Senin, 05 Oktober 2026

Hasil Munas Alim Ulama dan Konbes PBNU se Indonesia, Tak Etis Non Muslim Disebut "Kafir"

Administrator - Kamis, 07 Maret 2019 14:11 WIB
Hasil Munas Alim Ulama dan Konbes PBNU se Indonesia, Tak Etis Non Muslim Disebut

MEDAN I SUMUT24.co Pengurus Wilayah (PW) Nahdlatul Ulama (NU) Sumatera Utara, mengklarifikasi terkait menyebar luasnya pengunaan kata Kafir bagi umat non-muslim yang ramai diperbincangkan warga net di media sosial dan lain sebagainya.

Baca Juga:

Wakil Ketua Rais Suriah PW NU Sumut, Abdul Hamid Ritonga angkat bicara, terkait penggunaan kata kafir kepada masyarakat di luar sana selain Islam.

Menurut Abdul Hamid Ritonga, “Bahwa dalam Munas banyak yang dibicarakan, ada 9 point yang dibicarakan. Banyak di surat kabar dan media online, point yang sangat menonjol dalam permasalahan ini ada kata kafir, padahal tidak ada penggunaannya,” kata Abdul Hamid Ritonga, saat menggelar konferensi pers, di Kantor PW NU Sumut didampingi Wakil, Sekretaris PW NU Sumut Hatta Siregar,unsur Pengurus PW NU Maraimbang Daulay, Zulkarnain di Jalan Sei Batanghari, Kota Medan, Kamis (7/3). Menurutnya, Di Munas Alim Ulama dan Konferensi Besar PBNU, di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar, Banjar, Jawa Barat, Kamis (28/2), Ketua PBNU Said Aqil Siraj menyarankan agar warga Negara Indonesia yang beragama non-Muslim tak lagi disebut sebagai kafir, karena tidak etis diantara umat beragama.

Setelah Munas itu selesai, banyak Waga negara di Indonesia ini langsung menyudutkan NU, bahwa selama ini ajarannya sesat. Abdul Hamid Ritonga mengatakan, bahwa apa yang telah terucap oleh sekelompok orang itu tidak benar.

“Ada yang mengatakan bahwa NU sesaat, sampai sejauh mana NU sesat. Karena dalam munas dan konbes tidak ada dibahas masalah akidah. Namun semata-mata demi keutuhan dan kekrukunan antar umat beragama di Indonesia ini, uvapnya. Mungkin kaitannya dengan pemilihan ya,” katanya, yang menyebutkan, bahwa sebagian orang ingin menjatuhkan organisasi Keagamaan besar ini.

Kemudian ia mengatakan, bahwa apa yang telah diucapkan orang banyak diluar sana, itu tidak benar, bahwa NU tidak pernah mengajarkan kesesatan beragama. Selama ini, kata Abdul, NU selalu mengajarkan tentang akidah beragama, yang dilandasi dengan dasar-dasar Pancasila. “Kita bukan negara agama tetapi negara Pancasila,” kata dia.

Lalu, Abdul Hamid Ritonga mengatakan, Tidak ada pembicaraan yang menjerumuskan agama lain pada saat Munas itu digelar. Menurutnya, seluruh rakyat di Indonesia itu sama, tidak boleh ada dikotak-kotakkan dalam menjalin kerukunan beragama.

“Persaudaraan sesama muslim, sesama anak bangsa, kemanusiaan wajib diperlihatkan. Apabila ini dikotak-kotakkan, tidak boleh. Setiap pulau ada umat yang berbeda agama, namun kita semua harus dapat Membela tanah air,” kata dia.

Munas tersebut digelar, untuk membicarakan tentang bagaimana kondisi politik saat ini. Akan tetapi, Abdul Hamid Ritonga mengatakan, masyarakat di Indonesia salah menerjemahkannya. Memang diakuinya ada mengatakan, masyarakat di luar agama Islam itu non-muslim tapi tidak kafir.

“Tidaklah etis kita sesama anak bangsa di bilang kafir. Nu mengharapkan bangsa Indonesia, menyebut di luar muslim adalah non muslim,” katanya.(W03)

Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
SHARE:
beritaTerkait
Pisang Kepok Abu Asahan Hijau Surya Muncul, Bupati Taufik Lakukan Panen Perdana : Siap Didaftarkan Jadi Varietas Unggul Nasional
Hery Subiansauri: TNI Kuat Bersama Rakyat
Gema Santri Nusa dan Majlis Sholawat Akhsa Nusantara Siap Bersinergi dengan Polda Sumut
Andar Amin Harahap Apresiasi Kapolri Baru, Siap Perkuat Sinergi Jaga Stabilitas Negara
Ucapan Selamat Dr. H. Hery Subiansauri atas Amanah Baru Irjen Pol. Arman Achdiat
Jual Narkoba di Pinggir Rel Pria Paruh Baya Diciduk Satresnarkoba Polrestabes Medan
komentar
beritaTerbaru
Kabinet yang Gemuk!!!

Kabinet yang Gemuk!!!

OPINI Ada satu istilah yang pernah begitu melekat pada sosok Prabowo Subianto gemoy. Sebuah citra yang menggambarkan sisi santai, humor

Umum