO, menjaga budaya dalam balutan modernisasi
Pengembangan kawasan Toba Kaldera melalui Badan Pelaksana Otorita
Danau Toba (BPODT) dan Geopark Kaldera Toba memberikan keuntungan langsung dan jangka panjang bagi nelayan
Danau Toba melalui pemberdayaan ekonomi, konservasi ekosistem dan peningkatan infrastruktur.
Diraihnya Green Card UNESCO Global Park pada tahun 2020, kawasan Kaldera Toba secara signifikan telah mengalami peningkatan pariwisata global, menarik lebih banyak wisatawan mancanegara berkat status destinasi yang diakui dunia.
Kampung Ulos berlokasi di Desa Huta Raja, Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara. (Foto.ist)
Pertumbuhan ekonomi masyarakat membuka peluang usaha baru di sektor ekowisata, kuliner dan kerajinan tangan lokal sehingga meningkatkan kesejahteraan warga. Kampung Ulos Desa Hutaraja contohnya telah menjadi kebanggaan masyarakat mengangkat sejarah serta budaya Batak.
Selain itu telah dibangun pusat Konservasi Lingkungan dan Budaya salah satunya Gedung Pusat Informasi Geopark Kaldera Toba berlokasi di Desa Sugalti, Pusuk Buhit yang mampu memperkuat komitmen perlindungan warisan geologi, keanekaragaman hayati, dan budaya setempat dari kerusakan.
"Menjadi sarana edukasi dan penelitian untuk belajar geologi, ekologi, dan kebudayaan bagi pelajar dan akademisi. Status Green Card membuka jejaring internasional, akses kerja sama dan pertukaran pengetahuan dengan jaringan geopark lain di seluruh dunia menjadi targetnya", demikian disampaikan General Manager Badan Pengelola Geopark Kaldera Toba (BP TC-UGGp), Dr. Azizul Kholis.
Pengaruh keterlibatan Green Card UNESCO Global Geopark telah memberikan harapan baru bagi masyarakat di sekeliling kaldera. Harapan yang mengingatkan bahwa walau kehidupan sudah serba digital dan modern tetapi kebudayaan Batak yang dimulai dari sistem kekerabatan "Dalihan Na Tolu" hingga keturunannya tidak dipungkiri lahir dari rahim bumi Toba.
Melalui lembaga BPODT, Geopark Kaldera Toba dan UNESCO bersama-sama menjaga budaya Batak selayaknya menjaga tanah tempatnya berpijak dalam balutan kemodernan.
Menjelang siang, gema petikan hasapi (kecapi Batak) terdengar sayup dari Desa Tomok, sekelompok anak muda telah bersiap menyajikan tortor (tarian khas Batak) dan patung "
Sigale-gale" guna menyambut turis domestik maupun Internasional yang semakin ramai datang berkunjung. Anak muda sekarang bangga memakai ulos, bahkan mereka kerap memamerkannya di media sosial tiktok serta Instagram. Toba telah mendunia !
Sementara itu di pinggiran hulu danau, si boru Manurung pun bersiap-siap akan "
mangaloppa" (memasak) hasil tangkapannya hari ini untuk keluarga. "Walau cuma sedikit, cuma dapat mujair dan ikan red devil, tapi aku senang. Tak mengapa, besok kita usaha lagi", ujarnya.
Kaldera Toba menyadarkan kita bahwa dibalik dahsyatnya bencana alam, terdapat berkah sang Pencipta yang luar biasa. Warisan geologi dan budaya yang kaya raya membawa kesejahteraan penghuninya. "Bumi Toba sudah kasi kita makan sejak ribuan tahun lalu, tugas kitalah harus terus menjaganya, karena kita pewarisnya", ujar boru Manurung seraya menyeruput kopi lintong panasnya. (Laura Silalahi)
Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di
Google News